Bapak pernah menjadi seseorang yang Bara hormati. Punggung kokoh itu pernah menjadi pemandangan Bara di setiap pagi dalam perjalanannya menuju sekolah, dipeluk oleh Bara hingga ia sampai di gerbang sekolah. Lalu Bara diajari naik sepeda, jatuh-bangun, hingga ia bisa berangkat sekolah sendiri. Bapak membelikan sepatu bola ketika Bara tiba-tiba datang padanya suatu hari, mengatakan kalau ia ingin menjadi pemain sepak bola. Meski syaratnya Bara harus mendapat peringkat di kelas dahulu.
Bapak memang tak serta-merta memberi apapun yang Bara minta, namun Bapak selalu mengusahakan. Maka dari itu Bara sayang Bapak.
Bapak pernah menjadi pahlawan di mata Bara.
Hingga sikapnya yang berubah hampir seratus delapan puluh derajat itu membuat Bara tak lagi mengenali Bapak. Lelaki asing yang tiba-tiba gemar bermain tangan setelah kepergian Ibu itu menimbulkan luka dan dendam yang mendalam pada diri Bara. Lelaki itu bukan lagi Bapak. Lelaki yang pernah menjadi pahlawan Bara itu sudah lama pergi dan mati.
Namun belakangan ini ada sisa-sisa keberadaan Bapak yang Bara temui. Lelaki itu sudah tak melayangkan tangannya lagi pada Bara. Lalu kali lain di meja makan ada menu makan malam sederhana, cukup untuk dimakan dua orang. Bara rindu makan sekeluarga di meja makan yang sama. Kali ini cukup bersama Bapak. Meski masih tak ada ucap yang tercipta, meski canggung masih menggantung di udara, namun tidak apa-apa. Bara akhirnya belajar menerima.
Sekali waktu Bara membawa pulang sebungkus makanan untuk Bapak kalau ia sedang makan di luar. Diletakkan saja di atas meja makan. Entah Bapak mau menyentuhnya atau tidak, namun Bara hanya mengembalikan apa yang dilakukan Bapak. Perlakuan kecil seperti ini ternyata membuat hati Bara sedikit damai.
Malam itu Bara membeli sebungkus nasi sayur untuk Bapak ketika ia sedang mampir ke warung bersama Rendra.
“Pesen lagi buat ntar malem?” tanya Rendra ketika mereka selesai makan.
“Nggak, buat Bapak,” jawab Bara seadanya.
Mendengar itu Rendra mengulas senyum. Bara yang menenteng plastik berisi sebungkus makanan untuk ayahnya membuat Rendra sadar bahwa cowok itu kini memiliki sesuatu. Kebesaran hati.
Belajar menerima, belajar berdamai dengan keadaan. Tak hanya menerima keputusan Rendra tempo hari, Bara juga belajar berbesar hati untuk mencipta damai dengan Bapak. Salah satu dari dua kepala yang keras itu memang harus melunak dan mundur sejenak agar tak terus berbenturan.
“Lo beliin apa, Bar?”
“Nasi sama sayur lodeh. Lauknya ikan pindang sama tempe mendoan. Gue minta sambel yang banyak soalnya Bapak suka pedes.”
“Beliin minum sekalian. Jahe anget atau apa gitu.”
Bara akhirnya menuruti usul Rendra dan memesan jahe hangat untuk Bapak.
“Nanti gue bilang ke Bapak ini titipan dari Rendra,” ujar Bara.
“Nggak usah, lah. Kan lo yang beli.”
“Biar Bapak gue ngerasa banyak yang merhatiin,” kelakar Bara. “Udah, yuk, balik.”
Mungkin hangat di tangan Rendra itu berasal dari minuman jahe yang dibawa Bara sambil menggenggam tangannya, namun Rendra yakin hangat di hatinya adalah sesuatu yang muncul karena Bara.
ㅡ
Tak pernah Rendra sangka, hari-hari di mana Bara mencurahkan seluruh perhatian padanya tiba. Sepasang mata Bara hanya melihat Rendra, isi kepalanya hanya pikiran tentang Rendra, hatinya hidup untuk Rendra. Sayang semuanya itu belum mampu membuat Rendra mengizinkan Bara untuk memilikinya dengan utuh. Dan Bara harus mau memahami itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pulang
Fanfiction- Pulang. Jika rumah adalah tempat untuk kita berpulang, maka ke manakah Bara harus melangkah? [part of Jejak di Antara Semesta series]
