"Nngh..." geliat pelan Ranu tunjukan melalui gerakan kepalanya. Namun, yang selanjutnya terdengar adalah desisan akibat rasa nyeri yang menyerang bagian perut hingga dadanya.
"Uhuk..."
Hanya batuk pelan saja, tapi karena guncangan kecil tersebut langsung membuat bagian perut yang dililit plester rekat tersebut mengencang, erangan kesakitan langsung Ranu suarakan.
Ruangan tersebut lengang. Tidak ada yang Aira izinkan masuk karena memang Ranu sendiri dikuncikan diruangan tersebut. Rasa sakit yang menjalar hingga ke sendi-sendi tubuh membuat Ranu mengejang. Dua tungkainya menjejak penuh kesakitan.
"Toh—ng.... tohlong..." desisan lemah tersebut segera membuat masker oksigen yang melingkupi wajahnya menimbulkan uap tebal.
Seketika pandangan Ranu buram karenanya. Napasnya menderu, tapi semakin dirinya berusaha menahan rasa sakit tersebut semakin sengatan-sengatan nyerinya menyiksa tiada henti. Ranu benar-benar menderita sekarang, dengan bagian perut yang seolah seluruh ototnya tertarik dan mengejang juga napasnya yang menyesak.
"Tohhh—long..." desisan demi desisan Ranu suarakan. Dua tangannya mengentak disisi tubuh.
Ranu pikir dirinya akan mati karena tersiksa oleh rasa sakit tersebut. Tapi, beruntung Aira yang memang datang untuk mengecek keadaan Ranu berhasil menemukannya yang meregang penuh kesakitan.
"Astaga! Jangan bergerak!" Aira melemparkan asal stein yang dibawanya berisi obat Ranu secara asal. Langkahnya melebar menghampiri ranjang dimana erangan Ranu penuh akan kesakitan.
Bahu Ranu ditahan untuk tidak mengerahkan tenaga mengejang atau akan semakin kemperburuk kondisinya. "Jangan banyak bergerak, lukanya masih menyisakan memar yang cukup parah."
Ranu menggerak-gerakan kepalanya dengan raut penuh kesakitan. Seandainya bisa, Ranu juga ingin menghentikan tubuhnya yang mengejang akibat desakan rasa sakit.
"Saaa—kit.... tohhh—ng... tolong..." lirih Ranu diantara masker oksigennya yang mulai melorot jatuh ke dagu.
"Aku tahu tapi kamu harus tenang," Aira merangkum wajah Ranu. Turut menyesal atas penderitaan yang Ranu rasakan sekarang ini.
"Saaa—kit...." gumamnya kemudian disusul oleh gerakan kepala yang menekan kesisi kanan hingga separuh wajahnya terbenam dibantal.
Respon atas rasa sakit memang membuat Ranu tanpa sadar mengencangkan seluruh otot di tubuhnya. Masalahnya, hal tersebut justru semakin membuat tekanan otot perut mengejang yang melipatgandakan rasa sakit Ranu saat ini.
"Hei.. dengar aku," Aira mencoba merangkum kembali wajah Ranu. Takut desakan bantal justru akan semakin membuat napas lelaki tersebut melambat. "Aku suntikan obat penghilang rasa sakitnya lagi, ya?"
Ranu tidak lagi merespon karena rasa sakit yang mendera.
Aira lantas mengambil inisiatif untuk memberikan satu suntikan pain killer pada lengan Ranu. Dokter sudah menduga bahwa begitu mendapatkan kesadarannya, Ranu bisa saja akan mengalami ini. Dan pain killer adalah jalan tercepat untuk meringankan rasa sakitnya.
"Ngg— akkh..." desis Ranu saat cairan pain killer berhasil diinjeksikan pada pembuluh darahnya.
"Shhh... stay still. Rasa sakitnya akan berkurang, oke?" Aira mengusap kening Ranu yang basah oleh titik titik keringat.
"Haaah... haaaah... haaah... haah... hh..." perlahan napas Ranu memelan dengan interval lambat.
"Ya, relax..." Aira menatap senang pada Ranu yang mulai bisa mengendalikan rasa sakitnya. Tubuh yang semula kejang tersebut perlahan meluruh dengan suara napas yang teratur.
KAMU SEDANG MEMBACA
O B S E S I [END]
Fiksi UmumUpdate sesuka hati ❤ Hanya cerita fiksi dan tolong jangan diambil hati setiap adegannya karena mengandung abusive relationship 😉 Selamat membaca :* ■■■ Ranu Hasmi mencintai Anum yang merupakan kekasih hatinya. Sayangnya, statusnya yang hanya karyaw...
![O B S E S I [END]](https://img.wattpad.com/cover/297568882-64-k650668.jpg)