DUA PULUH SATU

39 3 0
                                        

🍁🍁🍁🍁

Sebuah mobil tampak terparkir didepan rumah itu, mobil yang papah Juan hadiahkan untuk aleena dan zevan sebagai kado pernikahan. Ia sengaja memberikan mereka mobil sebagai alat transportasi yang dapat memudahkan mereka ketika hendak bepergian

Zevan terkejut melihat mobil yang tampak asing baginya itu,

" Hah! Pah... Itu..?" Lirihnya menebak

Papah juan tersenyum,

" Iyaa.. itu mobil buat kalian, biar gampang kalo mau pergi pergi, jadi gausah pake taxi lagi " jawabnya

Mungkin banyak dari kalian yang mikir ,orang kaya tapi kok minim mobil , jadi.. mobil keluarga papah juan sebenernya ada 3.. satu punya papah juan, satu buat keperluan BENZO, dan yang satunya punya mamah jiena.

Kalau untuk zevan, dia sebenernya udah pernah belajar nyetir, tapi papah juan baru bakal bolehin dia buat nyetir sendiri pas udah umur 20 tahun.

Tapi berhubung zevan sudah menikah, papah Juan berpikir kalau sepertinya sudah waktunya zevan buat punya mobil sendiri.

" Jadi.. aku udah boleh nyetir sendiri?" Tanyanya kegirangan

Papah juan mengangguk, yang diikuti oleh senyuman penuh diwajah zevan

Senyuman yang jarang muncul di wajah tampannya itu sangatlah manis, membuat siapa saja yang melihatnya diabetes di tempat (⁠ ⁠ꈍ⁠ᴗ⁠ꈍ⁠)

Aleena menatap heran bercampur takjub senyuman zevan. Ia pikir wajah kaku itu tak bisa memunculkan senyuman, apalagi senyuman semanis itu .

Aleena dan zevan menyalami ketiga orang tua mereka itu, berpamitan untuk menuju rumah baru mereka .

" Zevan, jaga Aleena, sekarang dia tanggung jawab kamu. Meski papah tahu ini perjodohan gak kamu setujui , tapi papah yakin ,kamu akan jadi imam yang baik dalam rumah tangga kalian ini " lembut Papah juan memegang pundak zevan

" Kalian berdua , yang baik baik disana.. sering seringin ngobrol, biar makin akur. Ya ?" Sambung mamah jiena menasehati

Keduanya mengangguk halus

Ibu laras memeluk erat tubuh aleena, ia pasti akan sangat rindu memeluk tubuh hangat nan mungil itu.

" Zevan, ibu titip aleena ya, jangan bolehin dia keseringan makan mie, hiks" pesannya

" Iya bu.." jawab zevan tersenyum kecil

Tangis haru tak luput dari perpisahan itu, meskipun rumah baru mereka jaraknya tak begitu jauh, namun tetap saja, mereka akan menjadi jarang bertemu.

Mereka menaiki mobil itu, zevan duduk di kursi sopir, dengan aleena disebelahnya.

Namun mengetahui bahwa ini adalah pertama kalinya zevan menyetir mobil sendiri, membuat Aleena sedikit khawatir

" Lo beneran bisa bawa mobil kan?" Tanyanya ragu

Tapi tak ada jawaban dari zevan, pria itu hanya tampak sibuk dengan kemudinya

"Beneran kayak ngomong sama kulkas.." sindir aleena merasa geram, ini sama persis seperti kejadian di gerbang kala itu, dimana zevan hanya diam tak membalas kalimat nya.

RAKANACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang