Dentingan jam terdengar memekakkan telinga. Pukul tiga pagi, di mana semua orang masih terlelap tapi Jemima malah terbangun dari tidurnya.
Matanya mengerjap, pelan-pelan ia membuka mata dan yang ia temukan pertama kali adalah sebuah ruangan serba putih, interior yang sangat luas dan langsung membuatnya kaget bukan main.
"Di mana ini?!"
Begitu Jemima bangkit, ia dibuat syok untuk kedua kalinya saat ia mengetahui bahwa ia telanjang bulat. Selimut yang ia kenakan melorot dan menampilkan tubuhnya sendiri tanpa sehelai benang pun.
"Apa ini?!"
Dan yang membuat Jemima semakin kaget adalah, ketika ia melihat Benjamin berada di sampingnya. Bertelanjang dada dan berbagi selimut dengannya.
"Jacob?"
Ben ikut mengerjap. Dahinya mengerut ketika melihat Jemima sudah bangun.
"Kamu sudah sadar?"
"Kamu gila?! Kenapa aku bisa telanjang seperti ini denganmu?"
Ben seperti tidak perduli. Ia mengerjap. Mengucek matanya, kemudian bangkit lalu duduk di samping Jemima.
"Aku sudah menolongmu di ambang kematian, dan yang aku dapat hanya lah cacian?"
"Kenapa aku telanjang?!"
"Come on, Jema. Ini masih gelap. Bisa kah kamu memberiku waktu untuk tidur lagi?!"
Buru-buru Jemima menghindar. Ia mengambil selimut kemudian bangkit dari ranjang. Tapi ketika selimut itu tertarik, Ben yang kini telanjang. Jemima menunduk dan meratapi semua pakaiannya yang basah dan tercecer di atas lantai.
"Aku yang mengganti pakaianmu. Apa aku salah? Kamu hampir mati tenggelam dan aku tidak akan pernah bisa membiarkanmu tidur dalam keadaan yang basah kuyup."
Mendengar semua penjelasan itu Jemima baru ingat tentang apa yang terjadi padanya tadi malam. Tentang upaya pembunuhan itu, tentang dirinya yang tenggelam dan ada tangan yang menarik tubuhnya agar ia sampai ke daratan.
Melihat ekspresi itu, Ben mengerutkan kening.
"Bagaimana Jema? Sudah ingat sekarang?"
"Aku ... aku butuh pakaian."
"Ambil salah satu di lemari. Pakai punyaku. Mungkin agak kebesaran, tapi bukan kah itu lebih baik?"
Tanpa berpikir apa-apa lagi Jemima segera mengambil pakaian itu. Keluar dari kamar dan kembali lagi dengan kaos yang terlalu longgar.
"Jelaskan padaku ... apa yang sebenarnya terjadi?"
Benjamin melenguh. Sungguh. Ini masih gelap dan ia masih ingin tidur. Tapi Jemima membutuhkan penjelasan sekarang. Apa lagi ketika melihat tangan Jemima yang kembali bergetar seperti itu, membuat Benjamin merasa kasihan.
"Kita bicara di depan, aku tahu kamu masih syok."
***
Dan di sini lah mereka berada. Di ruang depan, dengan suasana yang masih gelap, dan hanya dibantu dengan penerangan seadanya.
Jemima sudah memakai pakaian, pun dengan Benjamin.
"Kamu tahu? Aku tadi hampir memperkosamu tapi aku berhasil mengendalikan diri."
"Bisa kah kita skip bagian itu dan jelaskan kenapa ada orang yang mencoba membunuhku?"
Lagi-lagi Benjamin melenguh. "Kamu ciri wanita yang tidak sabaran ternyata."
Tapi tiba-tiba Ben bangkit. Berjalan ke dalam kamar lagi dan keluar dengan membawa sebuah tas yang kemudian ia serahkan kepada Jemima.
"Apa ini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
PARALYZED
RomantikJEMIMA AUDREY, Adalah gadis biasa-biasa saja sebelumnya. Namun tiba-tiba, hidupnya berubah ketika ia mulai menyadari ada yang tidak beres di dalam hidupnya. Ketika ia menyadari bahwa selama ini dia diawasi oleh seseorang. Mulai menyadari bahwa ada p...
