10

1.8K 175 8
                                        

"Kenapa tidak menunggu di dalam? Di basement panas loh Hee. Lihatlah keringatmu." Jay mengambil beberapa tissue dan mengusap keringat pada kening Heeseung.

Heeseung menampik tangan Jay begitu saja. "Makanlah dulu karena aku tau kamu melewatkan makan malam, ada sandwich di jok belakang dan juga Americano. Aku saja yang menyetir." Heeseung dengan acuh menyalakan mobil ini dan berangkat ke sana.

Jay bisa kok merasakan feromon Heeseung yang sedang kesal. Apa karena Heeseung menunggu nya terlalu lama ya? "Langsung berangkat? Baju,"

"Sudah, aku memasukkan beberapa pakaian untuk kita berdua."

"Terimakasih Heeseung." Jay mengusak gemas rambut Heeseung hingga berantakan.

"Ihhh rambutku berantakan!"

"Kenapa memangnya? Kamu terlihat sangat menggemaskan dengan rambutmu yang berantakan."

"Aku ini alpha dan aku tidak menggemaskan. Diamlah dan makan saja sana."

Jay mengangguk dan menghentikan tangannya, ia menjangkau seluruh sandwich nya dan meletakkannya di dashboard mobil. "Kamu tidak makan?"

"Tidak. Aku sudah makan sebelum kesini."

Lampu merah, saatnya Jay beraksi, is melepaskan seat belt nya dan mendekat pada Heeseung. "Aku tidak tau kamu kesal karena apa. Tenanglah Heeseung." Jay mengecup sekilas kening Heeseung.

'Kamu yang membuatku kesal. Dan kenapa kamu melakukannya lagi?'

"Bisakah jangan sembarangan mengecup ku? Ingat Jay kamu ini sudah punya mate loh. Aku sebagai alpha juga sangat menghargai perasaan mate mu, bagaimana jika dia melihat kita seperti ini? Hatinya pasti hancur."

'Bahkan dia sendiri tidak mengenali aku sebagai mate nya? Dia ini terlalu pintar atau bagaimana? Mana bisa aku mating dengan orang yang bukan mate ku 2 kali?' Inner Jay, ia sampai tak bisa berkata-kata lagi, ia kira Heeseung sudah mengingatnya ternyata belum.

Jay pun kembali duduk dan memasang seat belt nya. Ia memakan sandwich yang dibeli Heeseung dengan brutal, faktor kelaparan juga sih.

'Dia mengacuhkan ku? Dasar gilaaa!'

Namanya juga para alpha, egonya tinggi dan tidak semudah itu mengalah satu sama lain. Jika saja salah satu dari mereka omega maka pertengkaran ini akan cepat selesai karena salah satunya merengek.

"Aku sangat mencintainya." Ya karena Heeseung ini yang terlewat polos, lebih baik sekalian saja menggodanya. Siapa suruh tidak mengenali mate nya sendiri padahal sudah mating.

"Ha?"

"Mate ku, dia memiliki mata yang indah, lucu sekali saat memohon. Ku rasa semua yang ada pada dirinya itu indah."

"Pernah mating dengannya?"

"Pernah, dan itu sangat wahh, ya kamu tau maksudku kan Heeseung."

Tanpa sadar Heeseung mengerucutkan bibirnya kesal, Jay ini benar-benar brengsek menurutnya karena udah mating sama mate nya malah mating juga sama dia. Mana dia udah jatuh cinta lagi, masa iya dia harus melawan takdir untuk mengejar seseorang yang baru saja ia temui belum genap satu minggu.

"Dia juga mandiri sekali, ya terkadang cling padaku juga sih karena memang seperti itu harusnya. Dia juga sangat suka memelukku, lalu,"

"CUKUP! AKU TIDAK MAU DENGAR LAGI TENTANG MATE MU."

Jay menahan tawanya karena reaksi Heeseung sama persis seperti yang ia duga sejak tadi. Ia membuka sandwich terakhirnya dan menyuapkannya pada Heeseung dengan suapan kecil.

"Sayang makan dulu, masih lama perjalanan kita. Ada banyak sekali camilan disini jadi aku akan manyuapkannya padamu."

"Ulangi lagi."

"Aku akan,"

"Yang paling depan."

"Sayang,"

"Jangan panggil aku dengan itu, setidaknya jika tidak peduli dengan perasaan ku pikirkan perasaan mate mu Jay!"

"Baiklah, setidaknya terima suapan ku. Tanganku keram."

"Aku tidak memintamu untuk menyuapiku." Heeseung menerima suapan Jay dengan tatapan sinis.

Setelahnya mereka hanya diam dengan memakan segala hal yang dibeli Heeseung dari cafetaria tadi. Jay yang bosan pun akhirnya tidur sebentar karena ia sedikit lelah.

"Pinjam tanganmu Heeseung." Jay menautkan kedua tangan mereka dan memejamkan matanya. "Aku lelah, sebentar saja seperti ini."

Heeseung yang ingin menarik tangannya mengurungkannya karena melihat wajah Jay yang memang benar kelelahan. Untung saja dirinya tadi membeli makanan.

"Bayi." Untung saja Heeseung ini bisa menyetir dengan satu tangan apalagi jalanan juga sepi karena sudah malam.

Saat lampu merah, Heeseung menyalakan musik disini karena terlalu hening. Ia sedikit terkejut karena yang ia putar terakhir kali adalah lagu berjudul 'Future Perfect', ia buru-buru menggantinya dengan lagu yang tenang agar Jay juga nyenyak tidurnya.

Tanpa sadar Heeseung ikut bersenandung kecil bersama lagu yang ia putar. Ya kan emang Heeseung ini suka karaoke an sambil menyetir, apalagi suaranya bagus.

"Aku lelah." Heeseung menyetir selama 2 jam berhenti sejenak di rest area. Ia menghabiskan seluruh Americano nya dan ingin membuangnya. Ia juga ingin camilan sih apalagi yang asin-asin.

"Jay, bangun Jay." Heeseung menepuk pelan pipi Jay untuk membangunkannya. Ia fokus pada rahang Jay yang sangat tegas ini, matanya bergerak dan beralih fokus ke bibir Jay.

Heeseung menggeleng pelan dan membangunkan Jay lagi agar melepaskan tautan tangan mereka. Sebenarnya bisa sih ditarik gitu saja sama Heeseung tapi dianya tidak ingin.

Heeseung melepaskan seat belt nya dan mencondongkan tubuhnya pada Jay dan bersiap untuk menonjoknya jika tidak bangun juga. "JAY!" Teriaknya.

"Ya? Kenapa sayang?" Jay terbangun begitu saja, ia menarik Heeseung dan memeluknya. "Sebentar lagi, biarkan aku tidur."

Heeseung yang berada dalam pangkuan serta pelukan Jay mengedipkan matanya heran. Kok jadi gini sih.

"Satu jam lagi kita sampai, aku akan beli camilan karena habis, aku sedikit lapar. Lepaskan aku agar kita cepat sampai dan kamu bisa istirahat."

"Hmm? Tunggu disini aku akan membelikannya untukmu." Jay memberikan kecupan pada pipi Heeseung setelahnya.

Heeseung mengangguk dan menyingkir dari pangkuan Jay, ia membiarkan Jay keluar sementara dirinya menunggu di mobil.

"Moon Goddess. Lakukan sesuatu, aku tidak bisa terjatuh seperti ini kepada Jay apalagi dia punya mate. Aku tidak pernah percaya padamu, tapi tolong lakukan sesuatu kali ini."

Satu yang Heeseung lupa dan ia mengingatnya sekarang. Alpha laki-laki dan alpha laki-laki tidak bisa bersama, mereka hanya akan membuang waktu apalagi tidak bisa melanjutkan keturunan.

"Bisakah aku berubah menjadi omega. Aku tau aku alpha, tapi bisakah?" Heeseung benar-benar putus asa sekarang, ia sudah kewalahan hingga air matanya menetes kembali.

"Sial."

.

.

.

.

.

To be Continued

Fate [JaySeung]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang