Part 6b: Good Girl

74.4K 6K 59
                                        

Dian bersenandung riang, hari ini gadis itu begitu bahagia karena ia diantar oleh seorang pengagumnya dengan mobil baru, alhasil hari ini ia lebih cepat tiba di kantor hampir satu jam sebelum jam kerja dimulai.

Dian meletakkan tas tangannya di laci meja, di ruangan itu belum terlihat satu orang pun, hanya ada dirinya yang berada di ruang sekretaris. Tapi..

Lamat-lamat Dian menajamkan pendengarannya, sepertinya suara itu berasal dari ruangan Pak Direktur. Dian mendekati ruang Direktur, ia juga mendengar suara perempuan yang berkicau riang. Dian melihat pintu ruang Direktur terbuka sedikit, gadis itu mengintip diam-diam. Ia melihat Alif di sana, begitu lepas tertawa dan bercanda dengan Sakti.

Mata Dian menyipit, seketika ia sangat cemburu dan sekaligus membenci gadis kampungan yang dulu tidak ia pandang sebelah mata tetapi sekarang ia anggap sebagai saingannya.

Sialan, aku berusaha menarik perhatian Pak Sakti selama bertahun-tahun, tapi Alif si dekil hanya membutuhkan kurang dari dua bulan dapat sedekat itu dengannya.

***

"Kamu ngapain Lif tadi pagi?" Dian bertanya, mata gadis itu menatap Alif sinis. Ia sengaja menunggu beberapa saat hingga Iwan dan Sakti tidak ada di ruangan untuk menyerang Alif.

Alif yang sedang membuka salah satu web penyedia jasa terjemahan gratis melihat Dian dengan pandangan bingung, tetapi gadis itu kembali menatap layar komputer, mengabaikan pertanyaan Dian.

"Kamu gak usah pura-pura bego Lif. Kamu di ruangan Pak Sakti kan tadi pagi?" Dian menekan tombol off layar komputer Alif, memaksa gadis itu untuk memperhatikannya.

"Mbak, saya lagi kerja. Kalau ingin bicara tentang hal di luar pekerjaan dan apa yang Mbak bicarakan mengganggu kerja saya, kita bicarakan di luar jam kerja." Alif menatap Dian berani, ia tidak suka diperlakukan dengan kurang ajar oleh seniornya. Ia menyalakan layar komputernya kembali.

"Oh, begitu. Kamu sok banget, lulusan SMU aja belagu banget." Dian tertawa sinis lalu kembali ke meja kerjanya. Ia yakin setelah ini, Alif akan menangis karena ucapannya.

"Gak masalah Mbak kalau saya lulusan SMU. Daripada tamat S1 tapi menganalisa dan menerjemahkan saja nggak becus." Alif berkata pedas sambil menatap layar komputernya, ia tidak berminat meladeni Dian lagi.

Wajah Dian memerah, ia menatap Alif dengan marah karena ia tidak bisa membalas gadis itu karena semua yang dikatakan Alif benar. Dian tahu siapa yang dibicarakan oleh gadis itu tadi adalah dirinya karena semua pekerjaan menerjemah dan menganalisa yang ditugaskan oleh Sakti dialihkan pada Alif. Ia akan membalas gadis ini, lihat saja nanti!

***

Satu minggu ini gosip berhembus kencang mengenai Alif, kabar negatif yang menyerang kehidupan pribadi Alif. Mulai dari rekruitmen Alif yang katanya direkomendasi oleh orang dalam hingga simpang siurnya cerita kalau Alif menjalin hubungan dengan seorang pejabat di kementerian ini.

Pak Bas mendengar semua gosip di pantry pagi itu, suasana pantry yang ramai karena obrolan para penghuninya tiba-tiba senyap begitu Pak Bas muncul di pintu pantry. Semua office boy pura-pura tidak melihat laki-laki tua itu, padahal Pak Bas biasanya sangat dekat dengan mereka.

Laki-laki tua itu menghela nafas, memikirkan putri tunggal kesayangannya. Baginya Alif adalah anak baik yang tanpa cacat dan cela di mata laki-laki itu. Ia tahu kalau gosip itu disebarkan oleh orang yang iri dengan anaknya yang bisa diterima dengan begitu mudah sebagai honorer di direktorat ini, padahal banyak anak-anak pegawai yang bestatus PNS tidak dapat bekerja di sini.

My Young BrideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang