Dewasa

23 1 0
                                        

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, padahal suara azan belum berkumandang mengisi udara bumi. Aku terusik dengan suara gorengan juga benturan antara kuali dan spatula yang berulang, masih terlalu dini tetapi ibu sudah berkreasi di dapur. Aku mendapatkan Rifa masih tergulung selimut bermotif hello kitty, matanya terpejam tenang dengan bibir yang agak menganga. Begitupun, dia masih terlihat cantik. Kalau sedang diam begini, orang-orang tidak akan mengira bahwa adikku yang satu ini sangat cerewet dan menyebalkan. Auranya yang anggun melahap banyak nilai positif. 

Langkahku terbawa ke dapur bertemu dengan ibu. Aroma ikan goreng menyambut indera penciuman. 

Kemarin, setelah ibu mengatakan "Ternyata anak ibu sudah dewasa." Aku tidak menyangka akan diberikan tanggung jawab setelahnya. Bahwa dari kata dewasa terselip sebuah pesan yang memuat beban. Masa remajaku sudah habis, kenyataannya hidupku sudah masuk kepala dua. Tidak banyak yang berbeda, namun harus ada perubahan. Orang-orang dewasa masih menyukai hal yang sama, seperti tidur siang misalnya, namun perihal dewasa melahapnya seolah jatah tidur siang hanya untuk anak-anak.  

Menjadi dewasa adalah wahana paling mengerikan sesungguhnya. 

Ibu mempercayai aku untuk mengurus rumah selama 5 hari, tanggung jawab pertama yang harus aku terima setelah menjadi dewasa. Tadi malam sebelum tidur, ibu sempat berbicara kepadaku mengena hal yang serius. Bahwa hari ini ibu harus pergi ke Langkat untuk memenuhi panggilan juru masak pesta, bersama dengan 2 rekannya yang lain. Sebenarnya ini bukan kali pertama ibu pergi keluar kota untuk bekerja, tapi ini kali pertama bagiku mengambil alih tanggung jawab. Bahwa ibu lebih mempercayai aku daripada ayah.

Sebenarnya aku agak tidak suka bercerita pada bagian ini. Bahwa cinta pertama seorang anak memang didapatkan dari ayahnya, namun tidak semua cinta dapat bertahan sampai akhir hayat. Beberapa cinta hanya hadir sebentar lalu lenyap, yang berarti beberapa ayah tidak menyayangi buah hatinya. Aku menelan kenyataan pahit bahwa ayahku tidak bisa dibanggakan. Beberapa potongan kebahagiaan teman-temanku mengenai ayahnya yang hebat, membuat telingaku panas sehingga aku lebih suka menjauh dan menghindari topik pembicaraan bertema ayah. 

Ayahku adalah pria yang brengsek. Berpergian hanya untuk memenuhi kesenangannya, berjudi, mabuk, bahkan main perempuan. Aku selalu menelan saliva pahit jika ada yang bertanya kemana ayah pergi, karena saat itu aku dan Rifa akan mengatakan bahwa ayah kami pergi merantau untuk bekerja mencari uang. Kebohongan yang sejak dulu mengusik isi kepalaku. 

Bahwa kenyataannya ayah pergi untuk mencari kesenangan sendirian dan lari dari tanggung jawab. Ia hanya akan pulang jika ingin. Ah, benci sekali jika harus mengungkapnya kedalam bentuk cerita.

"Ibu mau masak apa? Ini masih pagi sekali, loh!"

"Ikan tongkol sambal, tumis buncis, dan sambal teri kacang. Sartika bisa bertahan lumayan lama, jadi kalau kakak sama adek malas masak masih ada simpanan. Ibu masaknya tidak pakai tomat, jadi tidak cepat basi selama gak tersentuh tangan langsung."

Aku tersenyum. Kok bisa ada sih, manusia yang siap menaruh perhatian dan selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik. Menyimpan kebahagiaan anak menjadi nomor satu. Tidak memikirkan dirinya yang sudah semakin menua tapi terpaksa terus bekerja saban waktu. 

Aku mengucek mata yang sebenarnya masih setengah ngantuk, "Padahal ibu gak perlu repot-repot, kan ibu sudah bilang sama Delima buat jagain rumah dan Rifa. Nanti Lima bisa belajar masak, deh, lewat internet!"

Ibu tidak menjawab, tertawa sedikit lalu melanjutkan mengupas bawang. 

"Aku yang potongin buncisnya, ya. Aku bantuin ibu."

"Kamu balik tidur aja lagi. Lagian, kamu lagi gak sholat, kan?"

"Gak, aku bantuin ibu aja. Lagian aku ada kelas pagi, biar gak terlambat."

Ibu hanya tersenyum tanpa memberi balas. Manusia sedikit kata, banyak aksi. 

Sebentar hanya ada suara penggorengan yang mengisi ruang dapur, aku memilih diam dan ibupun begitu. Kami menyimpan pikiran dalam masing-masing kepala. Sebenarnya ada tanya yang ingin aku sampaikan kepada ibu, tapi yang ku tau gak semua tanya bisa mendapat jawab. Makanya aku memilih untuk menyimpannya dalam diam. Tapi ternyata ibu membuka percakapan lebih dulu, pertanyaan yang aku simpan sejak malam, dijawab oleh ibu tanpa harus kuutarakan. 

"Maaf ibu gak telpon ayah, Lima. Ayah gak akan pulang, makanya ibu minta kamu yang jaga rumah dan Rifa."

Sekarang giliran aku yang hanya tersenyum kecil. Aku tidak akan berkomentar kenapa ibu tidak menelpon ayah, karena sesungguhnya aku tidak masalah dengan hal itu. Ada atau tidak, bagiku ayah tetap tidak bisa berperan menjadi orang tua yang baik. Biasanya kalau akan pergi keluar kota ibu akan meminta pasangannya itu untuk pulang menjaga anak-anak. Ibu akan minta tolong padahal harusnya memang tanggung jawabnya. Ayah bersikap seolah memutus hubungan antara kami, membuat aku semakin tidak menyukainya. Namun aku tidak pernah mengutarakan, kusimpan sendiri menjadi rayuan-rayuan kebencian yang memenuhi sudut hati. 

Kebencianku untuk ayah adalah hasil dari kegagalannya menjadi orang tua. Bukan gagal, memang ayah tidak berusaha sejak awal.   

"Kamu gak masalah, kan?"

"Sebenarnya Delima justru suka dengan keputusan ibu kali ini."

Ibu menatapku, ketajaman matanya mentransfer kekhawatiran.

"Aku gak benci sama ayah, kok, bu. Aku hanya sudah terbiasa," kataku berupaya memberi ketenangan. Ibu tidak harus tau perasaanku sesungguhnya, yang ibu boleh tau adalah aku teramat mencintainya. 

Meskipun peringai ayah buruk, ibu tidak mau aku dan Rifa membencinya. Ibu tidak pernah bosen mengingatkan kami bahwa seorang anak harus mencintai kedua orang tuanya. Keberbaktian anak akan mengantarkan langkahnya menuju surga, tidak perduli apakah orang tua bisa mengemban tanggung jawab dengan baik. 

"Kenapa ibu tidak cerai saja? Memiliki pasangan pun, rasanya sama, ibu hidup sendirian menanggung semuanya."

 Kalimat itu selalu ingin aku lontarkan, namun tidak pernah siap. Aku tidak ingin mengusik ibu dengan pilihannya, semua yang ia lakukan adalah bentuk kasih sayangnya untuk kami. Ibu hidup bukan lagi untuk hidupnya, tapi untuk aku dan Rifa. 

Ibu tidak hanya berperan menjadi ibu, namun merangkap sebagai seorang ibu dan ayah. 

Untuk menjadi ibu, rasanya aku tidak sanggup.





-- 



See u!

DesemberhentiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang