Berusaha Ikhlas

3.2K 215 13
                                        


Selamat Membaca😉❤️


"Tidak ada seorang ibu yang diam saat anaknya tengah membutuhkan bantuannya. Apapun akan dikorbankan seorang ibu, walaupun nyawanya sendiri taruhannya." Via Ayodianzha Kumala.

*****

"Alvin jangan pergi."

"Jangan tinggalin gue."

"LO GAK BOLEH PERGI ALVIN!"

"ALVIN,,,,"

"Woi dek bangun woi," Gibran terus mengguncang tubuh Azha.

"AZHA BANGUN!" teriak Gibran. Berhasil membuat Azha membuka matanya.

Terlihat nafas gadis itu tidak beraturan, bahkan wajahnya sudah dipenuhi keringat. Tubuhnya bergetar hebat, hingga tak disangka air matanya mengalir begitu saja.

"Hei kok nangis? kenapa hm?" tanya Gibran menaiki kasur, lalu duduk disamping Azha yang masih berbaring.

Azha merubah posisinya menjadi duduk, ia memeluk erat Gibran dengan tubuhnya yang bergetar.

"Mimpi apa hm? kenapa manggil nama Alvin terus?" tanya Gibran mengelus lembut rambut adik kesayangannya itu.

"Gue senang banget kalau ini cuma mimpi kak, gue bersyukur banget," lirih gadis itu bergetar hebat.

"Mimpi apa hm? cerita ke gue cobak," suruh Gibran.

Azha melepas pelukan itu, ia mendongak menatap mata sayu Gibran yang tengah menatapnya.

"Gue mimpi Alvin meninggal kak," jujur Azha menghapus air matanya yang mengalir.

Gibran tertawa, membuat Azha mendengik kesal. "Lo kenapa ketawa sih kak? ah ngeselin banget sih lo," geram nya.

"Di sekolah aja lo sok cuek sama dia. Berlagak udah lupa sama Alvin, tapi pas mimpi Alvin pergi lansung nangis kejer, ngelawak ya lo dek?" ledek Gibran tertawa puas.

Bughh

Saking kesalnya Azha dengan teganya menendang Gibran, hingga laki-laki itu dengan tragisnya mencium lantai.

"Auhhh durhaka lo sama gue dek," ringis Gibran mengelus keningnya yang berdenyut.

Azha tertawa puas menatap Gibran yang kesakitan dibawah sana, benar-benar adek durhaka.

Dengan kesalnya Gibran berdiri lalu duduk disamping Azha. "Gue mau ngomong serius sama lo. Gue udah tau siapa yang bunuh bunda."

Tawa Azha padam seketika, ia menatap Gibran dengan ekspresi serius. "Lo serius kak?" tanyanya.

"Pelakunya lagi berkeliaran dimension kita dek," jawab Gibran kembali membuat Azha kaget.

"Siapa?"

"Si nenek lampir Bella," jawab Gibran dengan cepat.

Azha melotot. "Lo serius nenek tua itu pelakunya?" kaget Azha bukan maen.

"Gue serius njirr yakali gue boong," kesal Gibran.

"Wanita iblis! gue harus ceblosin tuh orang ke penjara kak!" tegas Azha hendak turun dari ranjang, namun dihentikan oleh Gibran.

"Biarin dia bersenang-senang dulu dek. Jadinya gak seru dong kalau kita lansung ceblosin dia ke penjara gitu aja," gumam Gibran.

Azha menatap heran. "Maksud lo kak?"

Gibran tertawa pelan. "Sesekali kita gpp bersikap layaknya penjahat dek. Kita hancurin dulu mental dua wanita iblis itu, setelah itu baru kita ceblosin mereka, tapi bukan ke penjara melainkan ke rumah sakit jiwa."

𝐀𝐥𝐯𝐢𝐧𝐙𝐡𝐚Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang