Bayang 52 Batas Desa

493 60 32
                                        

Chandra © Kyrans12

Fantasi Supranatural

.

Bayang 52 Batas Desa

.


"Telaga?"

Aku, Mahesa, dan Kartika menganggu dengan pertanyaan dari Datuk Suma.

"Seharusnya memang ada di dekat dusun tetangga."

Kini, aku menggeleng. "Tidak. Telaganya masih ada di wilayah dusun kita, Datuk Suma. Aku yakin, kok! Apa Datuk Suma tahu sesuatu?"

Datuk Suma menyentuh janggut putihnya seraya berpikir dengan keras. Kami bertiga menunggu jawaban dari sesepuh itu. Selepas Mahesa mengatakan sesuatu yang aneh, Telaga itu menghilang. Tidak ada bekas air di telapak kakiku yang sebelumnya terasa segar ketika menyentuh air telaga. Kami pun berlari menemui Datuk Suma—sesepuh yang harusnya mengetahui semua seluk beluk desa—dan menceritakan kejadian itu tanpa cela.

"Telaganya cukup besar. Memang tidak ada orang yang datang ke sana, kupikir karena apa ... Tapi, aku sering ke sana dengan Danastri dulu." Kartika membantu menjelaskan sambil menunggu dengan cemas cerita dari Datuk Suma.

"Aku juga beberapa kali ke sana, tapi anehnya ketika Chandra dan Kartika mengajak untuk ke sana kembali, telaganya sudah hilang," tambah Mahesa. "Padahal Chandra dan Kartika sempat melihatnya."

Aku dan Kartika mengangguk mantap. Sementara itu, Datuk Suma memicing menatap kami berdua.

"Kalian tidak melakukan hal aneh atau melanggar pantangan desa, kan?"

"Ti-tidak, kok!" Kartika dan aku menjawab bersamaan. Kami saling melempar pandangan sejenak.

Aku berdeham dan berkata, "Itu ... kalau berjalan di malam hari termasuk melanggar pantangan desa ...." Suaraku habis karena tidak ingin melanjutkan kalimatku. "Tapi, Mahesa juga waktu itu ikut, kan? Kenapa hanya Mahesa saja yang tidak melihatnya?"

"Ada di mana telaganya?"

"Di utara. Memang letaknya agak jauh dari dusun, tapi sepertinya tidak sampai keluar dusun," jelas Kartika. "Datuk Suma, ... apa kami sudah pergi ke tempat yang tidak seharusnya?"

Pria tua itu diam. Rasanya sudah ada jawaban yang muncul di kepalanya. Namun, ia tak kunjung berbicara dan menyuruh kita untuk duduk dan menenangkan diri. Tak hanya itu, Datuk Suma menyuruhku untuk menuangkan minuman yang ada dalam kendi.

Uap panas mengepul keluar ketika aku menuangkan isinya ke dalam tiga gelas berukuran kecil yang sebelumnya masih kosong, seolah menunggu kami untuk datang dan meminumnya ketika sudah sampai.

Aroma rempah pahit yang keluar menyeruak masuk ke dalam hidung rasanya tidak asing. Aku menegukkan ludah menatap cairan hitam agak kental itu. Seketika aku ingat saat di mana Datuk Suma memberikan minuman ini padaku beberapa saat yang lalu. Rasanya sangat tidak enak. Meminumnya lagi mungkin bisa membuat lidahku merasakan kebas selama beberapa waktu. Anehnya, Datuk Suma suka sekali dengan minuman ini.

"Minumlah. Masing-masing satu."

Kami tersentak dan menatap Datuk Suma dengan tidak percaya, tetapi tidak berani mengeluarkan suara untuk menolaknya dan menerima gelas dengan pasrah. Satu-satunya cara agar tidak merasakan rasa sepat dan pahitnya adalah dengan meminumnya dalam sekali tegukan.

"Uhuk! Uhuk!" Bahkan Mahesa pun tidak bisa menahan rasa pahit dari minuman khas Datuk Suma itu.

Datuk Suma memberikan segelas air putih untuk menghilangkan rasa pahit—yang sayangnya tak kunjung menghilang. Akhirnya kami menyerah dan memakan jeruk yang disediakan untuk tamu.

Chandra [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang