"Kartika!!" panggilku dengan suara sedikit lebih keras ketika melihat sosok perempuan yang berjalan tak jauh dari depan kami. Aku melambaikan tangan dengan penuh semangat seolah lupa jika aku baru saja sembuh. Padahal kami belum sampai di telaga, tetapi untungnya sudah bertemu dengan Kartika.
Langkah gadis itu berhenti dan ia menoleh. Seolah menyadari siapa yang memanggilnya barusan, senyum di wajahnya melebar. Ia mengurungkan langkahnya untuk maju dan memutuskan untuk berjalan turun ke arah kami.
"Chandra, kamu sudah sadar?" ucap Kartika ketika sudah berada dekat dengan kami. Napasnya terengah-engah karena bersemangat, tetapi tidak membuat cahaya di wajahnya pudar. Ia menarik napas dalam sembari memegang dadanya. "Syukurlah ... syukurlah .... Aku sangat khawatir kamu tidak bisa kembali. Ibumu ... ibumu juga ...."
Aku terkejut saat melihat matanya yang tiba-tiba berair. "E-eh? Itu ... maaf sudah membuat kalian khawatir," ucapku berusaha untuk menghiburnya. "Oh, aku datang untuk memberikan ini untukmu. Ibunda bilang dia sangat berterimakasih karena sudah banyak membantunya selama aku tidak sadar kemarin."
Kartika mengusap air matanya dan menerima bungkusan dengan ragu-ragu. "Padahal tidak perlu sampai seperti ini."
"Kau mau pergi ke mana sendirian begini?" tanya Mahesa.
"Ke telaga. Aku habis dari kebun dan membantu Ayah panen ubi. Cuacanya juga sedang panas, merendam kaki di air mungkin bisa mendinginkan badan," jawab Kartika. "Emm ... apa kalian mau ikut?"
Aku melempar pandangan pada Mahesa. Pemuda itu juga balik menatapku. "Sepertinya itu ide yang bagus. Aku ikut!" ucapku bersemangat. Mungkin aku bisa menenangkan pikiranku dengan melihat dan mendengar suara gemericik air. Meski terlihat bimbang, Mahesa pun memutuskan untuk ikut dengan kami.
Selama di perjalanan, Kartika banyak bercerita tentang hal-hal yang akhir-akhir ini terjadi, mungkin sekadar memberikan kabar yang tidak aku ketahui—seperti kerbau Mahesa yang sempat hilang karena Mahesa yang melamun ketika menjaganya, kericuhan penduduk dengan Kepala Dusun, bahkan sampai membahas tentang masa ketika Danastri masih bersama dengan kami.
"Aku merindukannya," gumam Kartika di akhir kalimatnya. Tidak dapat dimungkiri, tatapan Kartika tampak sendu dan kosong ketika membicarakan gadis yang sudah tidak lagi bersama dengan kami itu.
Danastri mungkin sudah bahagia dengan pilihannya. Setidaknya itu yang aku harapkan. Namun, aku tidak membalas ucapan Kartika dan menelan kalimat untuk diriku sendiri. Takut-takut jika aku salah ucap dan membuat suasana menjadi semakin buruk. Aku menoleh pada Mahesa, berusaha membaca ekspresi dan benak pemuda itu. Namun, tatapan mata Mahesa yang mengarah pada Kartika membuatku bertanya-tanya apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya.
Anak sungai mulai terlihat dan suara gemericik air umbulan semakin jelas. Tanpa sadar, langkah menjadi lebih cepat. Rasa haus akan dinginnya mata air membuat rasa tidak sabar muncul.
"Kudengar kau sering kemari, Kartika." Aku membuka obrolan.
"Hanya beberapa kali saja ketika hari sedang panas," jawabnya tanpa menatapku. Langkahnya berhenti sejenak dan senyumnya semakin melebar ketika tatapannya tertuju pada satu titik. "Ah, kita sudah sampai!"
Aku mengikuti arah pandang Kartika dan berjalan mengikuti gadis yang mendahului kami itu. Rasanya seperti sudah lama tidak datang kemari. Dan selama itu pula, sepertinya tempat ini juga tidak banyak berubah—sama-sama menyimpan suasana dan auranya tersendiri.
Setelah melepaskan alas kaki, aku memasukkan kaki dan menginjak batu yang paling tinggi hingga permukaan air tidak lebih tinggi dari betisku. Entah mengapa ada perasaan ngeri karena terbayang waktu di mana sesuatu menarikku ke dalam sana. Melihat telapak kaki sendiri membuatku merasa lebih tenang.
Rasa sejuk menyapa dan beban berat di pundak terasa berkurang. Meski telaga ini punya daya tarik tersendiri, bermain air memang bisa menangkan jiwa dan pikiran. Aku hanya berharap tidak bertemu dengan Kalingga saja. Dia seperti punya kegemaran untuk muncul di saat-saat yang tidak bisa ditebak.
"Mahesa? Ada apa?"
Ucapan Kartika membuatku tersadar dari lamunan dan menoleh pada Mahesa yang masih berdiri beberapa langkah dari kami. Pemuda itu terdiam dan menatapku dan Kartika dengan alis yang bertaut. Tatapan itu membuatu terdiam dan balik menatapnya heran.
"Apa yang kamu lakukan di sana, Mahesa? Ayo masuk ke dalam air!" ajakku. "Aku janji tidak akan mendorongmu tiba-tiba ke dalam sini, kok! Lagi pula, aku juga tidak bawa baju ganti."
Mahesa ragu-ragu membuka mulutnya. Setelah beberapa kali bertarung dengan pikirannya, ia akhirnya mengucapkan sesuatu. "Bukan ... bukan itu. Tapi, ...."
Perkataan Mahesa yang tidak jelas membuatku dan Kartika memiringkan kepala dan menunggunya.
"... apa kalian yakin danaunya memang ada di sini?"
Aku dan Kartika semakin keheranan menatap Mahesa. Lalu, tertawa melihat wajah konyolnya. "Apa, sih, maksudmu? Ini kan danau yang sama dengan yang waktu itu. Tidak ada yang berubah juga sejak aku terakhir kali kemari, kok!" ucapku berusaha meyakinkan.
"Iya, Mahesa! Bercandamu tidak lucu, deh!"
"Tidak, bukan ...." Mahesa menatap kami dengan tatapan sulit. "Chandra, aku ... aku tidak melihat ada telaga di sini."
.
Bersambung
.
Nambah cuma dikit (700 kata), hahaha, gapapa lah ya :p
KAMU SEDANG MEMBACA
Chandra [END]
Ficción histórica"Jangan main kalau matahari mulai terbenam, nanti kamu bisa hilang! Apalagi kalau sampai masuk ke Alas!" Bukan untuk menakut-nakuti anak kecil agar pulang sebelum senja, tetapi itu memang pantangan bagi seluruh penduduk Dusun Pedhukul tidak peduli u...
![Chandra [END]](https://img.wattpad.com/cover/330291480-64-k818360.jpg)