Chandra oleh Kyrans12 (2023)
Genre: Fantasi Nusantara
Apa yang ada di hadapanku benar-benar tidak sesuai dengan dugaan. Mahesa diam menatap seolah membaca reaksi yang terpampang di wajahku. Aku balik menatapnya dan meminta penjelasan lebih lanjut mengapa rumah Kepala Dusun yang aku kunjungi beberapa hari yang lalu kini sudah berubah menjadi reruntuhan kayu yang habis dilalap api.
"Apa yang terjadi selama aku tidur? Bagaimana kabar keluarga Kepala Dusun? Apa mereka baik-baik saja?" tanyaku beruntun.
Mahesa memejamkan mata, mengingat apa yang sudah terjadi beberapa hari yang lalu. "Gara-gara kamu yang pingsan saat itu, keadaan jadi berubah. Orang-orang kaget dengan kondisimu. Kepala Dusun pun mengambil kesempatan itu dengan mengubah topik—meminta orang-orang untuk menyelamatkan nyawa warga dusun lebih penting daripada urusan koin emas. Orang-orang kesal, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisimu yang mendesak."
"Lalu? Orang-orang tidak melepaskan Kepala Dusun begitu saja, ya?"
Mahesa mengangguk. "Selama beberapa hari mereka tidak menyerah dan terus meminta bayaran koin emasnya, tapi Kepala Dusun terus beralasan ini-itu, mengatakan jika dia ada urusan di luar dusun dan sebagainya."
"Ketika Kepala Dusun pergi, warga yang dendam lalu membakar rumahnya?" tebakku. Aku mengernyit dalam ketika menyadari sesuatu. "Hah? Tapi kapan mereka melakukannya? Kita kan tidak boleh keluar setelah senja, masa mereka melakukannya di siang hari?"
Secara mengejutkan, Mahesa mengangguk. "Tidak siang juga, lebih tepatnya sore menjelang senja. Dari yang kudengar, mereka mencoba masuk dan mencari koin emasnya."
Wajahku memucat membayangkan kejadian itu terjadi ketika sinar matahari masih menerangi bumi. "Tidak mungkin! Apa mereka sudah hilang akal?"
Mahesa mengangkat bahu. "Aku juga tidak tahu kenapa mereka sampai senekat itu. Mereka seperti kesetanan demi mengambil emas yang dijanjikan itu. Dan yang lebih anehnya lagi ... mereka bilang ketika emasnya ditemukan, ada ular besar yang menjaganya."
"Hah? Lalu bagaimana?"
"Mereka tidak menyerah, lalu ... rumah ini pun dibakar demi mengambil kotak emas Kepala Dusun. Tapi, setelah habis dibakar pun, anehnya emas yang mereka incar juga ikut hilang bersama dengan ularnya."
Aku kehilangan kata-kata dan kembali menatap puing-puing bekas kobaran api. Rumah yang paling besar dan indah di dusun ini pun sudah habis dilahap api. Kebun bunga tempat biasa Danastri menyiram tanaman dan menghabiskan paginya pun sudah menjadi tanah yang tak rata.
Dalam sekejap, semua harta yang selalu dibanggakan itu habis tak bersisa. Tak hanya itu, anak perempuan yang diagung-agungkan pun tidak akan kembali seolah tidak pernah ada sebelumnya.
"Lalu, di mana Kepala Dusun dan keluarganya sekarang? Kamu bilang dia ada urusan di luar desa," tanyaku yang masih penasaran.
"Istri dan anaknya sudah pindah." Aku terkejut mendengarnya. "Mereka kembali ke kampung halaman ibunya Danastri. Untuk Kepala Dusun ...," Mahesa terlihat enggan melanjutkan, tetapi aku tidak mendesaknya, "dia kecelakaan dalam perjalanan pulang. Orang yang mengawalnya cerita kalau harimau liar menyerang mereka. Anehnya yang jadi korban cuma Kepala Dusun saja, orang yang ikut bersama tidak ada yang terluka. Kematian orang itu, kepergian istri dan anaknya, Danastri yang menghilang ... semuanya berlangsung dengan cepat. Tidak ada orang-orang yang berduka atas kehilangan mereka."
Aku meneguk ludah kasar. Perasaan berkecamuk yang tidak bisa diungkapkan muncul dan Berita yang dikabarkan oleh Mahesa terdengar seperti dongeng karangan belaka. Namun, Mahesa tidak pernah bergurau dengan apa yang ia katakan dan bukti kejadian ada di depan mata. Orang-orang yang berlalu lalang juga nampaknya tidak peduli lagi dengan sisa kehidupan Kepala Dusun yang sudah memimpin mereka selama beberapa tahun terakhir.
"Aku bahkan belum berpamitan dengan mereka ....," gumamku yang mengingat kebersamaan dengan Mas Giandra beberapa hari yang lalu, juga kebaikan dari ibu Danastri, dan meski Kepala Dusun memang menyebalkan, tetapi mereka tetap saja bagian dari Dusun Pedhukul ini. Sosok Danastri pun sudah banyak memberikan kenangan tersendiri selama hidupku.
"Jadi, siapa yang akan memimpin desa ini selanjutnya?" tanyaku lagi.
"Entah, sepertinya orang-orang mempercayakan Datuk Suma untuk masalah itu. Biarkan saja sesepuh itu yang memilih."
Mahesa dan aku kembali berjalan meninggalkan rumah yang sudah tidak terbentuk itu. Langkahku terasa berat. Untuk yang terakhir kalinya, aku menoleh ke belakang. Jika saja aku memperingati mereka sebelumnya, apakah nasib yang lebih baik akan menemui keluarga bekas Kepala Dusun itu? Jika aku membujuk Danastri, apakah dia akan tetap bersama dengan kami, berjalan beriringan dan saling bertukar tawa di sepanjang jalan pulang seperti biasanya?
"Chandra," panggil Mahesa yang membuat langkahku berhenti. Lamunanku pun ikut buyar ketika mendengar suaranya, "... ini semua bukan salahmu. Kamu tidak akan bisa menyelamatkan semua orang dan itu juga bukan kewajibanmu."
Aku terdiam cukup lama, lalu perlahan mengulas senyum. Apa yang dikatakan Mahesa benar adanya. "Iya, terima kasih sudah mengingatkannya."
"Ngomong-ngomong, nasi bungkusnya untuk siapa lagi?"
Aku mengikuti arah pandang Mahesa dan mengingat satu bungkusan yang belum aku berikan. "Ah, bisa-bisanya aku lupa untuk tidak memberikannya pada Kartika! Mahesa, apa kamu tahu Kartika ada di mana sekarang? Aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya, aku takut dia khawatir seperti yang lainnya."
Mahesa merenung beberapa saat, memikirkan di mana Kartika berada saat ini. Namun, ia mengatakan jika dirinya tidak mengetahuinya. Matahari masih tinggi, Mahesa menawarkanku untuk istirahat saja karena matahari siang bisa mengakibatkan pusing dan aku juga sudah lama tidak menggerakkan tubuh, takut terjadi apa-apa. Namun, aku mengatakan jika aku masih baik-baik saja dan berjanji akan pulang ketika sudah menyampaikan rasa terima kasih Ibunda pada gadis itu.
Jadi, kami memutuskan untuk bertanya pada warga dusun yang kami temui mengenai keberadaan Kartika. Orang-orang menunjuk ke arah hutan, anak-anak kecil bercerita jika mereka melihat gadis itu masuk agak dalam. Aku dan Mahesa saling melempar pandangan. Sebenarnya kita sama-sama ragu-ragu, tetapi rasanya kami memiliki satu tempat yang terbayangkan dalam pikiran.
"Aku tidak tahu jika Kartika akan pergi ke sana. Aku sudah tidak pernah ke sana lagi sejak terakhir kali," cerita Mahesa. Mungkin kejadian yang sudah lalu memberikan bekas tersendiri di hatinya.
.
.
.
Bersambung
.
Halo!! Maaf kalau pendek banget, lagi ngerjain editan naskah orang lain, huhu. Part 2 nya in sya Allah dalam waktu dekat, ya!
Terima kasih buat kalian semua yang sabar menunggu cerita ini, memberikan suka, membagikan, dan meninggalkan komentar semangat! Dukungan sekecil apapun dari kalian sangat berarti bagiku!
Oh ya! Stay safe kalian semua yang ada di luar sana, semoga kita selalu aman, dan negara kita bisa segera pulih kembali <3
KAMU SEDANG MEMBACA
Chandra [END]
Historische Romane"Jangan main kalau matahari mulai terbenam, nanti kamu bisa hilang! Apalagi kalau sampai masuk ke Alas!" Bukan untuk menakut-nakuti anak kecil agar pulang sebelum senja, tetapi itu memang pantangan bagi seluruh penduduk Dusun Pedhukul tidak peduli u...
![Chandra [END]](https://img.wattpad.com/cover/330291480-64-k818360.jpg)