Beberapa bulan ini Heeseung habiskan dengan lebih banyak waktu di kantor. Ya dia sengaja menyibukkan diri agar tidak merindukan Jay, nyatanya setiap malam dirinya memikirkan apa yang sedang dilakukan Jay. Mereka berdua benar-benar hilang kontak sejak Jay pulang hari itu.
"Kenapa tidak ayah saja yang kesana? Biasanya juga jarang pulang."
"Ayah ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Ibumu. Kamu juga sudah siap untuk menggantikan ayah kan? Mulai dari sini dulu."
"Yayaya, baiklah. Hanya pernikahan saja kan?"
Ayah Heeseung mengangguk. "Cuti selama satu minggu juga, setelah acaranya berakhir kamu bisa mengunjungi danau disana, didekat kuil."
"Sepertinya tidak buruk, aku juga butuh liburan awal tahun. Baiklah kalau begitu."
"Berangkatnya nanti malam menggunakan kereta. Kamu akan sampai disana pagi hari, lalu..." Ayah Heeseung menjelaskan rundown acaranya besok dan Heeseung sendiri dengan teliti mendengarnya.
"Paham Lee Heeseung?"
"Paham, ayo pulang. Aku harus menyiapkan beberapa keperluan ku untuk berlibur."
Pasangan ayah anak ini pulang ke rumah dengan wajah yang sama-sama ceria. Bagaimana tidak karena nyonya Lee dirumah memasak makan malam yang sangat disukai keduanya.
"Ibukuuuu sayang, Heeseung yang tampan ini pulang bersama suamimu yang sudah tua." Heeseung masuk ke dalam rumah dengan perasaan bahagia. Ia berlari menuju kamarnya begitu saja. Heeseung menata keperluannya untuk berlibur besok setelah pertemuan yang menurutnya tidak penting.
"Siap." Heeseung menutup koper kecilnya dan bergegas mandi. Ia akan mandi terlebih dahulu baru makan malam dan setelahnya akan berangkat ke stasiun.
"Akhirnya aku bebas." Heeseung menyamankan diri berbaring pada seat nya yang tergolong mewah ini. Lumayan naik kereta dengan executive class yang nyaman sekali, wajar saja karena semalaman perjalanannya menuju acara ini.
"Feromon Jay sangat membuatku nyaman." Heeseung memeluk erat kemeja Jay sekarang. Setiap 2 minggu sekali Jay melalui orang suruhannya akan mengantarkan pakaiannya dan meminta pakaian Heeseung sebagai ganti. Heeseung awalnya tidak mengerti kenapa Jay tidak memintanya sendiri tapi lama-lama ia mulai terbiasa.
Perjalanannya selama 10 jam cukup nyaman, ia bangun di pagi hari disambut dengan sarapan sebelum sampai disana. Sebelum ke tempat pernikahan pun, tamu undangan di arahkan dulu ke hotel untuk bersiap.
"Lah? Double bed?" Heeseung heran, baiklah ini memang kamar yang besar, tapi kenapa harus double bed? Apakah ada orang lain yang akan tidur disampingnya nanti? Ralat, diseberangnya.
"Kereta elit, kamar hotel sulit." Heeseung sih buru-buru mandi dan berganti baju. Ia juga sedikit menata rambutnya keatas hingga memperlihatkan dahinya. "Buset, tampan sekali lu Hee." Heeseung memuji dirinya sendiri saat melihat cermin.
Tak lama kemudian, ada seseorang yang menjemputnya untuk pergi ke aula. Saat sampai disana saja Heeseung benar-benar tidak peduli, ia sebenarnya sedikit iri dengan pasangan yang menikah ini. Harusnya dia bisa juga dengan Jay kan?
Saat yang lain bersiap dibelakang pengantin yang akan melempar bunga, Heeseung tetap duduk pada mejanya dengan memakan beberapa dessert yang tersedia. Lumayan enak lagipula ini makanan mahal.
"3 2 1." Sang pemandu acara menghitung mundur dan pengantin melempar bunga yang ia bawa. Pengantin melempar bunganya hingga terlempar cukup jauh dari kerumunan, bahkan mengenai kepala Heeseung.
"Duh." Heeseung mengusap kepalanya perlahan yang tadi terkena bunganya, untung saja tidak sakit. Ia mengambil bunga untuk ia kembalikan lagi.
"Selamat ya, ini pertanda jika anda akan segera menyusul pasangan baru ini."
"Hah?" Heeseung bingung tentu saja, tidak tau saja kehidupannya mengenai mate itu benar-benar kacau, menyusul menikah katanya? Konyol.
"Menyedihkan." Dengus Heeseung pelan, seakan ia diejek begitu saja apalagi semua orang bertepuk tangan.
Ia jadi benar-benar merindukan Jay sekarang, jika mereka pasangan mungkin akan menghadiri acara pernikahan ini bersama.
"Heeseung." Ada yang memanggilnya sembari menepuk pundaknya.
"Ya?" Heeseung menoleh sedikit mendongak untuk melihat siapa yang menyapanya. "Jay?!" Heeseung sontak berdiri dan memberikan sambutan hangat berupa pelukan pada mate nya ini, maksudnya mantan mate yang terpaksa berpisah.
"Kamu hadir ternyata, aku kira ayahmu yang akan datang." Jay menepuk pelan punggung Heeseung kemudian mendorong Heeseung agar melepaskan pelukannya.
"Oh maafkan aku." Heeseung kembali duduk dengan canggung, ia lupa jika Jay sekarang mungkin ingin menjauhinya.
Jay mendudukkan dirinya di samping Heeseung. "Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kamu lihat."
Canggung sekali disini, mereka tidak bertemu hampir 3 bulan lamanya karena Jay yang menginginkannya. Percayalah jika Jay menahan diri sebaik mungkin sejak mengetahui jika ia berada di acara yang sama dengan Heeseung. Ia ini hanya alpha biasa yang ingin bertemu dengan mate nya.
Perpisahan juga seperti sebuah pernyataan saja bagi mereka, nyatanya tanda mate saja terlihat jelas pada tangan keduanya. Seharusnya jika memilih untuk berpisah, tanda mate bisa dihilangkan.
"Jay, feromon mu..." Heeseung mengendus Jay yang berada disampingnya. Ini bahaya.
"Rut ku malam ini, wajar saja jika feromon ku lebih kuat daripada biasanya."
"Kenapa kamu masih menghadiri acara ini jika tau akan Rut? Pantas saja banyak omega yang tertarik padamu."
"Aku akan kembali ke kamar hotel setelah ini. Aku ingin menemui mu dulu. Aku tidak bisa berbohong jika merindukanmu." Jay akhirnya berdiri karena merasa terusir.
"Panggil aku jika butuh bantuan."
"Ide yang buruk Heeseung. Sampai jumpa."
Heeseung lagi-lagi merasa kesepian, tapi dengan begini ia jadi sedikit bahagia karena melihat Jay meskipun hanya sebentar sih.
Ia kembali memakan dessert dengan wajah sedih. "Jika Jay Rut..." Heeseung menoleh kesana-kemari dan melihat para omega banyak yang tersenyum padanya sembari menggodanya dengan kedipan mata.
"Terakhir aku Rut memang bersama Jay kan? Bodoh, aku juga Rut kalau begitu." Heeseung buru-buru mengemasi apa yang ia bawa tadi dan kembali menuju kamarnya. Sebelum kesana, Heeseung pergi ke resepsionis untuk meminta scent blocker pada kamarnya karena ia akan Rut. Takutnya akan menakuti para omega nanti.
"Seharusnya beberapa jam lagi." Heeseung masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh staff hotel. "Kunci saja pintunya dari luar nanti ya. Semua keperluan ku ada di dalam tenang saja, jangan bukakan pintunya hingga besok sore." Staf nya hanya mengangguk patuh.
"Terimakasih." Heeseung masuk dan mengeluarkan kartu pintu aksesnya serta memberikannya kepada staf. Dengan begini pasti aman kan? Ia tidak akan menyakiti siapapun dengan feromonnya.
Heeseung menunggu pintunya tertutup dan ya setelahnya ia menghela nafasnya pelan. Semoga saja Rut nya hanya sehari, kan dia mau liburan disini.
"Lah?"
.
.
.
.
.
To be Continued
Lah, kenapa nih kira-kira? ( ╹▽╹ )
KAMU SEDANG MEMBACA
Fate [JaySeung]
Hayran KurguApakah takdir akan mempermainkan keduanya? Atau Mereka yang bermain dengan takdir(?) bxb Jayseung Slow burn with lil angst Alpha x Alpha Omegaverse Warn : I know this is a omegaverse but I can't write something vulgar. And yeah this is slow burn st...
![Fate [JaySeung]](https://img.wattpad.com/cover/329211200-64-k197273.jpg)