Terpaksa menikahi seseorang yang tidak dicintainya demi bisa melanjutkan pendidikan ke Jakarta, Tamara yang terkenal keras kepala tak mampu bekutik dikala dalam waktu semalam, dirinya sudah berstatus menjadi istri seseorang.
Suaminya, Kameda Husein...
n : sorry banget bahasanya suka berubah² sesuai mood. Enjoy the story aja yaa ✋ kalo ada typo comment yaa guys, sowwryyy.
Keesokan harinya, seperti hari hari biasanya, kami sudah akan bersiap pergi ke kampus. "Lho mas kamu kenapa gak bangunin aku sih kalo pagi? Jadi kamu terus yang masak sarapan." Mas Meda terkekeh, "abisnya kamu kalo tidur lucu banget, mas jadi nggak tega banguninnya. Jangan lupa ya bekel couple nya dibawa." Mas Meda menunjuk ke kotak bekal yang berisi makanan favorit ku.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kamu dapet ide darimana bikin bekel couple gini?" Tanyaku seraya memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas. "Dari beberapa mahasiswa 🐭 ternyata lucu juga" aku mengapresiasi idenya dengan mencium pipinya tiba tiba, "eh?" Mas Meda terkejut dengan tindakanku, "apa yang barusan?" Tanya mas Meda sambil mengontrol raut wajahnya.
"Bukan apa apa." Aku menutup pintu kamar kemudian mendahului mas Meda keluar dari unit dan menunggunya di depan.
Selagi menunggu mas Meda, aku melihat seorang wanita berhijab yang baru saja keluar dari lift, wajahnya seperti tak asing, tapi aku tidak mengingat siapa dia. Tetapi tiba tiba saja wanita itu menghampiri ku, "Lho Tamara?" Aku tersentak, "Eh siapa ya?" Aku berusaha mengingat lebih keras lagi.
"Aku Fia, wajar aja kamu ga inget, kita jarang ketemu." Aku langsung ingat begitu ia menyebutkan namanya, tapi kenapa dia bisa ada disini? Kebetulan sekali. "Lho ada Fia?" Ucap mas Meda yang juga terkejut ketika keluar dari unit kami. "Eh mas Meda apa kabar?" mas Meda tersenyum dan menjawab "Baik kok, kamu sendiri gimana? Kok bisa ada disini?"
"Aku ikut pertukaran pelajar ke universitas Indonesia mas." Mataku membulat ketika mendengar nama universitas yang sama. "Saya dosen disana, dan Tamara juga mahasiswi disana. Kebetulan banget ya." Jawab mas.
"Oalah begitu, iyaa kok bisa kebetulan banget ya?" Aku melirik mas Meda sekilas, mas Meda sepertinya paham bahwa kami harus segera pergi karena sebentar lagi jalanan akan macet. "Kita duluan ya Fi, takut kejebak macet." Ucap mas Meda kemudian kami pergi.
Sepanjang perjalanan, aku sibuk berpikir. Entah kenapa rasanya sangat aneh, dan juga aku khawatir wanita itu akan membocorkan pernikahan kami. Yah...lagi lagi aku bisa bilang dunia ini begitu sempit. Entahlah, aku pusing dan mual memikirkan segalanya.
"Tamara? Kamu kenapa?" Tanya mas Meda sambil sesekali melirikku. "Gapapa mas, cuma lagi mikir aja." Jawabku kemudian pura pura tidur. Aku bisa merasakan sentuhan lembut mas Meda di kepalaku ketika aku mulai terlelap tidur. Sebenarnya aku hanya ingin menghindari pertanyaannya, tapi malah tertidur beneran.
Sesampainya di parkiran, kami langsung berpisah, rencanaku, aku ingin terlebih dahulu pergi ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku. Tiba tiba saja aku teringat kejadian dua hari lalu. Astaga aku melupakan Agnes! Bagaimana kalau dia menagih janjiku? Tapi untungnya aku belum menerima apapun darinya.
Aku sibuk memperhatikan sekeliling, untungnya Agnes tidak ada di perpustakaan, namun aku tetap tidak bisa berlama lama disana. Padahal bisa saja aku ngeles, tapi aku lebih baik tidak bertemu dengannya karena jujur saja aku sangat malas mencari cari alasan. Mas Meda juga akan sangat marah jika aku melanjutkan itu.
Siang hari, Di kantin.
Wow! Sungguh ajaib. Aku melewati setengah dari hari ini tanpa melihat Agnes maupun Andre, apa mereka sudah lenyap ditelan bumi? Keberadaan mereka entah kenapa membuatku merasa terancam. Fyuh! Tapi tiba tiba saja seseorang memanggilku. Aku pun menoleh. "Eh, Fia?" Tunggu sebentar, dia belum tau soal hubungan ku dengan mas Meda disini! "Fi, ada yang mau gue omongin, tapi gak disini, ikut gue." Aku mengajak Fia ke tempat yang lebih sepi.
Sebelum memulai pembicaraan, aku memperhatikan sekitar. "Lo gak perlu kaget atau apapun itu. Tapi disini, status gue sama mas Meda itu cuma sebatas adik sama kakak. Gak lebih. Jadi please, jangan bahas apapun tentang gue sama mas Meda ke siapapun itu." Aku memperhatikan Fia, ia menatapku heran. "Kenapa pernikahan kalian harus disembunyikan?" Tanyanya. "Ceritanya panjang, pokoknya gue ga peduli apapun yang Lo lakuin disini, itu hak Lo. Tapi please jaga rahasia ini."
"Oke gue paham, tapi kalo gue jadi Lo, gue gak akan sembunyiin status ini, karena mas terlalu berkilau untuk disembunyiin." Ucap Fia kemudian pergi begitu saja tanpa basa basi. Dahiku reflek menyernyit. Apa maksudnya? Ah masa bodo. Aku buru buru melupakan hal ini dan kembali fokus pada kuliahku.
Di tengah jam pelajaran, Agnes berhasil menyelinap masuk ke dalam kelas tanpa sepengetahuan dosen kami yang sudah cukup tua. Aku menghindari tatapan mata Agnes dengan berpura pura mencatat sesuatu di buku.
Namun wanita itu malah duduk di sampingku persis. Mau tak mau aku menyapanya, "Kenapa telat?" Wanita itu malah menyengir, "Abis ngerjain tugas gue, kelupaan." Aku mengangguk kemudian kembali menyimak penjelasan dosen.
Selesai kelas, Agnes menahanku. Perasaanku sudah tak enak, dia seperti sudah bersiap untuk mengintrogasi ku saat itu juga. "Yang kemarin gimana?" Aku tersenyum masam, "Sorry ya nes, gue kayaknya gak bisa bantu, soalnya abang gue susah banget diajak kompromi, hehe." Agnes hanya mengangguk.
"Hmm...gapapa deh, biar gue usaha sendiri aja, thanks ya udah mau bantuin. Maaf jadi ngerepotin lo." Ucap Agnes. Aku tak menyangka akan mendengar itu dari mulutnya, ternyata dia bukan orang yang buruk. Benar juga, cinta kan bukan kejahatan, tidak mencintai juga bukan suatu kejahatan kan?
Voment for appreciate ✨ Kalau ada saran/masukan bisa di kolom komentar atau DM aja yaa! Enjoy~