Sakti tidak dapat berkonsentrasi pada meeting sore itu. Pikirannya dipenuhi oleh satu nama yang memang selalu ada di pikirannya dari awal ketika mereka bertemu, yaitu Alifia Sekarningtyas. Ketika pertama kali bertemu karena insiden konyol itu, mata indah gadis itu selalu terpatri di benaknya. Tak habis-habisnya Sakti tersenyum sendiri kalau ia mengingat gaya menari ala Beyonce gagal yang ditiru Alif habis-habisan.
Tetapi setelah insiden tadi siang... sesuatu di dalam benak dan tubuh Sakti berubah. Sekarang ia mengingat sentuhan gadis itu pada bagian tubuh paling pribadinya. Walau ia tahu sentuhan itu tak lebih dari sebuah kecelakaan dan faktanya mereka masih berpakaian sangat lengkap, laki-laki itu tak bisa mengenyahkan rasa itu dari dirinya. Rasa yang sangat ia kenal setelah ia menikahi wanita bergaya hidup sosialita bernama Deidre, wanita yang meninggalkannya tak lama setelah ia lebih memilih berkarir sebagai abdi negara. Rasa yang telah mati karena ia bunuh dengan bekerja keras hingga melupakan naluri primitif itu.
Sakti berpura-pura membaca hand out yang dibagikan oleh staf sebagai bacaan panduan untuk meeting yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga non-kementerian yang mengawasi standar produk. Kemudian laki-laki itu menatap salah satu rekannya sesama eselon dua yang sedang mempresentasikan suatu kebijakan baru mengenai pengenaan standar terhadap produk tekstil impor untuk membatasi membanjirnya produk dari China. Rekannya menganggukan kepalanya pada Sakti meminta suatu saran yang dapat mendukung idenya. Sakti tersenyum canggung, laki-laki itu hanya dapat mengutarakan pendapatnya sekadarnya saja, otaknya tidak dapat memikirkan apa-apa lagi saat ini. Ia hanya memikirkan Alif..
***
"Gimana dengan Alif Pak?" Pak Bas bertanya pada Sakti dan memandang laki-laki itu yang duduk di kursi belakang melalui kaca spion mobil. Pak Bas sedikit heran mengapa atasannya sangat diam hari ini, biasanya laki-laki itu mengobrol... paling tidak sepatah-dua patah kata walau sekedar hanya basa basi dengan Pak Bas.
Sakti terlonjak dari lamunannya. Nama gadis yang memenuhi pikirannya disebutkan secara lantang oleh laki-laki tua yang ia hormati walau berstatus hanya seorang pesuruh bergolongan II/c. Sakti lupa kalau Pak Bas adalah ayah dari gadis yang membuat ia kehilangan akal sehat hari ini.
"Ya? Ada apa Pak Bas?" Sakti bertanya ulang menutupi rasa kikuknya.
"Itu.. Alif Pak. Gimana? Kerjanya bagus gak tuh anak. Kalau dia males mau saya marahin. Saya malu kalau dia kerjanya gak bener."
"Oh, nggak Alif anaknya rajin. Kerjanya bagus sekali Pak." Sakti tersenyum mendengar ucapan Pak Bas yang penuh rasa khawatir.
Pak Bas, Alif kerjanya bagus sekali. Terutama tadi siang..
Pikiran Sakti mulai melantur, kemudian laki-laki itu menggelengkan kepalanya dan berdecak, mencoba mengusir bayangan itu dari kepalanya.
"Lho, kenapa Pak? Pusing?" Pak Bas melihat atasannya semakin aneh hari ini, banyak tersenyum lalu melamun, namun kadang-kadang sinar matanya bagitu aneh.
"Iya, saya tidur dulu ya Pak." Sakti memilih lebih baik berpura-pura tidur selama perjalanan mereka menuju rumah dinas.
Laki-laki itu merasa sangat bersalah karena merasa begitu kurang ajar hari ini. Bayangkan, ia berani mengkhayalkan suatu yang tidak pantas dengan seorang gadis di depan ayah gadis itu sendiri.
***
Alif mondar-mandir di dalam rumahnya yang sempit. Sesekali ia mengintip ke balik jendela, gadis itu menunggu ayahnya pulang. Alif tidak tahu lagi bagaimana akan mengambil tindakan dan bersikap, gadis itu ingin mengundurkan dirinya sebagai honorer di tempat kerja ayahnya. Alif merasa sudah tidak mempunyai muka lagi untuk bertemu dengan Sakti.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Young Bride
Romantizmkau tidak dapat mengatur hati untuk jatuh pada siapa.. PS. Semua part akan sy upload kembali secara bertahap... Happy reading!
