Bayang 26 Tidak Akan Pergi

873 111 29
                                        

Chandra © Fukuyama12 (2023)

Genre: Fantasi Gelap Nusantara

.

Bayang 26 Tidak Akan Pergi

Kepalaku rasanya tidak bisa berpikir dengan jernih saat seluruh pasang mata menatapku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Kepalaku rasanya tidak bisa berpikir dengan jernih saat seluruh pasang mata menatapku. Kakiku ingin bergerak mundur, tetapi tidak ada yang bisa kulakukan selain duduk membantu di tempatku.

Seolah-olah merasakan ancaman besar, Ibunda bergerak maju dan sedikit melindungiku dengan bahu kecilnya. Tidak peduli meski apa yang beliau lakukan itu tidak berguna dan tidak bisa menyembunyikan keberadaanku.

"Chandra, apa kamu mau menolong kami?" Pemilik suara menatapku dengan tatapan berkaca-kaca, kedua tangannya mengatup penuh permohonan. "Akan kuberikan apa pun yang kamu mau jika kamu menolong kami."

"Benar, aku bisa memberikanmu lumbung padi pribadiku! Kamu tidak perlu merasa kelaparan lagi sepanjang tahun!"

"Aku punya satu kambing di rumah, mungkin tidak seberapa, tetapi itu harta yang aku punya. Akan kuberikan padamu."

Orang-orang mulai berlomba untuk bisa menawarkan apa yang mereka miliki kepadaku. Aku mengernyit dan menatap mereka satu persatu dengan cepat. Terlalu banyak orang yang berbicara membuatku pusing untuk memilih siapa yang harus kudengarkan.

"Chandra tidak akan pergi!" Satu-satunya ucapan yang paling jelas masuk ke telingaku adalah suara jernih, tegas, dan tajam milik Ibunda.

Pasang-pasang mata beralih pada Ibunda dan membuat sesak yang kurasakan sedikit berkurang. Namun, kali ini mereka menatap Ibunda dnegan pandangan tidak suka. Mereka mengernyit seolah tidak terima dengan apa yang Ibunda ucapkan.

"Kenapa kamu seperti itu? Chandra kan sudah pasti akan kembali! Dia tidak seperti orang-orang yang hilang dan terjebak selamanya!" protes warga dusun tidak terima dengan sikap Ibunda.

Rahang Ibunda mengeras terlihat dengan jelas kemarahan di wajahnya. "Kenapa kalian berpikir seperti itu? Bagaimana jika Chandra tidak kembali? Aku tidak mau membahayakan nyawa anakku! Memangnya siapa yang mau mengirim anaknya ke tempat berbahaya?!"

Aku memegang bahu Ibunda yang mulai maju, berusaha untuk sedikit menenangkannya. "Ibunda, tenang du—"

"Mana mungkin bisa tenang, Chandra!" potong Ibunda cepat. Suara decakan terdengar setelah ia meneriakkanku, beliau terlihat sangat menyesal sudah melakukannya.

Dak! Dak!

Datuk Suma sekali lagi memukul tongkatnya ke tanah. Suasana yang riuh kembali tenang meski aku bisa mendengarkan gerutuan-gerutuan tidak suka yang mengarah pada Ibunda. Namun, mereka memutuskan untuk menahan diri.

"Datuk Suma, bagaimana menurut Anda? Apa Anda setuju jika kita sebaiknya mengirim Chandra untuk mencari orang-orang yang hilang?"

Datuk Suma tidak langsung mengiyakan, tidak pula menolaknya. Tatapannya tertuju padaku dan aku merasa tidak nyaman dengan hal itu. Beberapa kali aku memaksakan diri untuk berani menatap matanya.

Chandra [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang