"Kevin, gimana website Warna sama Braco? Sudah berapa persen progres revisinya?" Tanya Bagas.
"Maaf pak belum kepegang, kemarin sibuk ngurus fitur tambahan di Alosehat." ungkap Kevin takut-takut.
"Gimana sih Kev! Masa dari minggu lalu gak ada progres sedikitpun? Ngapain aja!" tegas Bagas.
'Nahkan ngamuk lagi ni boss. Semoga gue gak kena juga' batin Tiara.
Beberapa hari ini Bagas memang seperti macan sedang PMS. Semua rasanya jadi serba salah. Mungkin kalau kita nafas tidak sesuai dengan kemauan dia kena amuk juga.
Sudah hampir seminggu kantor panas karena sikap Bagas. Anak buah yang lain juga terasa cukup stres karena sikap Bagas.
Sejak kejadian minggu lalu saat Bagas menyatakan menyudahi hubungannya dengan Tiara. Di Senin paginya suasana kantor benar-benar mencekam. Bagas jika sedang mode Bos Galak begini benar-benar sangar.
"Tiara!"
"Iya Pak!"
"Content plan untuk klien gimana? Saya gak mau ada alasan ya. Kamu sudah saya beri kelonggaran berapa hari ini!" tegas Bagas.
'Mampus sudah. Harus jawab apa ini?' batin Tiara
"Kenapa diam saja? Jawab pertanyaan saya Tiara! Sudah sampai mana content plan klien untuk bulan depan?"
"Untuk Warna sama Braco kurang 3 brief lagi pak, Alosehat sudah selesai, tinggal eksekusi tim desain pak. Creativity masih kurang 2 minggu untuk rencana konten pak. Anuska Wedding sama Sunshine baru jadi untuk seminggu kedepan." jelas Tiara.
"Anuska sama Sunshine baru seminggu kedepan? Yang bener aja Tiara! Kamu kerja ngapain aja?"
Tiara benar-benar takut menatap Bagas. Pria di depannya ini benar-benar menyeramkan. Ingin rasanya Tiara teriak sambil berkata, 'Lu pikir klien lu gak minta revisi? Gue capek revisi mulu!' Tapi hanya angan Tiara saja.
"Jawab saya Tiara! Seminggu ini kamu ngapain aja? Kenapa content plan Anuska sama Sunshine masih baru jadi seminggu? Kamu tau kan seminggu kedepan kita udah masuk bulan baru? Cepet kamu jelasin!"
"Seminggu ini saya sibuk ngurus revisian dari Warna sama yang lainnya pak. Makanya brief untuk Anuska dan Sunshine masih kehambat." jelas Tiara.
"Revisian itu karena kerjaan kamu gak becus tau gak? Kalau kerjaan kamu bagus, klien juga gak akan tuh minta revisi! Terus untuk content artikel gimana? Saya gak mau dengar kamu belum ada rencana konten untuk artikel klien ya Tiara!" amuk Bagas.
"Artikel... Masih berupa kerangka kepenulisan pak!" jawab Tiara takut-takut.
"Saya gak mau tau, pokoknya brief Anuska dan Sunshine harus selesai minggu ini. Begitu juga brief content untuk klien yang lain. Minggu depan saya udah dengar content plan selesai beserta rekapan masing-masing klien!" tegas Bagas.
Jujur saja berat rasanya bagi Tiara. Membuat sebuah konten bukan hal yang mudah namun juga bukan hal sulit. Terkadang kita sudah buatkan brief, klien minta revisi. Terkadang brief sudah jadi tetapi team desain kurang apik eksekusinya sehingga harus revisi. Ini yang membuat berat pekerjaan Tiara. Tidak hanya mengurus content, sosmed tetapi juga harus pintar mengurus kemauan klien. Belum lagi kalau klien rewel minta revisi ini itu, semakin pusing otak Tiara.
"Ini berlaku untuk semua ya! Saya gak mau kalian buat kesalahan kecil yang bisa berdampak besar ke team dan perusahaan ini. Semua mengerti!"
"Iya pak!" ucap mereka secara bersamaan.
"Oke meeting kali ini cukup sampai sini dulu. Kalian boleh balik ke kerjaan kalian masing-masing." ucap Bagas.
Selesai meeting, semua kembali ke meja kerjanya masing-masing. Setiap orang fokus akan pekerjaannya, tak terkecuali Tiara. Seolah tak ada jam istirahat untuknya. Saat yang lainnya makan siang, Tiara lebih baik tetap di meja kerjanya menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Meja Kantor
RomanceTiara seorang Copywriter dengan kelakuan absurd dan hampir tidak percaya cinta. Karena sifatnya tersebut pria lebih senang menjadikan Tiara sebagai teman. Hingga suatu hari Tiara diterima sebagai penulis untuk sebuah website. Bagas Pratama adalah p...
