"2 kamar untuk 2 orang." Jay yang memesan ini, karena ya dia yang memaksa. Sempat adu mekanik tadi dan Heeseung kalah karena Jay terlalu kaya raya.
"Mohon maaf tuan, kamar kami hanya tersisa satu. Sebenarnya sudah penuh karena di booking tetapi tidak jadi."
"Baiklah tidak masalah itu saja."
Inilah salah satu alasan kenapa Heeseung memutuskan untuk membangun apartemen disini. Apalagi disini jarang sekali rumah penduduk dan penginapan.
"Pfftt." Heeseung menahan tawanya saat mereka masuk ke kamar ini. Ini sih udah di booking untuk honeymoon karena ada hiasannya, apalagi di kasur yang ada mawar merah yang disusun berbentuk hati.
"Mereka tau saja jika kita perlu honeymoon ya." Jay ikut tertawa bersama Heeseung, ia meletakkan koper yang mereka bawa dan menatanya ke dalam lemari kemudian berkeliling.
"Heeseung, di bathtub bahkan banyak sekali mawarnya."
"Benarkah? Wahh sepertinya berendam di pagi hari akan sangat menyenangkan, apalagi pemandangannya langsung ke laut." Heeseung mengikuti Jay untuk melihatnya juga.
"Istirahat lah. Besok saja berendam dengan air hangat. Kita akan pergi besok pagi setelah mandi dan sarapan." Heeseung mengangguk dan ia merebahkan dirinya setelah mencuci kaki dan tangan untuk tidur.
"Sayang sekali mawarnya rusak karena aku."
"Mawar itu akan berantakan apapun yang terjadi, namanya juga honeymoon." Jay bersiap untuk melepaskan setelan jas nya dan berganti dengan baju yang nyaman untuk tidur.
"Ganti di kamar mandi sana!"
"Bukankah kamu sudah melihat ku telanjang?"
Pipi Heeseung merona dan ia menutupi wajahnya dengan selimut karena tidak ingin dilihat oleh Jay. Bisa-bisa dia dihujat.
Setelah berganti baju, Jay merebahkan diri disamping Heeseung. "Selimutnya Heeseung, aku bisa mati kedinginan."
Bukannya memberikan Jay selimut, Heeseung malah mendekat pada Jay dengan kepalanya yang menyembul. "Peluk aku." Heeseung tau yang dilakukannya ini tidak benar, tapi ia tidak peduli. Setidaknya hari ini Jay masih bersamanya. Besok jika Jay menemui mate nya ya sudah, ia hanya ingin hari ini ia habiskan bersama Jay.
"Peluk saja? Tidak ingin yang lain?" Heeseung mengangguk, ia membuka selimutnya dan merentangkan tangannya untuk dipeluk.
"Tapi aku ingin yang lain Hee, bagaimana?" Jay memeluk Heeseung erat dan mengusap punggungnya perlahan.
"Lakukan, sekali saja. Besok kita sibuk."
"Saat membongkar koper, aku melihat ada pengaman dan juga lubricant. Kamu sepertinya sangat siap sedia."
"Hanya berjaga-jaga haha. Alpha seperti mu ini hormon nya naik terus-menerus."
"Kamu juga alpha, jadi hormon mu juga begitu ya? Ingin mating terus-menerus?"
"Ishhh. Jadi tidak ini? Sebelum aku berubah pikiran."
"Jadi dong sayang."
•••••••••••••••
Heeseung bangun di pagi hari dan ya, ia rasanya ingin menangis saja. Hari ini Jay akan bertemu dengan mate nya. Ia menyingkirkan tangan Jay yang memeluknya, ia ingin berendam air hangat seperti yang sudah dikatakan kemarin.
Rileks sekali dirinya sekarang, apalagi Jay benar-benar menurut dengan satu ronde saja kemarin. "Hmm?" Heeseung memegang tangan kirinya yang ada sebuah simbol tepat di dekat nadinya. Simbol mate kah ini?
"Phoenix." Heeseung mengusap tanda mate nya yang muncul, entah kapan muncul dan ia baru menyadarinya.
"Aku harus pamer pada Jay setelah ini." Akhirnya Heeseung mempunyai tanda mate, ia sekarang tidak perlu terlalu sedih karena Jay bertemu mate nya. Dia juga bisa.
Setelah 15 menit berendam, Heeseung keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe karena ia lupa membawa bajunya.
"Ohh sudah selesai, kemari Hee sarapan dulu. Karena kita kesiangan jadi aku ke bawah saat kamu berendam tadi untuk mengambil sarapan."
'Masih pagi, Moon Goddess tolonglah. Bisa meleyot ini gw lama-lama dengan sikap Jay yang begini.' Heeseung mendudukkan dirinya di single sofa setelah mengambil piring yang sudah disiapkan Jay untuk makan.
"Rambutmu masih basah loh, sini aku keringkan." Jay mengambil handuk kecil dari lemari dan berdiri di belakang Heeseung untuk mengusap rambutnya perlahan agar kering.
"Jay, aku sudah punya tanda mate loh. Aku barusan lihat." Heeseung menunjukkan tangannya dengan bangga pada Jay.
"Phoenix, indah Hee." Jay hanya menoleh sekilas dan menahan tawanya. Ia juga punya kok hanya saja Heeseung tidak tau karena Jay menutupinya dengan wristband.
"Emang, sekarang tinggal mencari mate ku."
'Dia masih tidak tau aku ini mate nya?! Akan ku kerjai kamu. Hingga menangis lihat saja.'
Jay menghentikan aktivitasnya lalu duduk di tepi kasur untuk sarapan juga.
"Rambutku belum kering."
"Keringkan sendiri."
Heeseung sedikit merasa bahagia karena berhasil membuat Jay kesal, feromon Jay juga mulai berubah karena kesal.
Mereka makan dalam diam, setelahnya pun Jay masuk ke dalam kamar mandi dalam diam.
"Yes, dia kesal padaku!" Heeseung melompat kesenangan, kemudian mengambil setelan jas miliknya. Ya kan mereka akan berkunjung ke sana jadi harus berpakaian formal sebagai pemilik.
Mereka berangkat dengan berjalan, lumayan dekat sih dan juga olahraga pagi juga. Terutama Heeseung yang sangat jarang olahraga sejak bertemu Jay, kan udah olahraga bareng.
"Duduk disini saja Heeseung." Mereka berdua duduk pada ayunan yang di depannya ini ada sebuah bangunan yang sudah lama. Heeseung agak heran, kenapa sepi sekali disini? Jay bahkan belum membangun apapun disini.
"Aku pertama kali bertemu dengannya disini. Dia sangat menggemaskan dulu, bahkan sekarang. Oh iya Heeseung, aku menggigit pundak kanannya karena cemburu dia bermain dengan anak lain."
Heeseung mengernyitkan keningnya menatap Jay.
"Tanda mate akan muncul jika sepasang mate sudah mating dengan mencintai satu sama lain. Milikku muncul semalam." Jelas Jay lagi, mate nya ini tergolong manusia alpha superior kan? Kenapa sangat lamban dalam berpikir?
"Apa?" Heeseung menatap ke tanah kemudian, sebentar-sebentar.
"Sebentar ya Heeseung, aku akan membeli sesuatu untuk mate ku." Jay meninggalkannya begitu saja, mungkin saja Heeseung ini akan bisa berpikir jika sedang sendirian.
Heeseung menyimpulkan perkataan Jay tadi. Jay bertemu mate nya disini dan menggigitnya di pundak kanannya, tanda mate akan muncul jika sepasang mate mating dengan mencintai satu sama lain. Untuk memastikan sesuatu, Heeseung berdiri dan melihat papan yang sudah lama yang berada di tepi bangunan ini.
"Ohh jadi dulunya ini daycare..." Heeseung terkejut dan mundur beberapa langkah. Jay itu mate nya? Benarkah? Itu sebabnya sejak awal ia sudah merasa sangat bergantung pada Jay.
"MATE!" Jay berteriak dan Heeseung menoleh padanya. Disana ada Jay yang membawa bucket bunga serta menunjukkan tanda mate nya yang sama persis seperti milik Heeseung.
.
.
.
.
.
To be Continued
Ini kalau Jay gak confess, kayaknya sampe tamat nih cerita si Heeseung gak sadar kalau mereka ini mate ಥ‿ಥ
KAMU SEDANG MEMBACA
Fate [JaySeung]
FanfictionApakah takdir akan mempermainkan keduanya? Atau Mereka yang bermain dengan takdir(?) bxb Jayseung Slow burn with lil angst Alpha x Alpha Omegaverse Warn : I know this is a omegaverse but I can't write something vulgar. And yeah this is slow burn st...
![Fate [JaySeung]](https://img.wattpad.com/cover/329211200-64-k197273.jpg)