"Mama, mama, mama, mama, mama, mama," cerocos Raza, terus saja mengekori si mama meskipun berakhir diabaikan.
Kelakuan mereka berdua tak luput dari penglihatan Arga, santai di sofa sesekali menikmati camilan dan kopi yang dibuat sendiri. Karena Resa tidak mungkin mau membuatkan untuknya.
"Diem!" Resa pusing karena Raza berisik.
"Abisnya mama sih!" Raza kan ingin diperhatikan, sekaligus melendot pada Resa.
"Lendotin ayahmu sono!" Resa mendorong pelan Raza, agar menyingkir.
Raza cemberut, akhirnya sungguhan berlari menghamburkan diri pada Arga.
"Kenapa, hm?" Arga gemas sendiri.
"Mama marah," rengek Raza.
Arga terkekeh. "Bukan marah cuma emosian."
Raza masih cemberut. "Masa?" Tidak percaya dengan Arga katakan.
"Iya sayang, mama kan lagi beres-beres. Jadi, ganggunya nanti oke?"
Raza mengangguk paham, kemudian terusik melihat Resa seperti ingin pergi. Buru-buru turun dan mengejar. "Mama mau ke mana? Ikut!"
Resa masih tidak menggubris, sibuk memakai jaket dan membenarkan sepatunya.
"Mama ih!" Raza melompat ke punggung Resa. "Mama jangan marah!"
"Mau menemui seseorang dulu, kau sama ayah aja sono."
Raza malah menangis.
"Sebentar doang, nanti pulang lagi." Resa tidak mungkin membawa Raza, karena yang ditemuinya itu kerabat lama dari salah satu orang tuanya.
Sebenarnya agak heran, tidak biasanya mereka mau menemui. Semenjak kematian orang tuanya, Resa benar-benar hidup sendiri tanpa ada bantuan dari kerabat.
Efek latar belakang ibunya sebagai anak panti, menikah dengan ayah yang terlahir dengan kekayaan melimpah. Jadi, tidak direstui. Ditambah, kematian mendadak di saat Resa berusia 12 tahun.
Dari situ, Resa menjalani hidup baru sebagai anak miskin dan sebatang kara.
"Mama ikut!" rengek Raza.
Soal mengangkat anak, Resa memang menyembunyikan dari siapa pun. Terlebih lagi, memang sudah lost contact. Baru-baru ini dihubungi lagi.
Raza masih menangis dan terisak. "Mama mau ikut!" Bahkan menjulurkan tangannya, meminta digendong.
Resa memijit pelipisnya, kemudian menggendong Raza. "Diem."
Raza mengangguk dan masih sesegukan, Resa dengan terpaksa membawa untuk menemui kerabat menyebalkannya itu.
Arga terlupakan—eh?
"Kerabat ya?" Sembari menenggak habis kopi yang telah dingin, mulai mengikuti Resa dari jauh.
Arga memang sejak awal mengamati Resa, dan mencari tentang keluarganya. Namun, belum terlalu pasti karena memang sulit didapatkan jawaban yang sesungguhnya, tetapi tahu kalau keluarga Resa itu berantakan.
Bukan korban perceraian, tetapi keberadaan Resa tidak diterima karena latar belakang ibunya.
"Karena itu, aku memilihmu. Bukan efek kasian, tapi aku tulus." Arga frustrasi karena Resa masih saja menolak, walau tadi malam mendadak memberi kesempatan untuk menyentuhnya.
Resa terus melangkah, dengan sorot mata dingin. Sembari menggendong Raza yang terus memeluk erat leher Resa, karena takut akan dilepas dan ditinggalkan. Sudah tidak sesegukan lagi.
"Kukira kau nggak datang."
Resa tidak menggubris, langsung duduk dengan Raza yang melendot.
"Kau masih miskin kah?" Revan, sang kakek.

KAMU SEDANG MEMBACA
Gila! [END]
Random"Papa." Resa geram. "Pokoknya mama! Mama! Mama!" Raza bebal-eh? "Laki-laki otomatis papa, bukan mama!" Kesabaran Resa sudah diambang batas, bila tidak terus ditahan akan mengamuk. Raza diam, lambat laun berkaca-kaca, dan sesenggukan. "Mama! Mama! Ma...