Chandra © Fukuyama12 (2024)
Fantasi Nusantara
.
Votenya dulu, dong! \( ̄︶ ̄*\))
.
Bertemu dengan bangsawan adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, bahkan masuk dan menginjakkan kaki ke bangunan megah yang entah dibangun oleh berapa ratus budak pun rasanya seperti mimpi. Berbagai macam ukiran, baik di atas batu maupun kayu menghiasi dinding. Patung-patung yang melambangkan penjagaan dari makhluk-makhluk legenda terpajang di mana-mana. Belum lagi aroma dupa yang semerbak dan membuat pusing jika terlalu lama menghirupnya.
"Kudengar para bangsawan adalah orang yang kejam," bisik Kartika dengan nada bergetar. Cengkeramannya pada lenganku semakin kencang. "Mereka tidak akan membunuh kita tiba-tiba, kan? Apa sebaiknya aku menunggu di luar saja?"
"Kamu hanya perlu diam saja di sampingku, Kartika. Biarkan aku dan Kalingga saja yang berusaha bertanya," jawabku berusaha menenangkannya. Kartika mengangguk kecil dan berusaha mencari keberaniannya yang hilang.
Berbeda dengan kami, Kalingga berjalan dengan tenang mengikuti pengawal yang mengantarkan kami menuju sang penguasa daerah. Entah bagaimana caranya kami akan berkomunikasi nantinya.
Tujuh belas tahun hidup di dusun kecil membuatku tidak punya pengalaman untuk berbicara dengan penguasa. Ibunda tidak pernah mengajarkan, tetapi setidaknya aku tahu bagaimana harus menjaga tata krama.
Meski begitu, orang-orang sering mengatakan bahwa Ibunda adalah wanita paling anggun dan sopan yang ada di dusun. Gerak-gerik dan aura yang beliau miliki berbeda dengan orang lain—membuatnya begitu disegani dan tidak bisa didekati dengan mudah. Namun, aku tidak merasakannya perbedaannya sama sekali. Ibunda terasa sama saja dengan ibu-ibu dusun lainnya.
Mereka bilang aku mirip Ibunda dalam hal itu karena aku memang dibesarkan olehnya, tetapi mereka juga bilang aku lebih mudah diajak berbicara karena lebih santai dan bisa berbaur.
'Jika memang itu yang mereka lihat, semoga nanti kami akan baik-baik saja,' doaku dalam hati.
Setelah berjalan melewati lorong terbuka. Pengawal itu berhenti dan menyuruh kami untuk menunggu sebentar. Pria itu berbicara di dalam sebelum akhirnya kembali keluar dan mempersilakan kami untuk masuk.
"Baginda memberi izin kalian untuk berbicara. Harap perhatikan tingkah laku kalian jika tidak ingin berakhir menjadi budaknya!"
Kalingga menoleh kembali ke belakang, kami saling bertatapan sebelum akhirnya mengangguk.
"Aku serahkan semuanya kepadamu," bisikku.
"Tidak mau mencoba dulu?"
Aku menggeleng, mencari aman. Tidak punya pengalaman membuatku tidak berani melakukan sesuatu. Kalingga tidak mengatakan apa pun atas penolakanku. Kami pun melangkah masuk setelah mengambil napas panjang dan mempersiapkan mental.
Ada beberapa orang yang berada di ruangan luas itu—rasanya lebih luas dari pekarangan rumahku—dan mereka semua menatap ke arah kami. Tatapan yang paling menusuk adalah dari sosok yang berada di depan kami, yang duduk tegap di dampar kencana dengan mengangkat dagunya.
Rasanya aku tidak berani menatap lebih dari itu, apalagi menatap kedua matanya. Kepalaku terus menunduk secara alami dan mengikuti semua gerak-gerik Kalingga yang berada selangkah di depanku dan Kartika.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chandra [END]
Fiksi Sejarah"Jangan main kalau matahari mulai terbenam, nanti kamu bisa hilang! Apalagi kalau sampai masuk ke Alas!" Bukan untuk menakut-nakuti anak kecil agar pulang sebelum senja, tetapi itu memang pantangan bagi seluruh penduduk Dusun Pedhukul tidak peduli u...
![Chandra [END]](https://img.wattpad.com/cover/330291480-64-k818360.jpg)