Chandra © Fukuyama12 (2025)
Fantasy, Historical, Supranatural
.
.
Bayang 44
Grep!
"Chandra! Aku ...."
Mataku terbelammmazlak ketika merasakan tanganku digenggam oleh seseorang. Kulihat Mahesa menatapku dengan berkaca-kaca. Ia tidak berkata apa-apa. Aku tahu jika ada banyak hal yang ingin ia katakan sampai mulutnya tahu mana yang harus disampaikan terlebih dahulu.
Kupegang pundak Mahesa dan menepuknya pelan. "Tidak apa-apa, aku akan coba lakukan yang terbaik agar bisa membawanya pulang," ucapku menenangkan, lalu aku beralih menatap para warga satu persatu. "Kalian beristirahatlah dulu di sini sampai aku kembali. Jangan pergi ke mana-mana, kita tidak tahu di mana kita berada saat ini. Jaga sikap kalian juga dan jangan bertindak sembrono."
Orang-orang mengangguk mengerti. Wajah mereka terlihat lelah dan ketakutan di saat yang sama, tetapi untuk saat ini mereka harus bersyukur karena selamat dari gelar budak. Bagaimana pun juga, aku harus berterima kasih pada Danastri, jika bukan karean dia, kami tidak akan keluar dengan selamat.
"Bagaimana caramu berbicara dengannya?" tanya Kalingga tiba-tiba.
Aku terdiam. Sebenarnya aku sama sekali tidak tahu caranya. Cara masuk ke sana pun aku tidak tahu.
"Mau aku temani lagi?" tawar Kalingga.
Aku menggeleng. "Apa aku bisa minta tolong bantuan lain saja?" tanyaku, Kalingga memiringkan kepalanya, menunggu ucapanku selanjutnya. "Tolong jaga orang-orangku."
Kalingga menoleh ke arah orang-orang Dusun Pedhukul. "Mereka orang dewasa, untuk apa dijaga? Memangnya anak kecil?"
"Hei!" Mas Giandra berteriak tidak terima, tetapi tidak ada yang memedulikannya, bahkan Kalingga pun bertingkah seperti tidak mendengarnya berteriak.
"Dia benar, Chandra, kami tidak perlu dijaga. Kau pergi saja dengannya," paksa Mahesa yang tengah menahan Mas Giandra. Ia lalu bergerak mendekatiku dan berbisik, "Aku tidak terlalu percaya dengannya, tetapi sepertinya dia tidak akan melakukan hal buruk padamu," bisiknya.
Berkat itu, aku langsung ingat waktu ketika Mahesa dan Giandra menghilang di belakangku. Saat itu, Kalingga sama sekali tidak mengatakan apa pun, tidak menjelaskan apa pun.
"Baiklah, aku akan pergi dengan Kalingga." Aku tidak bisa menebak apa yang akan ia lakukan pada orang-orang dusun. Bisa saja dia melakukan hal aneh tanpa sepengetahuanku.
Berkat itu, aku meninggalkan Mahesa, Mas Giandra, dan Kartika, beserta para warga dusun yang tersisa di pinggiran hutan. Aku benar-benar berpesan pada mereka untuk tidak melakukan hal yang aneh. Kehilangan dua warga dusun yang mati karena mencoba untuk mengintip ke pemandian wanita adalah hal yang sangat mengesalkan.
Karena tidak memiliki rencana yang matang, kubiarkan Kalingga yang tahu banyak tentang daerah ini memanduku. Melihat ia yang berjalan sembunyi-sembunyi dari garda di depan membuatku bertanya-tanya ke mana dia membawaku pergi.
Sampai akhirnya, kami berhenti di salah satu pagar yang terbuat dari tanah liat. Letaknya jauh dari gerbang masuk. Tempatnya yang sepi dan di pojok seolah benar-benar terpencil. Kalingga melompat dan memegangi ujung pagar, lalu mengangkat tubuhnya hingga ia bisa melihat apa yang ada di dalam sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chandra [END]
Historical Fiction"Jangan main kalau matahari mulai terbenam, nanti kamu bisa hilang! Apalagi kalau sampai masuk ke Alas!" Bukan untuk menakut-nakuti anak kecil agar pulang sebelum senja, tetapi itu memang pantangan bagi seluruh penduduk Dusun Pedhukul tidak peduli u...
![Chandra [END]](https://img.wattpad.com/cover/330291480-64-k818360.jpg)