Alif berpamitan pulang pada Ayahnya, gadis itu dengan takut-takut melirik pada Sakti yang menatapnya penuh pengharapan dan cinta. Sebelum meminta izin pada Sakti, laki-laki itu mengisyaratkan akan menghubungi Alif dengan ponselnya malam ini. Alif hanya menundukkan pandangannya, ia bingung bersikap menghadapi Sakti dan Ayahnya dalam waktu bersamaan.
Pak Bas memperhatikan gerak-gerik kedua orang yang sangat ia sayangi dalam hidupnya, ia sudah bisa mulai menebak apa yang terjadi pada mereka. Pak Bas berharap semoga semuanya baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang akan muncul. Laki-laki itu merasa cemas dengan apa yang ia pikirkan sekarang.
***
Sakti memperhatikan Pak Bas yang mondar-mandir di kamarnya, membereskan semua buah tangan yang dibawa oleh para penjenguk yang tidak berhenti datang ke kamar inap Sakti setelah kepulangan Alif. Pak Bas mendesah lega, bersyukur putrinya sudah tidak ada di ruangan ini.. ia membayangkan gosip yang semakin kencang apabila orang-orang kantor melihat kehadiran Alif yang setiap hari pasti ada di samping Sakti.
"Ehm Pak Bas.." Sakti membuka pembicaraan dengan laki-laki tua itu.
"Ya Pak Sakti?" Pak Bas menoleh, meletakkan sebagian buah-buahan ke dalam lemari pendingin. Kemudian ia bergegas menghampiri sang Eselon 2.
"Saya ingin bicara dengan Bapak mengenai Alif, putri Bapak." Sakti berkata pelan dan merasa sedikit gentar karena ia akan meminta seorang perempuan untuk dijadikan sebagai pendamping hidupnya kepada sang Ayah. Walau Sakti pernah melakukan hal ini sebelumnya dan juga posisi Pak Baskara adalah bawahannya, tetap saja laki-laki itu merasa gugup.
"Kenapa dengan Alif, Pak? Saya meminta maaf kalau tingkah laku Alif di luar batas kesopanan dan juga membawa-bawa nama Pak Sakti menjadi kurang baik." Pak Bas sangat ketakutan ketika nama Alif keluar dari mulut Sakti, pikiran buruk segera menggelayuti otaknya. Pak Bas mengira Alif melakukan hal yang tidak pantas seperti mengejar-ngejar Sakti dengan agresif tanpa ia ketahui sama sekali.
Sakti tersenyum mendengar ucapan Pak Baskara.
"Pak Bas.. tolong ambil kursi dan duduk di samping saya sebentar. Ada hal yang sangat penting yang ingin saya bicarakan dan sama sekali tidak berkaitan dengan gosip yang beredar akhir-akhir ini tentang saya dan Alif. Walau saya tidak memungkiri kalau hal yang saya bicarakan juga mengenai Putri Bapak." Laki-laki itu menenangkan Pak Bas yang sangat merasa malu dan ketakutan dalam waktu bersamaan.
Pak Bas segera menyeret kursi lipat dan meletakkannya di samping tempat tidur Sakti. Laki-laki tua itu duduk di depan sang atasan dengan rikuh.
Sakti menghembuskan nafasnya dalam-dalam, laki-laki itu menegakkan punggungnya dan tatapan matanya ia jatuhkan pada Pak Bas dengan penuh hormat. Sakti mempertaruhkan sebagian harga dirinya saat ini, karena apabila Pak Bas menolak maka ia tahu ia dianggap oleh Pak Bas tidaklah cukup pantas bagi Alif. Sakti merasakan kemungkinan tertolak tetap ada, mengingat rentang umurnya dan umur Alif yang sangat jauh berbeda.
"Pak Baskara, saya Raffardhan Sakti Al-Akbar, meminta restu Bapak untuk dapat memiliki Alif sebagai pendamping hidup saya, istri saya.."
Pak Bas mengerjap, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Sakti. Apakah ia tidak salah dengar? Apakah semuanya hanya mimpi?
"Saya sungguh-sungguh mencintai Alif dan saya akan memperlakukannya sebagai seseorang yang paling berharga di dalam hidup saya baik kini ataupun nanti." Sakti kembali meyakinkan Pak Bas, Sakti mengira Pak Bas diam karena tidak setuju dengan lamaran itu.
"Pak Bas?" Sakti melambaikan tangannya di depan wajah laki-laki tua itu.
"Ah iya-iya Pak Sakti.." Pak Bas tersadar dan merasa sedikit jengah, dia masih tidak percaya seorang direktur eselon 2 melamar putrinya yang hanya seorang honorer tamatan SMU.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Young Bride
Romancekau tidak dapat mengatur hati untuk jatuh pada siapa.. PS. Semua part akan sy upload kembali secara bertahap... Happy reading!
