Cyra tidak asal mengatakan ingin merawat Abhie, rasa tanggungjawab-nya tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia akan menjadi perawat terbaik untuk kesembuhan laki-laki itu.
"Aku bisa melakukan sendiri." atau Abhie bisa meminta perawat melakukannya. Beberapa handuk kecil dan se-baskom air hangat diletakkan Cyra di nakas.
"Cuma lengan, dada dan kaki." Cyra juga tahu batas karena yang dirawat olehnya adalah seorang lelaki.
Ketika Abhie ingin menginterupsi lagi handuk kecil yang dengan air hangat menyapu lengannya. Cyra melakukan dengan hati-hati.
"Kita tidak sanggup membayar perawat?" tanya Abhie masih dengan nada lemah. Itu hanya guyonan Abhie melawan risih saat Cyra menyentuh bagian tubuhnya.
"Aku sendiri yang ingin melakukannya."
"Kenapa?" Abhie menatap wajah cantik Cyra.
"Perlu alasan membantu saudara sendiri?"
Argh... Abhie memejamkan mata. Saudara, kenapa respons tubuhnya lain. Ia belum diizinkan bangun karena kondisinya yang belum pulih begitu kata dokter tapi Abhie merasa dirinya sudah lebih baik walaupun belum berdiri.
"Mungkin yang harus berada di sini bukan aku, tapi calon istri Mas." Cyra mulai mengusap leher Abhie.
Sofia, Abhie memejamkan mata berusaha menghalau pikiran aneh yang sejak Cyra menyentuhnya.
"Selama aku merawat Mas, aku tidak mengizinkannya datang."
Abhie tidak lupa pada wanita itu, tapi fakta yang diketahuinya sebelum kecelakaan membuatnya enggan menanyakan keberadaan Sofia.
Dengan kata lain Abhie kecewa pada Sofia.
"Jadi bersabarlah sampai sembuh."
"Aku belum memikirkannya."
Cyra tidak ingin memaksa membahas hal berat karena Abhie masih dalam proses penyembuhan.
"Tidak apa. Sekarang fokus untuk sembuh. Kuat lagi seperti dulu, nikahi dia dan hiduplah bahagia."
Abhie tidak mengerti kenapa Cyra begitu santai mengatakan hal itu berbeda saat mengungkapkan kebenaran masa lalu.
Abhie kembali memejamkan mata ketika merasakan handuk hangat tersebut menyentuh dada hingga pusar.
"Mungkin aku tidak bisa melanjutkan."
Cyra menghentikan gerakannya dan segera mengangkat handuk dari perut Abhie, ia memperhatikan raut kakak angkatnya.
"Mas merasakan sakit?"
"Bukan."
Perlahan Cyra menarik napas lega, ia pikir Abhie kesakitan.
"Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kami."
"Jangan bicarakan itu dulu, Mas sedang sakit." Cyra segera menyela.
"Aku tidak bisa memaafkan perbuatannya." Abhie sudah memikirkan berulang kali hingga ia tidak bisa mengelak kecelakaannya.
Ia menabrak pembatas jalan dengan kecepatan tinggi. Saat itu ia pikir tidak akan selamat. Tiga hari berada di rumah sakit Jakarta dan satu Minggu di London setelah sepuluh hari baru bisa bicara walaupun masih dalam keadaan lemah.
Setiap pagi membuka mata ia melihat Cyra ketika malam ia memejamkan mata dengan tenang karena bahagia ditemani oleh wanita itu.
"Mas," tegur Cyra. "Istirahat, bukan hanya tidur tapi otak juga. Jangan pikir hal besar dulu."
"Kamu tidak menjawab pertanyaanku."
"Yang mana?" tanya Cyra sembari pindah ke samping kiri laki-laki itu.
"Kamu baik-baik saja?"
"Kalau sakit aku tidak berada di sini, aku tidak akan bisa merawat Mas."
"Benar." Abhie meneguk ludahnya. "Kamu memendam dan menyembuhkan dirimu sendiri."
Sepertinya Abhie benar-benar sudah kembali, dengan tenang pria itu mengangkat topik yang dianggap berat oleh Cyra. Bagaimanapun masa lalunl Cyra dan Sofia yang membuat laki-laki itu terbaring di sini.
Untuk beberapa lama mereka diam, tidak ada yang mengatakan sepatah katapun tapi tidak menghentikan kegiatan Cyra yang terus membersihkan tubuh Abhie. Sebelum kecelakaan, yang dipikirkan Abhie selama mengemudi adalah perasaan Cyra saat kejadian, bagaimana malunya wanita itu pada semua orang yang melihat keadaannya saat itu, Cyra dipermalukan oleh wanita yang akan dijadikan istri olehnya.
"Dari sekian banyak wanita kenapa harus sampah itu?"
Abhie bisa merasakan kesakitan dalam kalimat itu, akhirnya dia mengetahui masalah antara dua wanita itu.
Semua orang tahu bagaimana Abhie menjaga adik-adiknya termasuk Cyra walaupun gadis itu bersikap dingin dan hampir tidak pernah bertegur sapa dengannya. Abhie tidak menyangka melewatkan satu hal ini, mereka berada di sekolah yang sama kenapa ia tidak mengetahui hal ini?
Cyra fokus pada pekerjaannya ia tidak tahu banyak hal yang kini berkelibat di benak Abhie. Selesai membersihkan kaki wanita itu kembali ke sisi Abhie.
Dengan handuk baru Cyra mengusap pelan wajah Abhie. Awalnya mata Abhie terpejam menikmati sapuan juga semua pikiran yang bermain di kepalanya. Tapi dua menit berlalu mata itu kembali terbuka melihat Cyra yang begitu dekat dengannya. Ia terpukau karena melihat Cyra sedekat ini dan tidak ada satupun celah cacat di wajah cantik itu.
"Aku menyukai wanita lain."
Kelopak mata Cyra bergerak hingga tatapan keduanya bertemu. Cyra bertahan dengan sirat tanpa ingin menyusup mencari maksud dari tatapan Abhie. Sebaliknya Abhie berusaha keras mencari sesuatu yang mustahil bisa ditemukannya tapi ia tidak begitu kecewa karena bisa menemukan semu merah jambu di pipi Cyra.
Cyra sudah selesai, ketika hendak memutuskan kontak mata Abhie bertanya satu hal.
"Mungkin aku harus tetap diam tanpa bisa menyembunyikan sampai aku dianggap layak olehnya."
Tidak ada yang perlu dipikirkan oleh Cyra kecuali kesembuhan Abhie. Meninggalkan pria itu Cyra pergi ke kamar mandi meletakkan benda yang sudah dipakai untuk membersihkan Abhie. Setelah mencuci tangan ia kembali ke sisi Abhie.
"Ini pelembab, tidak apa kan kalau aku pakai?"
"Eum." pelembab untuk kulit keringnya lebih menarik perhatian Cyra ketimbang menanggapi kalimatnya.
Cyra mulai mengolesi wajah Abhie dengan pelembab dari salah satu merek. Ia benar-benar fokus dengan tekstur lembut di jarinya. Ini akan membantu melembabkan kulit wajah Abhie setelah sepuluh hari lebih berada di ruangan AC.
Ia akan sabar menunggu instruksi dokter kapan Abhie bisa bangun karena ia akan membawa laki-laki itu berjemur di bawah panas matahari pagi.
"Mas mau sarapan roti atau nasi?"
"Nanti saja." Abhie belum lapar.
"Tidak bisa. Mas harus minum obat." Ciya memilih roti sebelum makanan berat.
Jika Cyra sedang menunggu dokter untuk mendengar kabar kapan Abhie bisa bangun agar bisa diajak berjemur maka Abhie ingin bertanya kapan dia bisa keluar dari tempat ini.
"Aku bisa sendiri."
Cyra tidak keberatan, ia memberikan potongan roti di tangannya pada Abhie menunggu laki-laki itu mengunyah dan menelan habis rotinya.
"Ini." Cyra menyodorkan segelas air untuk Abhie setelah selesai mengambil tisu dan membersihkan tangan Abhie.
Seperti selama satu minggu ini, bila tangan sudah saling menyentuh maka akan membentuk sebuah genggaman.
"Begini rasanya menyukai seseorang."
Abhie memejamkan matanya dan Cyra mengalihkan tatapan saat melihat setitik air disudut mata laki-laki itu sementara tangannya masih dalam genggaman Abhie.
💕 Seperti biasa.... tinggalkan komen... ramaikan biar semangat dobel up 😍
Jangan lupa share cerita ini sayang...🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
Balada Cinta Saudara Angkat
Storie d'Amore💋 Sekuel istri pengganti Cyra yakin ia tidak akan jatuh cinta pada kakak angkatnya, ia semakin risih terhadap Abhie ketika usianya beranjak remaja dan memutuskan sekolah di luar negeri. Bertahun-tahun tinggal di London hingga akhirnya gadis itu pul...
