Bayang 55 Persembahan

412 64 35
                                        

Chandra © Kyrans12 (2023)

.

Bayang 55 Persembahan

.

Karya ini hanyalah karangan belaka dan murni FIKSI FANTASI, tidak ada kaitannya dengan hal-hal di dunia nyata.



"Telaganya muncul lagi," gumamku terperangah. Aku berjalan menuju pinggiran danau sembari menatap gemericik air yang begitu jernih itu.

Jika Datuk Suma mengatakan aku sebagai pembohong, mungkin aku tidak akan menyangkalnya. Lagi pula, aku juga tidak punya bukti selain Mahesa yang membuat kami menyadari keberadaan telaga yang seperti fatamorgana. Namun ketika aku menatap Datuk Suma, pria tua itu tidak mengatakan apa pun—seolah percaya-percaya saja dengan apa yang kami katakan saat itu.

"Ternyata memang telaga ini yang kamu maksud, ya?" ucap Datuk Suma sembari memegang janggut putihnya.

Aku segera menoleh kepadanya. "Datuk Suma pernah kemari?"

Datuk Suma mengangguk. "Memang tidak semua orang pernah melihatnya. Hanya dalam beberapa kasus saja orang bisa melihat telaga ini. Salah satunya adalah masa-masa mendekati waktu sedekah bumi."

Apa yang beliau maksud adalah telaga ini memang telaga gaib yang bisa menghilang?

"Pasti banyak pertanyaan dalam benakmu, kan, Chandra?" tebak Datuk Suma. Ia menoleh sekilas padaku sebelum menatap jauh ke pemandangan telaga. "Dulu orang-orang sering datang kemari, entah untuk mandi, memancing, mencuci baju, dan yang lainnya. Tapi sudah bertahun-tahun sejak hal itu dilakukan. Orang-orang perlahan melupakan telaga ini. Ketika sedekah bumi dilakukan pun, biasanya tempat ini tidak pernah lepas dari susunan acaranya. Sekarang telaga ini sudah dilupakan, sepertinya kejadian kemarin juga memberikan peringatan pada kita untuk tidak melupakan tempat keramat ini."

Datuk Suma perlahan masuk ke air hingga air itu sampai di atas betisnya. Beliau lalu memintaku untuk membawakan burung beserta kerisnya. Satu burung branjangan berpindah ke tangan Datuk Suma, tangan yang lain memegang kerisnya. Beliau mengangkat keduanya hingga berada di atas permukaan air.

Dalam sekali gerakan, keris tajam itu berhasil menebas leher si burung. Cairan kemerahan merembes dan mewarnai telaga. Ikan-ikan berwarna hitam berkumpul dengan cepat seolah ingin meminum darahnya. Begitu Datuk Suma menghanyutkan burung yang sudah tidak bergerak lagi itu, ikan-ikan semakin bergerak tak karuan, membuat gelombang dan riak air bercipratan.

Dalam waktu singkat, telaga kembali hening. Aku meneguk ludah, tidak menyangka dengan apa yang ada di depan mata. Ikan-ikan itu terlihat kelaparan, tetapi mereka tidak menyerang manusia yang masuk ke dalam sana.

"Chandra, masuk dan bawa juga sangkarnya."

Aku tersentak dengan perintah Datuk Suma. Setelah menatap sangkar yang penuh dengan burung itu, aku ragu-ragu berjalan ke dalam telaga. Kuusahakan agar sangkar burung tidak mengenai air sama sekali agar air tetap tenang dan ikan tidak bertindak agresif.

"Masukkan sangkarnya ke dalam air sebanyak tiga kali."

Aku menatap Datuk Suma yang serius. Mau tidak mau, aku tidak bisa membantah. Kucelupkan sangkar dengan cepat. Namun bagaimana pun juga, jumlah burung yang begitu banyak membuat sangkar begitu berat, belum lagi air yang tertahan dan burung-burung yang basah. Beruntungnya, ikan-ikan hanya berenang mengitariku dan Datuk Suma. Setelah melakukan hal itu, aku kembali mengangkat sangkar sembari menunggu perintah Datuk Suma selanjutnya. Namun, Datuk Suma tidak menyuruh apa-apa lagi. Beliau mengatupkan tangan di depan dada.

Chandra [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang