Part 20: The Storm

78.7K 5.8K 313
                                        

Setelah menyerahkan tugas kemarin Alif merasa tenang, ia berharap tugas yang ia kerjakan dapat memuaskan hati Pak Satya, Dosen muda berumur 25 tahun tapi juteknya sedikit melebihi batas normal. Tetapi hari ini, Alif merasa sedikit sungkan mengikuti mata kuliah Introduction of English Literature yang juga pengajarnya adalah Satya. Tetapi tidak seperti Alif yang malas, Gita begitu bersemangat hari ini karena akan bertemu Pak Dosen yang menurutnya ganteng pake banget.

"Terus.. Revan mau kamu apain Git? Katanya kamu suka sama Revan kan?" Alif meledek Gita, tentu Alif tidak membicarakan apa yang terjadi antara dia dan Satya minggu lalu, bagi Alif persitiwa itu seperti sebuah aib yang memalukan dan kalau bisa ingin ia singkirkan dari ingatannya.. dan kalau bisa juga ia ingin menyingkirkan keberadaan si dosen menyebalkan, tapi itu tidak mungkin.

"Revan ya Revan Lif.. Pak Satya ya pak Satya. Kalau Revan sih udah jelas bisa aku kejar, kalo Pak Satya mah cuma buat iseng-iseng.. cinta platonis." Gita nyengir dan berseloroh, cukup heran mengapa Alif sama sekali tidak tertarik dengan pak Satya, padahal hampir semua mahasiswi di kelas ini mengidolakannya.

Dan memang, setelah Satya mengajar pertama kali di kelas itu, laki-laki itu menjadi trending topic di hampir semua obrolan mahasiswinya. Sekarang, para mahasiswi sudah duduk dengan manis setengah jam sebelum jam kuliah dimulai, mereka tidak ingin terlambat satu detik pun untuk bertemu dan menikmati wajah tampan Satya.

Ketika jarum jam dinding tepat menunjukkan angka satu, pintu ruang kuliah terbuka. Satya masuk dan kembali membuat para mahasiswi terpesona. Laki-laki itu mengenakan kacamata, rambut coklatnya ia sisir ke belakang, dan tampaknya kemeja, cardigan dan celana panjang berwarna gelap adalah setelan favoritnya.

Semua mahasiswi menatap Satya tanpa kedip, laki-laki itu hanya tersenyum dingin, menatap ke seluruh penjuru kelas, mengucapkan salam singkat kepada mereka.

Tetapi ketika ia melihat Alif, tatapannya jatuh beberapa detik lebih lama. Tatapan mata Satya terlihat penuh tawa ketika melihat gadis itu, ia tersenyum sekilas dan membuat Alif jengah, mengalihkan pandangannya.

Alif mengerti dengan tatapan itu, Satya masih ingin membuat perhitungan dengannya.

***

Setelah selesai jam pelajaran, Alif cepat-cepat meninggalkan kelas. Ia tidak ingin Satya meminta hal yang aneh-aneh padanya, bukannya Alif GR tetapi instingnya mengatakan Satya tidak melepaskannya semudah itu.. dan semua tingkah dan pandangan sang dosen padanya selama jam pelajaran tadi mengindikasikan pada hal tersebut.

Alif melangkah cepat-cepat menuju musholla, setelah sholat ashar ia akan pulang.. walau tadi Gita dan Revan mengajaknya untuk kumpul-kumpul sejenak di kantin.

Alif melipat mukena setelah sholat, ponselnya berdering dan nama Sakti tertera di layar. Ia segera mengangkat telpon dan membalas salam suaminya.

"Waalaikum salam.. ada apa Mas?"

"Lif, aku lupa ngasih tahu kamu.. malam kemarin tujuh atau sepuluh lembar terakhir aku yang mengerjakan. Aku kasihan sama kamu, kayaknya udah capek banget." Kata-kata Sakti membuat Alif mengerti, mengapa Satya memandangnya di sepanjang jam pelajaran tadi.

"Oh.. terima kasih Mas. Omong-omong, Mas nulis tentang apa sih?" Alif tidak ingin membuat Sakti kecewa, ia tetap mengucapkan terima kasih, bagaimanapun niat Sakti sudah sangat baik.

"Mengenai teori ekonomi klasik, Wealth of Nations.. Adam Smith." Sakti menjawab dengan santai, tanpa mengetahui ekpresi muka Alif yang mengernyit.

Astaga.. Adam Smith? Pantas saja Pak Satya selalu terlihat geli setiap melihat wajahnya tadi.

Setelah mengatakan bahwa ia akan pulang secepat mungkin, Alif menutup telponnya. Gadis itu melangkah keluar musholla dan tertegun melihat seseorang yang tersenyum lebar padanya.

My Young BrideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang