"Wah Neng Alif, tau-tau udah punya suami aja yak?"
"Iye, katenye nih ya Mpok, mereka akad nikah di depan Pak Bas sebelum Pak Bas meninggal. "
"Oh... ceritenye gitu. Suami Neng Alif umurnya kayaknye jauh dari Si Neng, tapi ga pa-pa sih.. yang penting guanteng banget. Bisa aje Si Eneng milih laki cakep kayak gitu."
"Eh Mpok, udah ganteng kaya lagi. Liat tuh mobilnya yang parkir di lapangan depan gang."
"Duh neng Alif, ga pernah punya pacar tetibe bawa suami yang sempurna model begono. Beruntung banget.."
Ibu-Ibu yang sedang membantu persiapan tahlilan hari pertama di halaman rumah sedang sibuk membicarakan suami baru Alif. Alif yang kebetulan lewat hanya tersenyum malu, gadis itu makin mengeratkan genggamannya pada bagian belakang baju Sakti
Sakti yang mendengar obrolan para Ibu hanya menggelengkan kepalanya. Memang selalu ada sedikit tawa di upacara pemakaman, karena para sanak dan saudara yang berkumpul dan bercerita. Tetapi pada kasus Alif, hanya tetangga yang ada sebagai saudara mereka.
"Jadi malam ini kamu mau tidur di rumah?" Sakti bertanya ketika mereka berada di dalam rumah, beberapa orang masih terlihat memberekan sisa-sisa kain bekas penutup jenazah Pak Bas disemayamkan.
Alif mengangguk pelan, matanya menatap sofa tua tempat ayahya biasa duduk. Alif masih merasa Ayahnya ada di dekatnya..
"Aku temani ya." Sakti menepuk pundak Alif, memaklumi dan menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Tidak perlu Pak.. Saya bisa tidur sendiri di sini. Ada Ibu-Ibu tetangga yang menemani kok, tradisi di kampung ini begitu. Bapak tidak perlu cemas dengan keadaan saya."
"Lif, sekarang saya adalah suamimu. Saya mempunyai kewajiban untuk berada di sisimu dan menjagamu." Sakti berbisik dan membimbing Alif memasuki kamar tidur gadis itu. Alif bingung, mengapa tiba-tiba Sakti mengajaknya ke kamar?
Setelah menutup pintu, Sakti melanjutkan penjelasannya, "Dan apa kata orang kalau saya pulang dan tidur di apartemen saya?"
Alif terdiam, ia lupa kalau Sakti adalah suaminya. Gadis itu masih merasa yang semua ia jalani hanya mimpi.. kepergian Ayahnya, statusnya yang baru sebagai Istri Sakti.
Alif mengangguk sebagai tanda ia menyetujui perkataan Sakti.
Sakti mengacak puncak kepala Alif, ia maklum dengan Alif yang masih belum terbiasa dengan status baru mereka, kemudian ia keluar dari kamar untuk membantu para tetangga mengatur kursi dan tenda yang baru saja diantar. Sakti tahu, Alif masih merasa jengah dengan status barunya dan juga kehadiran dirinya di dekat gadis itu.
***
"Lif, turut berduka cita ya.." Dian menyalami Alif dan mencium pipi alif. Alif tersenyum sopan dan mengucapkan terima kasih. Begitu juga dengan Iwan, laki-laki itu mengucapkan kata-kata belasungkawa pada gadis yang pernah ia suka. Beberapa staf dan pejabat juga datang pada tahlilan malam itu.
"Terima kasih karena sudah hadir di sini. Alif dan saya sangat menghargai perhatian dan bantuan teman-teman." Sakti yang berada di samping gadis itu menyampaikan ucapan terima kasihnya untuk menutup acara tahlilan malam itu.
Para rekan kerja Sakti dan Alif hanya bertatapan dengan bingung, mengapa Sakti menggunakan kata-kata 'Alif dan saya', mereka juga heran melihat kedekatan pimpinan mereka dengan si gadis honorer yang masih sangat muda. Selama acara, para tamu yang datang dari pihak kantor hanya mengira-ngira apa yang terjadi ketika melihat bahasa tubuh Sakti dan Alif yang teramat dekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Young Bride
Romancekau tidak dapat mengatur hati untuk jatuh pada siapa.. PS. Semua part akan sy upload kembali secara bertahap... Happy reading!
