Part 13b: A New Life

75.9K 5.9K 168
                                        

"Lif, hari ini cuti saya sudah selesai. Saya pergi kerja.. kamu nggak apa-apa di rumah sendirian?" Sakti bertanya pada Alif, sebenarnya Sakti enggan meninggalkan istrinya sendirian di rumah karena takut emosi gadis itu belum stabil sepenuhnya.

"Nggak apa-apa Pak. Pak Sakti yang ntar nggak enak sama orang kantor. Bapak kan cuma ngambil cuti tiga hari, walau hanya sebentar pasti banyak pekerjaan yang tertinggal." Alif mengobrol sambil memasak sarapan di dapurnya yang sangat sederhana, sementara Sakti terpesona dengan Alif yang sangat cekatan mengolah bahan-bahan dapur... tidak heran kalau gadis ini tiap hari bisa memasak lima porsi sarapan tanpa merasa direpotkan pikir Sakti kagum.

Kemudian Alif meletakkan semua piring dan mangkuk hasil kreasinya di meja makan tempat Sakti bertopang dagu menunggu. Laki-laki itu dengan sigap mengambil piring dan membantu Alif menata meja makan dan mengambil sebuah teko untuk menyeduh teh.

Alif melongo menatap Sakti, tidak mengira laki-laki itu mau menyiapkan sarapan bersamanya.

"Kenapa? Kamu pikir saya gak bisa apa-apa ya?" Sakti terkekeh melihat wajah Alif.

"Iya.. Pak Sakti kan kastanya berbeda dengan saya. Banyak orang yang melayani Bapak dari kecil hingga saat ini kalau saya melihat gaya hidup Pak Sakti."

"Siapa bilang? Saya sendirian tinggal di apartemen Lif.. pembantu hanya datang untuk bersih-bersih." Sakti terkekeh, laki-laki itu menarik kursi dan menyuruh Alif duduk terlebih dahulu.

Sakti melipat tangannya di atas meja, matanya menelusuri wajah Alif intens.

"Saya memimpikan mempunyai istri yang bisa menyiapkan sarapan untuk saya tiap pagi, Tuhan begitu baik hati mengabulkan keinginan saya walau memang cukup lama.."

Wajah Alif memerah, gadis itu menunduk dan mengalihkan perhatiannya dengan menawarkan Sakti lauk apa saja yang diinginkan laki-laki itu di dalam piringnya.

Sakti tersenyum dan menunjuk dengan jarinya apa yang ia ingin makan. Ketika Alif selesai meletakkan semua yang diinginkan Sakti di dalam piring, gadis itu meletakkan piring yang penuh di depan suaminya.

"Terima kasih Lif.." tangan Sakti menyentuh lembut tangan Alif yang masih memegang piring, sentuhan itu membuat Alif sedikit terlonjak.

Alif merasa heran, sebelum mereka menjadi pasangan suami istri bukankan ia sering menyentuh jemari lelaki itu? Tetapi mengapa sekarang rasanya begitu berbeda, semua sentuhan laki-laki itu bagaikan percikan-percikan listrik yang membuat kulitnya meremang..

***

"Neng Alif.. ada yang nyariin tuh." Suara ibu tetangga memanggilnya dari teras rumah. Alif yang baru selesai membersihkan seluruh bagian rumah -gadis itu sengaja mencari kesibukan agar tidak terus mengingat almarhum Ayahnya- segera menuju ruang tamu dan mengintip dari balik tirai jendela.

Seorang Ibu yang cukup berumur, mungkin usianya kurang lebih enampuluh tahun, berdiri di teras rumahnya. Ibu itu terlihat sangat elegan dan juga sangat menarik penampilannya walau cukup sepuh. Alif membuka pintu rumahnya, sang tamu reflek mendengar suara pintu terbuka dan menoleh pada Alif.

"Maaf, Ibu cari siapa?" Alif bertanya sopan.

Sang Ibu hanya diam, wanita itu memandang Alif dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah menilai gadis itu. Alif merasa jengah karena ia hanya memakai baju kaos dan celana pendek, seragam kebangsaannya apabila sedang bersih-bersih.

"Saya Ibunya Sakti dan kamu Alif bukan? Artinya kamu menantu saya yang baru."

Jawaban sang Ibu membuat Alif terkejut, seketika gadis itu kikuk karena sama sekali tidak menyangka wanita itu adalah ibu mertuanya.. Alif dengan cepat meraih tangan kanan wanita itu dan menciumnya, Ibu mertuanya hanya menggeleng dan berseloroh tanpa peduli.

My Young BrideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang