Halooo... all readers!
Ampun gegara komen2 kalian pada part sebelumnya, jd menginspirasi saya untuk menulis part ini. Padahal udah janji sama diri sendiri ga mau nulis MYB lagi.
Part ini khusus dipersembahkan buat kalian yang masih ga bs move on dari Sakti dan Alif.
Btw, abis baca part ini sediakan obat diabetes ya wkwkwkw plus obat sakit perut juga.
Best Regards
VLeeRhysMancini
NB. Mungkin ini part terakhir yang saya tulis untuk MYB. kalaupun saya menulis lg, hanya untuk versi cetak (kalau jadi cetak, doakan saja)
Aku kira perbedaan umur tidak pernah menjadi masalah bagi kami, tetapi aku salah... sangat salah. Di umur yang akan menginjak empatpuluh duatahun, katanya di usia kepala empat life is begin, tetapi aku malah mulai kehilangan kepercayaan diri.
Alif baru melahirkan anak kedua kami, seorang anak laki-laki yang sangat tampan dan kuat, kata orang-orang yang telah menjenguk Rayyan, sang bayi yang sangat mirip denganku.
Saat ini, tengah malam ini... aku menikmati pemandangan yang sangat mendamaikan hati, Alif yang sedang tertidur bersama Rayyan, si bayi masih mencecap ASI dari payudaranya. Sementara Rania tidur menempel di ketiakku dan tangan mungilnya menggapai lengan Ibunya.
Aku nyengir, Alif walau telah melahirkan dua kali dan juga ia bersikeras untuk memberikan asi eksklusif untuk keduanya selama dua tahun, ia tetap terlihat cantik dan sexy. Bahkan ia semakin mempesona setelah melahirkan, tubuhnya menonjol di tempat yang pas. Misalnya, payudaranya yang semakin membusung dan pinggulnya juga lebih membulat..
Aku meneguk ludahku sendiri... Aku tahu masa nifasnya telah berakhir tetapi aku tetap tidak tega untuk meminta hal itu pada Alif, karena ia terlihat sangat kelelahan setiap aku pulang dari kantor.
"Mas, tolong ambil popok Rayyan. Sudah 4 jam popoknya belum diganti." Tiba-tiba Alif Alif meminta bantuanku, ia terlihat sangat mengantuk. Wajar, sekarang masih pukul dua pagi dan Rayyan susah sekali ditidurkan akhir-akhir ini.
Aku segera memenuhi permintaan Alif, mengambil sebuah popok dari keranjang rotan yang terletak di samping tempat tidur. Alif melihatku dan tersenyum.. matanya setengah terpejam, ia akan bangkit dari tidurnya.
"Ssst, biar aku saja yang menggantinya. Alif tidur saja." Akuberbisik dan menepuk pahanya. Alif tersenyum kembali, memajukan tubuhnya sedikit lalu ia menyentuh pipiku.
"Terima kasih Mas.."
Setelah itu ia tertidur kembali, meringkuk nyaman. Rayyan yang telah melepas payudaranya telah tertidur nyenyak. Pelan-pelan aku mengganti popok anak laki-laki kebanggaanku, sang bayi berdeguk kekenyangan dan sedikit menggeliat.
Aku mendendangkan lullaby setelah mengganti popok, aku membuai Rayyan dalam pelukanku dengan lembut agar ia tertidur kembali. Sudah menjadi komitmenku apabila mempunyai anak, aku ingin terlibat langsung dalam proses membesarkan mereka... sejujurnya aku menikmati hal ini, aku menyukai ketika mereka tertidur dalam pelukanku dan yang paling ekstrim dari hal ini, aku sama sekali tidak merasa kesal ketika Rania pernah pup di kedua tanganku dan Rayyan pernah pipis tepat di mukaku.
Kalian tahu apa yang aku rasakan? Aku sangat bahagia...
Tentu saja tidak ada teman ataupun kerabat, bahkan Andrea, mengetahui betapa tergila-gilanya aku dengan bayiku. Bahkan Alif pun tidak... istriku hanya mengetahui aku hanya sukarela berbagi peran sebagai pengasuh anak-anak ketika aku di rumah karena kami tidak menggunakan jasa baby sitter sama sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Young Bride
Romansakau tidak dapat mengatur hati untuk jatuh pada siapa.. PS. Semua part akan sy upload kembali secara bertahap... Happy reading!
