Part 16b: Prepare

87.5K 6.2K 353
                                        

Dalam beberapa hari terakhir ini Alif begitu sibuk, dimulai dari menulis surat pengunduran dirinya sebagai honorer, pesta perpisahan yang diadakan oleh rekan-rekan kerjanya di satu direktorat, hingga mendaftar ke sebuah universitas swasta yang cukup terkenal di daerah Jakarta Barat. Alif mengambil jurusan yang selama ini menjadi minatnya dan merupakan keahliannya yang cukup dibanggakan yaitu Sastra Inggris.

"Gimana, beres pendaftarannya?" Sakti menghubunginya melalui ponsel, laki-laki itu tidak dapat menemani istrinya walaupun sebetulnya ia selalu ingin berada di dekat Alif 24 jam, tetapi kesibukan akibat dari pekerjaannya tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu.

"Udah Mas, ujiannya beberapa hari lagi karena aku sudah termasuk gelombang yang paling akhir." Alif mengepit sebuah map tebal yang berisi informasi mengenai universitas tersebut, ponselnya ia jepit antara kepala dan bahunya karena tangannya begitu sibuk. Akhirnya map tebal itu terjatuh dan membuat Alif sedikit mengumpat karena kesal.

"Repot banget kayaknya Lif... tidak minta bantuan supir untuk membantu membawakan barang-barangmu?" Sakti tersenyum mendengar Alif menjerit kecil dan diikuti dengan suara benda yang terjatuh, terkadang istrinya itu sedikit temparemental.

"Ah Mas.. berasa jadi nyonya-nyonya ibu pejabat minta dibawain sama supir. Lagian gak perlu pake supir kalo cuma buat nganter aku ke tempat kuliah, pake angkot atau taksi juga gak masalah." Alif merasa risih dengan perlakuan istimewa Sakti terhadap dirinya.

Sakti memperkerjakan seorang supir khusus untuk mengantar jemput Alif, sebuah Vellfire terbaru juga disediakan Sakti untuknya. Gadis itu tahu kalau ia sudah menjadi istri seorang Raffardhan Sakti Al-Akbar, tapi entah mengapa ia masih tidak merasa nyaman dengan semua perlakuan khusus itu padanya.

"Kamu memang sudah menjadi nyonya dan istri seorang pejabat Lif..." Sakti terkekeh, hal ini yang membuat ia makin mencintai Alif. Sikap rendah hati dan kesederhanaan gadis itu, serta santunnya yang selalu terjaga walau sekarang posisi gadis itu telah naik ke strata yang cukup tinggi.

Alif cemberut mendengar tawa Sakti di seberang sana, ia kesal mengapa suaminya tidak mengerti dengan rasa canggungnya untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru.

"Oh iya, minggu depan kita mulai menginap di villa keluarga di Cisarua untuk resepsi pernikahan kita. Aku sudah mengambil cuti alasan penting untuk satu bulan. Siapa tahu kamu berubah pikiran dan ingin berbulan madu." Sakti menggoda Alif kembali, mengingatkan gadis itu secara halus kalau mereka belum melakukan kewajiban sebagai suami istri.

Alif diam, ia tahu kalau dirinya salah karena terus menerus bersikap seolah tidak ada masalah di antara mereka, dan jelas sumber masalahnya adalah dirinya.. bukan Sakti. Laki-laki itu sudah sangat menunjukkan rasa pengertian terhadap ketidaksiapan Alif padahal mereka telah tidur satu ranjang semenjak kejadian 'lingerie gagal' itu. Alif tidak bisa membayangkan perasaan Sakti yang harus tidur bersama tiap malam dengannya dengan menahan semua hasratnya untuk menyentuh istrinya sendiri.

"Maaf Mas.." Alif menggigit bibirnya, merasa bersalah kembali.

Tarikan nafas Sakti terdengar jelas dan panjang, laki-laki itu memaklumi semuanya walau sangat berat baginya. Malam tadi misalnya, Sakti bangun tengah malam dan tidak dapat tidur sesudahnya, karena Alif memeluknya sangat erat. Sebelah tungkai gadis itu melingkari pinggulnya dan ia hanya bisa menelan ludahnya ketika merasakan kelembutan tubuh gadis itu menempel begitu rapat pada dirinya.

***

Dengan mengendarai mercedes benz sport miliknya, Sakti dan Alif pergi menuju villa milik keluarga Sakti di Cisarua. Alif sangat antusias karena ia menyukai pemandangan perkebunan teh yang terhampar di sepanjang perjalanan mereka walau sedikit macet karena padatnya volume kendaraan menuju Puncak.

My Young BrideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang