Epilog

69.6K 5.1K 176
                                        


Dari ruang duduk Alif mendengar suara putrinya tergelak-gelak sedang bercanda dengan Sakti. Walau televisi yang berada di dalam kamar dinyalakan dan menayangkan acara infotainment yang sebenarnya tidak ia suka, tawa riang Kania memenuhi semua ruang apartemen. Alif menatap ke kaca meja rias, melihat bayangan dirinya sendiri yang terpantul di sana, mengenakan jubah wisuda berwarna hitam... perempuan itu tersenyum bangga. Lalu sebagai sentuhan akhir, ia menyapukan blush on tipis pada pipinya.

"My Sunshine, udah selesai belum make-up nya? Si Kakak udah mulai rewel nih." Sakti melongokkan kepalanya dari balik pintu dan melihat Alif yang telah siap. Laki-laki itu terpesona kembali menatap wajah istrinya.

"Cantik... rasanya kembali lagi ke masa resepsi pernikahan kita."

Sakti melangkah masuk dan bediri di depan Alif, menikmati penampilan istrinya secara keseluruhan.

Alif mengerjap menatap Sakti, sejujurnya ia tidak suka mengenang resepsi pernikahan mereka karena mengingatkannya pada seseorang yang hampir pernah menghancurkan pernikahan mereka.

'Sosialita Deidre Marischa Prawira memutuskan melayangkan gugatan cerai pada suaminya, Reynaldi Prawira, pengusaha dan sekaligus orang nomor satu di suatu partai politik. Apakah ini akhir pernikahan ketiga Deidre?'

Suara presenter yang terdengar sangat provokatif dari televisi mengejutkan mereka berdua. Sakti dan Alif menatap layar televisi bersamaan dan disana terlihat Deidre yang mengenakan kacamata hitam, berusaha menutup wajah dengan syal yang ia kenakan. Wanita itu terlihat sedang keluar dari kantor pengacara terkenal.

Alif mengangkat alisnya pada Sakti dan nyengir, berpikir sangat kebetulan sekali ia memikirkan wanita itu dan televisi menayangkan beritanya pada saat yang tepat.

"Dua pernikahan dalam empat tahun terakhir, Mas?"

Sakti ikut-ikutan nyengir, ia tidak tahu kabar terakhir tentang mantan istrinya.Ia berjanji untuk mencari tahu atau berhubungan dengan Deidre semenjak kecelakaan itu, walaupun sebetulnya ia ingin membuat perhitungan dengan wanita itu.

"Dan laki-laki yang ia nikahi mirip dengan Mas Sakti, sepertinya Deidre tidak bisa move on dari Mas."

Alif menatap televisi, tetapi tatapannya menerawang jauh... mengenang semua kejadian saat itu. Sakti menggeleng dan menghembuskan nafasnya.

Sebuah tepukan di bahu menyadarkan Alif, Sakti tersenyum lembut dan tatapan matanya mengisyaratkan agar ia melupakan semua hal-hal buruk yang pernah terjadi.

"Sudahlah... yang penting kita masih bersama, Lif. Aku masih mencintaimu dan rasa cinta itu bertambah seiring dengan waktu yang kita habiskan bersama." Sakti berbisik lembut dan tatapan matanya mengisyaratkan agar Alif melupakan semua hal-hal buruk yang pernah terjadi.

"Dan aku masih mencintaimu dan rasa cinta itu makin besar seiring dengan kebersamaan kita." Sakti berbisik lembut kembali di telinga istrinya, ia memeluk Alif... sementara tangannya meraih remote televisi dan menekan tombol off.

Alif menyandarkan keningnya pada pundak Sakti, menikmati hangat tubuh suaminya dan bersyukur akan semua waktu yang telah lewati bersama.

***

Alif menatap layar ponsel, foto ayahnya yang sedang tertawa dan merangkul dirinya ketika acara kelulusan SMU kurang lebih enam tahun yang lalu membuatnya terharu. Hari ini mimpi ayahnya agar ia menyandang gelar strata satu terwujud, walau Abah tidak ada lagi di sisinya, Alif yakin Abah akan merasa bahagia sama seperti dirinya.

Abah, lihat... Alif sudah menyelesaikan apa yang Abah inginkan. Seperti yang Abah katakan, Alif bisa memperoleh semuanya walau telah menikah.

Alif mencium layar ponsel dan sedikit air mata menggenangi pelupuk matanya.

My Young BrideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang