01-Allaxe

12.9K 827 13
                                        

Fourth menutup koper terakhir yang ia gunakan untuk membawa barang dan pakaiannya. Remaja tersebut telah berhasil di terima masuk di Allaxe, universitas yang konon katanya terkenal memiliki ujian masuk yang sulit. Karena Allaxe bukan hanya sekedar universitas biasa, melainkan salah satu cabang universitas internasional yang berpusat di Eropa. Kualifikasi siswa yang bisa di terima di Allaxe adalah siswa yang memiliki bakat tertentu dan telah di akui.

Tetapi Fourth baru mendengar informasi-informasi tersebut akhir-akhir ini. Mungkin karena ia baru mencari tahu. Beruntung Fourth sering memenangkan kontes sains dan olahraga semasa sekolah menengah. Namun gender keduanya tidak memungkinkan Fourth melampirkan piagam olahraganya. Joong melarang tegas akan hal itu.

"Fourth, saat kau tiba di Allaxe, temui guru pembina bernama Meen, kemudian beritahu padanya nama belakangmu," Pesan sang ayah, "Maaf, ayah tak bisa mengantar, tapi Joong akan pergi bersamamu,"

Saat pagi hari, dengan mobil sedan keluaran lama yang dikemudikan Joong, Fourth berangkat menuju universitas yang ayahnya inginkan berdasarkan permintaannya. Lagipula Fourth tak punya referensi, dan juga ia sekarang adalah omega, akan lebih baik jika ia tinggal di dalam asrama. Lebih aman.

Waktu tempuh yang Fourth dan Joong habiskan adalah empat jam hingga sampai ke Bangkok. Ibukota negara dengan banyak bangunan tinggi yang berjejer, sangat kontras dengan tempat tinggal asal Fourth yang masih asri dengan pepohonan dan perkebunan. Udara di Bangkok juga tak sebersih di rumah Fourth, Bangkok penuh polusi dan panas.

"Fourth, tolong buka ponselku dan aktifkan navigasi, dengan tujuan Allaxe,"

Sang adik menurut, ia membuka ponsel Joong dan memberikan sang kakak navigasi, hingga keduanya sampai dengan selamat di Allaxe.

Begitu mobil ayah mereka masuk ke dalam area kampus, pemandangan netra Fourth dan Joong langsung di suguhi gedung-gedung tinggi bercat biru laut. Warna khas dari Allaxe yang menenangkan. Joong membelokkan setirnya memarkir, tepat di depan gedung bertuliskan 'Omega's Dorm : F'. Gedung yang akan menjadi tempat tinggal Fourth selama beberapa tahun nanti.

"Ayo turun, aku akan membantumu,"

Sepasang kakak adik tersebut menuju ke bagian resepsionis, menanyakan apa yang ayah mereka perintahkan.

"Nattawat Jirochtikul... ah! Mrs. Meen sudah menunggu, mari!"

Lagi-lagi Fourth terpana, di tempat asalnya, hanya rumahnya yang memiliki desain paling megah, ayah Fourth adalah seorang saudagar kaya yang berhasil menyekolahkan Joong sampai luar negeri. Joong kini menjadi seorang dokter di daerah asal Fourth. Itu sebabnya sang ayah mampu mengirim Fourth ke Allaxe yang memiliki bayaran fantastis tiap semesternya.

Fourth kira, bangunan rumahnya sudah paling megah. Ternyata Fourth memang tidak pernah bepergian jauh sampai ke Bangkok. Bangunan Allaxe sungguh indah. Meskipun hanya berisikan lorong-lorong kamar, namun Fourth bisa merasakan bagaimana glamornya gedung yang ia pijaki.

"Halo, Fourth! Senang bertemu dengan kamu," Sapa seorang wanita usia matang yang berpapasan dengannya. Fourth merasakan aura omega yang kuat, sepertinya ia juga omega dominan sepertinya.*

Dalam pembagian gender kedua, ada alpha, omega, serta beta. Kemudian dalam alpha dan omega terbagi menjadi dua bagian lagi, dominan dan resesif. Dalam kata lain, yang kuat dan yang lemah. Jika di urutkan, Fourth sebagai omega dominan berada di tengah-tengah antara alpha dominan dan alpha resesif.

"Delapan kosong tiga... nah di sini! Delapan kosong lima, kamarmu dan dua orang lagi yang akan menjadi teman satu kamarmu," Ujar Meen setelah mengantarkan Fourth ke kamarnya, "Dan kunjungan selanjutnya, alpha di larang masuk," Lanjut Meen menatap Joong seraya tersenyum.

Sementara Joong yang di tatap seperti itu menjadi kikuk, "Er...baiklah, terima kasih, Mrs,"

Joong mengakomodasi hotel di sekitar Allaxe untuk menginap karena tidak mungkin langsung kembali ke rumah. Perjalanan empat jam amat melelahkan, Joong butuh istirahat, apalagi setelah berkeliling kampus yang akan menjadi lingkungan tinggal sang adik dalam beberapa tahun ke depan.

"Aku akan langsung pergi pagi hari, tidak bisa menemuimu lagi karena ada jadwal operasi, tak apa, kan?"

Fourth mengangguk kecil, "Baiklah, sebenarnya phi tak harus begitu, pekerjaanmu menunggu," Ujarnya, "Aku sudah besar, bukan anak Mattayom* lagi, huft!"

*Mattayom : Jenjang pendidikan setara SMP&SMA di Thailand

Sang kakak tertawa, lalu ia memeluk sang adik lembut, "Jaga dirimu baik-baik, hubungi ayah jika senggang," Joong menarik napas dalam, menguatkan dirinya agar bisa merelakan berjauhan dengan sang adik yang ia sayangi, "Kenapa rasanya berat sekali melepasmu?" Gumam Joong.

"Phi berlebihan! Aku hanya belajar, bukan menikah!"

Sepasang kakak adik tersebut masih berpelukan dalam beberapa saat, sebelum Joong mendapatkan panggilan dari ponselnya, "Sudah ya, aku harus membereskan barangku, hati-hati di jalan!"

***

Fourth menempelkan kartu identitas yang baru saja ia dapatkan pada pemindai yang terletak di bagian bawah gagang pintu kamarnya. Menurut peraturan, Fourth harus selalu membawa kemana-mana kartu identitas yang berisi nama belakang, tahun masuk uni, fotonya, dan sebuah kode pindai yang jika di pindai akan muncul data yang sama pada monitor.

Kartu identitas ini bagaikan kunci kemana saja, dan terhubung dengan sistem, jika hilang, maka akan merepotkan. Karena itu artinya kode harus di ganti, dan sistem juga berubah, butuh waktu untuk mengurusnya, dan selama itu si pemilik kartu yang kehilangan tidak bisa pergi kemana-mana tanpa bantuan orang lain.

Di dalam kamar, sudah ada dua orang yang tengah membereskan barang mereka. Fourth mengamati jika mereka adalah sepasang saudara kembar, karena paras mereka yang mirip.

"Hai! Aku Ford,"

"Aku Por! Siapa namamu?"

Kedua kembar tersebut tak bertanya apakah Fourth teman satu kamar mereka atau bukan, karena Fourth masuk ke dalam kamar menggunakan kartu identitasnya. Hanya kartu identitas si pemilik kamar yang dapat membuka akses, itu artinya di kamar 805 hanya Fourth dan si kembar yang bisa melakukannya.

"Er...aku Fourth, Nattawat Jirochtikul, senang bertemu dengan kalian!" Sapa Fourth balik, lalu meraih kopernya untuk di bereskan di dalam lemari yang sudah tertempel namanya di daun pintu.

Kemudian bahu Fourth diketuk tiga kali, "Aku membawa kue kering, sebagai salam perkenalan kita!" Por menyodorkan setoples kue kering berbentuk matahari, Fourth mengambil satu dan memakannya, "Keju, rasa kesukaanku, terima kasih!"

Fourth yang biasanya banyak bicara, kini merasa rendah diri karena penampilannya yang terkesan kampungan di banding Ford dan Por. Memang Fourth berasal dari kampung, hanya saja ayahnya kaya, jadi ia bisa sampai Allaxe. Fourth tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini










Bersambung, next update Vee belum bisa kasih kepastian yah, Vee masih ngonsep mulu soalnya huhuhuu

Rundung [GeminiFourth]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang