"Jangan main kalau matahari mulai terbenam, nanti kamu bisa hilang! Apalagi kalau sampai masuk ke Alas!"
Bukan untuk menakut-nakuti anak kecil agar pulang sebelum senja, tetapi itu memang pantangan bagi seluruh penduduk Dusun Pedhukul tidak peduli u...
Mata air yang ditunjukkan oleh Danastri cukup luas, jika seluruh anak-anak yang ada di dusun masuk, mungkin masih cukup. Berbeda dengan air sungai yang biasa digunakan penduduk, mata air ini sangat jernih dan biru. Bebatuan dari berbagai ukuran, mulai dari kecil hingga hampir sebesar Arsa pun ada, warnanya terlihat kehijauan dan cantik berpadu dengan birunya air.
Air ini jernih hingga aku bisa melihat dasar danau yang dihiasi akar-akar pohon besar yang ada di pinggiran mata air terlihat. Beberapa ikan besar dan kecil berenang meliuk dengan tenang tanpa takut akan adanya makhluk asing, seolah hampir tidak pernah ada yang datang kemari.
Suara gemericik tidak berhenti. Air-air keluar dari dasar mata air dan menghasilkan gelembung-gelembung kecil. Beberapa grojogan yang membelah bebatuan dan ikut memenuhi ruang dalam mata air.
"Aku tidak pernah tahu ada mata air seperti ini di dekat desa," ucap Mahesa. Mata dan mulutnya sama-sama terbuka lebar seolah tidak mau melewatkan sedikitpun pemandangan yang tersaji di depannya.
Apa yang Mahesa katakan memang benar. Biasanya warga dusun lebuh suka mengambil air di sungai besar yang jaraknya tidak jauh dari dusun. Warga mencuci baju, mengairi sawah, mandi, memancing, mencari kepiting, bahkan sampai memandikan kerbau dan hewan ternak lain dilakukan di sungai besar itu. Akan tetapi, mata air ini memang terlalu kecil untuk menampung semua kegiatan yang biasa warga dusun lakukan di sungai.
"Iya, kan? Maka dari itu aku dan Kartika terkejut saat menemukan ini."
Danastri melangkah turun, memilih batu mana yang akan menjadi pijakan badannya agar tidak tergelincir. Hingga akhirnya ia sampai tepat di ujung kolam. Hanya dengan satu langkah, Danastri sudah bisa merasakan dinginnya air itu.
Setelah berjongkok dan mempertahankan keseimbangan agar tidak terjatuh, Danastri menangkup air sungai dengan kedua tangan dan mengangkatnya. Sebelum air itu habis karena melarikan diri melalui celah-celah tangan Danastri yang seperti duri, gadis itu meminumnya. Aku penasaran dengan seberapa segar air itu masuk ke tenggorokan Danastri.
Mengikuti jejak Danastri, aku ikut turun dan Mahesa ada tepat di belakangku. Aku berjongkok dan menatap air itu dengan pandangan terpana. Rasa haus yang tak pernah aku rasakan sebelumnya muncul. Mungkin ini karena aku terlalu lelah berjalan hingga merasa kehausan. Mengulur tangan, aku berniat memindahkan sedikit air dalam tangkupan.
Akan tetapi, napasku tercekat dan aku dengan sigap menarik tanganku ketika ujung jariku baru saja memasukinya. Aku meneguk ludah sebagai pengganti dari mata air yang tidak masuk dalam kerongkongan. Perasaan dingin yang aneh bergelantung di leherku dengan tidak nyaman.