Cyra kedatangan orangtuanya seperti yang diketahui gadis itu dari Abhie mereka datang karena urusan pekerjaan. Bukan hanya tentang bisnis mama juga mengusulkan untuk membuat syukuran di rumah barunya dan Cyra terpaksa menyetujui ide tersebut.
"Undang beberapa tetangga saja."
"Amalia akan mengurusnya."
"Lebih baik kamu sendiri, kamu yang tinggal di sini."
Cyra mengiyakan.
"Lusa acaranya, besok hubungi catering."
Cyra belum berkeluarga merasa tidak penting acara seperti itu lagipula tetangganya juga orang-orang sibuk seperti dirinya jadi mereka tidak akan memiliki waktu untuk berkumpul.
"Minta bantuan Mas-mu." menurut Mikhayla karena Abhie sering ke Semarang putranya itu pasti memiliki banyak kenalan.
"Kalau bisa sore ini, ajak Mas-mu."
Tidak harus Abhie, Amalia juga bisa dimintai bantuan.
"Mama sama Amalia yang beberes."
Padahal ia belum mengutarakan opsinya tapi mama sudah mendahului pikirannya.
"Baik, Ma." Abhie yang menjawab dan Cyra hanya bisa melirik laki-laki itu dengan ujung matanya.
Terakhir yang diketahui Cyra dari grup keluarga Qisti mengusulkan warna fanta untuk seragam pernikahan Abhie dan Cyra tidak perlu membayangkan seperti apa jika dirinya mengenakan dress yang berwarna terang itu. Kini ia sudah keluar dari grup tersebut karena cukup terganggu dengan notifikasi chat yang masuk dari adik-adiknya.
Ia sudah mengatakan kejadian malam itu murni sebuah musibah karena dia dibawah pengaruh alkohol dan menganggap semuanya sudah selesai.
"Kamu tidak senang Mama datang?" tanya Mikhayla ketika hanya tinggal bersama putrinya.
"Aku mengatakannya?" gadis itu balik bertanya. Melihat wajah mama, ingatannya kembali ke malam itu bagaimana kalau mama tahu?
"Wajahmu tidak bersemangat, tapi Mama tidak tersinggung."
"Qisti bertanya seragam nikahan mas Abhie."
"Terus, kamu marah adikmu meminta pendapatmu?"
"Bukan itu."
Cyra berdeham nama gerakan maksudnya. "Aku tidak tahu pertemuan itu sekalian dengan lamaran, jadi aku tidak mendengar tanggal pernikahan mereka."
"Kamu ingin Mama berpikir sesuatu?"
Cyra memperhatikan wajah sang bunda dalam benak menebak maksud dari kalimat Mikhayla.
"Kamu tidak menyukai Sofia?"
"Aku tidak begitu mengenalnya." Cyra tidak ingin sang ibu salah paham. "Tapi aku tidak berhak menolaknya karena itu pilihan mas Abhie."
"Dia gadis baik-baik, dari keluarga terhormat dan yang penting mas-mu mencintainya."
Cyra tidak sedang berdebat dia hanya memastikan jika Abhie memang akan menikah, itu saja.
"Kalian pernah saling mengenal jadi tidak akan sulit."
Semoga.
"Ya sudah siap-siap dulu, kamu akan pergi kan?"
"Baik."
Semua akan dibuat sebiasa mungkin, tidak akan membiarkan kejadian malam itu membuat hubungannya dengan Abhie terlihat janggal. Sesekali dia akan pulang ke Jakarta dan mereka akan berpapasan tidak mungkin selamanya menghindar.
Cyra tidak berniat pergi, begitu tiba di kamar ia ingin bergelung dalam selimutnya. Minggu sorenya tak lagi sama seperti dia tinggal di London, bisa dikatakan ini seperti bukan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Balada Cinta Saudara Angkat
Romance💋 Sekuel istri pengganti Cyra yakin ia tidak akan jatuh cinta pada kakak angkatnya, ia semakin risih terhadap Abhie ketika usianya beranjak remaja dan memutuskan sekolah di luar negeri. Bertahun-tahun tinggal di London hingga akhirnya gadis itu pul...
