Jika Kalingga sedang berbohong, aku akan dengan senang hati mempercayainya. Selama aku bernapas di Dusun Pedhukul, tidak pernah kutemukan orang seperti Kalingga, bahkan namanya pun tak pernah hinggap di telingaku. Jika usia kami tidak terpaut jauh, seharusnya kami sudah saling mengenal, dan mungkin akan menghabiskan waktu bersama selayaknya teman seumuran—seperti aku, Mahesa, Danastri, dan Kartika.
"Bohong." Aku menatapnya datar.
"Sungguhan. Kalau dibilang ... mungkin seperti aku tidak pernah keluar dari kediaman saja jika tidak dibutuhkan. Aku lebih suka ketika orang-orang datang kepadaku saat butuh saja," jelas Kalingga yang semakin membuat aku justru menyangkalnya.
"Aku masih tidak percaya, tapi aku tidak mau bertanya lagi," ucapku.
Suara burung yang beterbangan di atas langit membuat aku mendongak. Langit terus mengubah warnanya seolah memberikan tanda bagi pemuda itu untuk segera kembali—sama seperti burung-burung yang terbang di atas kepalaku.
"Sudah hampir senja, aku akan pulang," putusku dan dengan terburu-buru membersihkan barang-barang. Aku meletakan sangkar burung berukuran kecil—yang isinya sudah penuh—ke punggung, menyampirkan busur dan anak panah di bahu, serta menjinjing perangkap di tanganku yang kosong.
"Apa kamu takut tersesat dan tidak kembali?" tanya Kalingga di balik punggungku yang hendak pergi meninggalkannya.
"Tentu saja." Aku terus berjalan tanpa memedulikan Kalingga dan tidak mau repot-repot menyuruh Kalingga untuk kembali ke rumahnya.
"Mitosnya kan tidak bekerja untukmu. Kamu kan tidak bisa hilang meskipun kamu jalan-jalan di tengah malam sekali pun."
Ucapan Kalingga membuat langkahku berhenti. Ia mengatakan hal yang sama seperti warga dusun, seolah menyombongkan diri bahwa ia memang salah satu dari mereka. Namun, Kalingga tidak paham jika aku begitu membenci perkataan itu. Rasanya seperti diasingkan dan dipojokkan.
"Orang-orang bilang, mungkin itu karena kamu tidak lahir di dusun ini," sambung Kalingga yang memanas-manasi.
Lalu kenapa jika aku tidak lahir di Dusun Pedhukul? Buktinya saja pernah ada warga asing yang hilang ketika melewati dusun ini. Bahkan sampai sekarang pun tidak ada manusia satu pun yang berani berkeliaran di dusun ini ketika malam, baik warga setempat maupun dari desa lain karena rumornya yang terus menyebar dan ada sejak lama. Jadi, jika beralasan hal itu semua terjadi karena aku tidak berasal dari Dusun Pedhukul, tentu saja hal itu tidak masuk akal.
"Hati-hati di jalan, Chandra! Ayo bertemu lagi saat sedekah bumi." Mungkin karena aku yang terus mengabaikannya, Kalingga pun menyerah dan berhenti mengikutiku.
***
Sedekah bumi diadakan dengan cukup meriah. Orang-orang selalu menantikan adanya festival yang dipenuhi dengan kebahagiaan dan suka cita. Apalagi setelah kejadian tidak mengenakkan beberapa hari yang lalu.
Sejak pagi, orang-orang berkumpul dengan pakaian terbaik mereka. Sebelum keluar dari rumah, Ibunda memperbaiki tatanan rambutku, mengeluarkan pakaian yang paling bersih, dan memakaikan sarung tenun yang sudah dicuci hingga diberikan wewangian.
Penampilan Ibunda juga tidak kalah menawan. Ketika turun dari tangga rumah menuju luar, kecantikan yang Ibunda pancarkan benar-benar terasa berbeda dengan hari-hari biasanya. Mungkin karena pakaiannya yang berbeda dan beliau yang menata rambutnya. Tak lupa riasan tipis dan aroma bunga melati yang dirangkai di baju beliau. Meski sudah punya anak sebesar ini—aku—Ibunda tidak kalah cantiknya dengan gadis-gadis desa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chandra [END]
Fiction Historique"Jangan main kalau matahari mulai terbenam, nanti kamu bisa hilang! Apalagi kalau sampai masuk ke Alas!" Bukan untuk menakut-nakuti anak kecil agar pulang sebelum senja, tetapi itu memang pantangan bagi seluruh penduduk Dusun Pedhukul tidak peduli u...
![Chandra [END]](https://img.wattpad.com/cover/330291480-64-k818360.jpg)