Part 14b: Adaptation

70K 6.1K 284
                                        

"Kamu mau bulan madu ke mana Lif setelah resepsi?" Sakti bertanya pada Alif, laki-laki mencari tayangan acara di televisi dengan remote control, laki-laki itu mengerutkan keningnya.. hampir semua saluran lokal menayangkan acara sampah. Tetapi Sakti tertarik dengan tayangan suatu televisi, sebuah film box office dan sangat tepat ketika scene romantis, sepasang kekasih berciuman dengan mesra dan membuat wajah Alif menjadi tegang.

Sakti melirik Alif yang duduk disebelahnya, gadis itu terlihat kikuk dan salah tingkah, pasti ia mengingat kejadian di mobil sore tadi.

"Gak usah pake bulan madu Mas.." Alif pura-pura sibuk membaca pesan singkat di layar ponselnya, mengalihkan tatapannya dari adegan ciuman yang makin mesra, gadis itu segera meraih remote dan mengganti saluran.

"Apa kamu mau langsung naik haji plus aja. Kemarin kan kamu sudah janji ke Abah mau mengantar beliau naik haji, nanti biar aku yang menghajikan Abah." Sakti terkekeh, dengan iseng laki-laki itu merangkul bahu istrinya agar makin dekat dengannya

"Biar aku saja Mas yang menghajikan Abah." Alif memprotes, mengabaikan jemari Sakti yang berada di pundaknya.

"Eh, tidak boleh Alif, kalo kamu belum menunaikan ibadah haji kamu tidak boleh menghajikan orang lain. Ada haditsnya Sayang.."

Alif menatap Sakti tidak percaya.

"Jadi Mas Sakti sudah pernah naik haji?"

"Sudah, makanya aku bilang aku saja nanti yang menghajikan Abah sekalian juga mengahajikan Ibumu, kita pergi sama-sama dua tahun lagi...kamu tetap menunaikan ibadah haji seperti biasa. Tidak ada beda antara menantu dan anak kandung Lif... kewajibanku juga menghajikan Abah." Sakti tersenyum, lelaki itu mengelus lengan Alif dengan sayang. Sakti betul-betul menyayangi istri kecilnya ini karena gadis ini begitu menghormati dan menyayangi orangtuanya.

"Dua tahun lagi? ONH plus dong Mas, mahal... Alif tidak bisa menabung dalam waktu sesingkat itu."

"Ya ampun Alif sayang.. uang gak usah dipikirkan. Masalah finansial adalah urusanku, kamu istriku dan itu sudah kewajibanku." Tawa kecil keluar dari bibir Sakti, istrinya ini kadang memang sangat naif.

Alif menatap Sakti, gadis itu tidak menyadari bahwa mereka duduk bersisian dan sangat dekat. Kemudian ia menyandarkan kepalanya pada bahu Sakti.

"Terima kasih Mas.." bisik gadis itu lembut, Alif kembali ingat dengan kata-kata almarhum Abahnya bahwa Sakti adalah suami yang terbaik baginya.

Abah betul, Mas Sakti sangat baik... ia sangat perhatian dan sayang dengan Alif Bah... Terima Kasih karena Abah sudah memilihkan laki-laki terbaik bagi Alif.

Setitik air mata jatuh di pipi Alif, tapi Sakti tidak menyadarinya. Alif cepat-cepat menghapus air matanya, ia tidak ingin Sakti melihat air matanya dan merasa cemas hanya karena suasana hatinya berubah menjadi mellow.

***

Sabtu pagi ini merupakan hari kepindahan Alif ke apartemen Sakti yang berada di daerah Setiabudi Kuningan. Hanya sedikit barang milik Alif yang dibawa karena Sakti meminta ia hanya membawa pakaian saja dan sejumlah barang penting baginya.

Gadis itu merapikan pakaiannya ke dalam lemari pakaian di kamar Sakti. Alif baru menyadari apartemen milik laki-laki ini sangat mewah, kemarin ia berkunjung hanya sekali dan hanya sebatas berada di dapur dan ruang duduk.

"Mas, nanya dikit ya.. kok bisa punya apartemen elite kayak gini? Alif baru nyadar kalo apartemen ini mahal banget dari pamflet harga broker di depan tadi. Bukan hasil korupsi kan?"

Sakti yang sedang ikut membantu Alif merapikan kamar, mengerjapkan matanya, memastikan ia tidak salah dengar, lalu ia tertawa terbahak-bahak.

"Ampun deh Lif.. Bukan, apartemen ini aku beli jauh sebelum aku menjadi PNS. Dulu aku bekerja selama tujuh tahun di salah satu bank swasta international. Kamu tahu kasus Melinda Dee beberapa tahun yang lalu? Tahu juga kan penghasilan resmi Melinda berapa dari media massa? Nah, dulu aku seorang CEO salah satu bank swasta internasional yang setara dengan tempat kerja Melinda, jabatanku jauh di atas jabatan Melinda. Begitu aku mengundurkan diri dan menjadi PNS, aku juga mempunyai beberapa perusahaan, tidak hanya tergantung dari gaji PNS."

Alif mengangguk-ngangguk, baru mengerti dengan gaya hidup mewah suaminya didapat dari mana. Tapi ia juga bingung, mengapa suaminya mau menjadi PNS meninggalkan penghasilan yang sangat fantastis apabila dibandingkan dengan gajinya sekarang.

"Tapi kenapa Mas mau jadi PNS, nggak sayang dengan pekerjaan yang dulu?" Alif bertanya dengan polos kembali.

"Tidak semua bisa di beli dengan uang Alif sayang... aku merasa ada sesuatu yang tidak kudapatkan dari bekerja di sana." Sakti tersenyum dan mengacak rambut Alif, maklum dengan pertanyaan gadis itu. Mereka baru beberapa bulan bertemu dan langsung menikah, banyak hal yang tidak diketahui Alif tentang Sakti dan begitu juga sebaliknya.

***

Setelah membereskan semuanya, Alif mandi dan membersihkan dirinya. Ia masih merasa rikuh dengan Sakti, Alif mandi dan berganti pakaian di kamar lain di apartemen yang mempunyai tiga kamar tidur itu. Sakti memaklumi semuanya, pelan-pelan gadis itu akan terbiasa dengan kehadiran dirinya sebagai suami pikir laki-laki itu bijak.

Ketika mereka sedang menyantap makan siang, suara bel terdengar. Sakti menghentikan acara makannya dan ingin melihat siapa yang datang, tetapi Alif mencegah dan meminta Sakti untuk meneruskan santap siangnya.

Alif menuju ruang tamu dan melihat pada layar monitor pemantau ada seorang wanita di depan pintu apartemen, wanita itu adalah kakak iparnya, Andrea.

Alif meringis, ia harus menyiapkan mental sekuat baja apabila menghadapi perempuan unik itu dan menebalkan kupingnya karena ledekannya yang bisa membuat kupingnya seketika memerah.

***

"Nah, yang ini bagus Lif.." Andrea menunjukkan sehelai baju kasual padanya, Alif tersenyum dan mengangguk patuh pada kakak iparnya itu.

"Kak, ini sudah berapa baju yang kita beli." Alif mengingatkan Andrea dengan takut-takut, ngeri kalau ia salah bicara akan di tertawakan oleh wanita itu.

"Lif, kamu itu istrinya Sakti.. jadi kamu harus menyesuaikan penampilanmu dengannya. Jujur ya, kalau kamu bersanding dengan Sakti ibarat kayak majikan dan pembantu. Up-grade dong penampilan kamu, banyak wanita yang mengejar-ngejarnya. Mumpung tadi Sakti ngasih kartu kredit unlimited buat kita habiskan." Andrea tertawa dan menasehati Alif sambil memilih-milih baju selanjutnya.

"Termasuk Deidre?" Alif kelepasan, ia tidak tahan untuk tidak bertanya tentang mantan istri suaminya.

Andrea terdiam, kemudian nyengir dan menjelaskan dengan tujuan memanas-manasi Alif.

"Iya.. kelihatannya Deidre masih mencintai Sakti. Kemarin ketika di Munich, aku sering melihat Mama menerima telpon dari wanita itu. Deidre ingin mencari simpati Mama dan kembali rujuk dengan Sakti. Aku tidak tahu apa ia masih mendekati Mama kalau ia mendengar berita pernikahanmu dengan Sakti."

Alif menggigit bibirnya, ia tahu ia tidak akan bisa bersaing dengan Deidre dalam soal penampilan. Gadis itu mulai terpengaruh dan mulai mencari baju, gaun, sepatu atau apapun yang berhubungan dengan fashion yang menurutnya menarik dan meminta pendapat Andrea mengenai pilihannya.

Andrea tersenyum melihat perubahan sikap adik iparnya, setelah mereka puas berbelanja di salah satu departement store kelas atas, Andrea berbisik pada Alif dengan nada bersekongkol.

"Kamu tahu Lif, apa lagi yang membuat Sakti susah move on dari Deidre?"

Alif menaikkan alis matanya, wajah gadis itu terlihat sangat penasaran.

"Deidre sangat mahir di ranjang.. kamu tahu Sakti sampai berhari-hari tidak keluar kamar pengantin ketika mereka baru menikah." Bisik Andrea di telinga Alif.

Alif terkesiap, sangat terkejut dengan apa yang diinformasikan oleh Andrea. Seketika gadis itu merasa ketakutan karena ia memang belum pernah melakukan sesuatu yang memang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri.

Andrea segera membalikkan tubuhnya dan terkekeh licik, sepertinya adik iparnya betul-betul memakan umpan yang ia pasang.

***

My Young BrideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang