Waktu kecil Bara melihat bentuk cinta melalui Bapak dan Ibu. Cinta yang hangat, menenangkan, melindungi. Sebelum cinta itu berubah bentuk menjadi sesuatu yang menghancurkan. Lalu mata Bara menyaksikan terlalu banyak pengkhianatan, hatinya merasakan terlalu banyak sayatan. Tumbuhnya Bara ditemani oleh hal-hal yang menjelma kebencian.
Perjalanan Bara mengarungi hidup tak mudah. Namun ada Rendra yang bertahan di sisinya sejak awal. Meski untuk sepersekian momen dalam hidupnya, eksistensi Rendra sempat mengabur dari radar Bara. Tetapi Rendra tidak pernah benar-benar hilang.
Maka ketika Bara akhirnya menyadari bahwa cinta itu bentuknya tak melulu sederhana, bahwa cinta bisa jadi rumit untuk beberapa orang, ia memilih untuk diam sejenak dan memahami. Bara tidak ingin berlari lagi. Jika memang cinta itu miliknya, untuknya, ia tak akan kemana-mana. Dan bagi Bara, itu adalah Rendra.
Belakangan ini keinginan itu muncul lagi. Lebih kuat dari sebelumnya. Padahal Bara tahu kalau mungkin Rendra sudah menolak membuat status di antara keduanya. Namun bagi Bara itu hanya masalah waktu. Bara tahu Rendra menyayanginya, ia pun sama. Seharusnya tak terlalu sulit untuk mewujudkan keinginan untuk bersama.
Sedang Rendra acap kali bingung mengapa Bara tak masalah dengan hubungan mereka seperti ini. Afeksi yang diberikan sudah tak lagi dalam batas seorang sahabat. Baik Bara dan Rendra juga tahu itu. Rendra yakin Bara tidak bodoh atau pura-pura bodoh untuk tak memahami kalau Rendra tidak bisa memenuhi harapan Bara. Mengikat hubungan keduanya dengan jelas.
Tapi masalahnya bukan lagi tentang Aksa, atau karena rasa bersalah Rendra. Hanya saja Rendra tiba-tiba memiliki pemikiran bahwa mungkin hubungannya dengan Bara memang lebih baik seperti ini. Cukup dengan mengetahui keduanya saling menyayangi.
“Lo beneran nggak akan nerima gue kalo gue minta lo jadi pacar gue, Ren?”
Bara terkadang suka iseng menanyakan hal itu. Tapi akhir-akhir ini lebih sering.
“Bar, ini masih pagi. Jangan ngerusak momen sarapan gue, dong,” protes Rendra dengan mulutnya yang penuh.
“Justru karena masih pagi harusnya otak lo masih siap buat diajak diskusi.”
“Diskusi apa, sih?”
“Ya, itu tadi.” Bara menopang kepalanya dengan satu tangan, sengaja memfokuskan perhatiannya pada Rendra yang sibuk mengunyah. “Lo masih kepikiran soal Aksa?”
Kunyahan Rendra memelan hingga akhirnya berhenti total. Disebutnya nama Aksa dari mulut Bara mengusik pikirannya. Jawaban jujur untuk pertanyaan Bara adalah tidak. Rendra tak lagi memikirkan rasa bersalah pada Aksa. Namun ada alasan lain yang membuat Rendra belum bisa menerima Bara.
“Nggak, kok,” balas Rendra kemudian.
“Terus kenapa?”
Kali ini Rendra berusaha memusatkan tatapannya pada Bara sebelum menjawab. “Bar, lo udah tau gue sebenernya suka sama lo dari lama. Lo pasti juga paham angan-angan gue buat bisa sama lo. Tapi setelah semuanya kejadian, gue ngerasa kayak…”
“Kayak lo takut bakal kehilangan semuanya? Like it’s too good to be true to you?” Bara menyambung Rendra yang untuk sesaat tak dapat melanjutkan kalimatnya. Anggukan kepala Rendra mau tak mau membuat dada Bara ngilu.
Pelan Bara mengambil sendok dari tangan Rendra dan menjatuhkannya ke piring sebelum ia meraih tangan cowok itu. Digenggamnya erat sembari Bara berucap.
“Kita udah bareng-bareng berapa tahun, sih, Ren?” Bara mencoba mengingat. “Sepuluh tahun lebih. Bukan waktu yang sebentar. Banyak banget yang udah kita lewatin berdua. Walaupun mungkin bagi lo di rentang waktu itu lebih banyak sakitnya daripada senengnya. Tapi nggak ada yang lebih ngerti gue selain lo, Ren. Termasuk Bintang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Pulang
Fiksi Penggemar- Pulang. Jika rumah adalah tempat untuk kita berpulang, maka ke manakah Bara harus melangkah? [part of Jejak di Antara Semesta series]
