Bayang 42 Wanita Cantik

693 90 22
                                        

Chandra © Fukuyama12

.

Jangan lupa votenya, yaa!

.

Bayang 42


"Baginda, sebelumnya kami minta maaf, tetapi kami tidak tahu apa-apa tentang wilayah milik Baginda," ucapku. Aku masih tidak ingin menyerah. Pasti ada cara lain untuk membujuknya dan menyelamatkan kami semua dari sini.

Baginda terdiam cukup lama. Berusaha mencari tahu apa yang sedang dia pikirkan dengan menatap matanya adalah tindakan bunuh diri. Jadi, kami pun hanya bisa menunggu.

"Bukankah sudah ada larangan agar kalian tidak menginjakkan kaki di tanahku? Kenapa kalian melanggarnya?"

... Larangan? Napasku tertahan saat mengingat aturan desa yang tidak tertulis itu.

Warga Dusun Pedhukul dilarang keluar dari rumah ketika matahari terbenam.

Apa itu Larangan yang dimaksud? Tidak mungkin. Aku pikir itu hanya ucapan para tetua agar tidak ada anak nakal yang bermain hingga petang di hutan.

"Apa kalian tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh tetua desa? Bukankah aturan itu sudah ada sejak ... satu abad yang lalu? Entahlah, aku juga tidak ingat."

"Ba-baginda! Kami hanya ingin pergi mencari anak desa kami saja! Ampuni kami, baginda!"

"Benar, Baginda! Kami tidak bermaksud apa-apa! Kami hanya ingin anak itu kembali!"

Orang-orang yang ditahan itu saling sahut-menyahut, berusaha menarik perhatian Baginda dan memohon ampun sampai bersujud, bahkan Mas Giandra juga melakukannya. Hanya Mahesa yang diam dan tidak melakukan apa-apa kecuali bersimpuh hormat.

Mas Giandra menegakkan badan dan memukul dada. Aku salut akan keberaniannya. Biasanya yang ia lakukan hanyalah bersembunyi dan melarikan diri. "Baginda! Saya berani menjamin itu semua! Adik sayalah yang menghilang malam itu. Sebagai kakak, tentu saja tugas saya adalah mencarinya sampai ketemu."

Brak!

Semua orang tersentak ketika Baginda memukul lengan singgasananya. Wajah Baginda tidak terlihat baik-baik saja. Dahinya mengerut dan kulitnya memerah.

"Omong kosong!" serunya sembari menunjuk Mas Giandra yang kini ketakutan. "Jika kalian memang mencari anak yang hilang, kenapa ada dua orang yang berani mengintip ke arah pemandian selir, hah?!"

Apa?!

Aku menganga mendengarnya. Kutoleh semua orang yang kukenal, berusaha mencari petunjuk tentang maksud dari perkataan itu. Apakah ada dua orang di antara para warga dusun desa yang berani melakukan perbuatan bejat seperti itu?

Siapa? Siapa dua orang itu?

Dua ... orang?

"Bukankah Baginda sudah menghukum dua orang itu?" ucapku ketika menyadari sesuatu.

Baginda menyeringai. "Iya, langsung di tempat."

"Mak-maksudnya?" tanya Kartika setengah berbisik.

"Dua orang yang kita temukan di sungai itu. Bukankah merekalah pelakunya?" jawabku menebak-nebak. Aku mendongak dan menatap Baginda. "Saya tidak akan melindungi mereka yang sudah berbuat bejat seperti itu! Tapi, orang-orang yang ada di sini hanya masuk ke wilayah Baginda saja. Itupun karena mereka tidak sengaja. Kami mohon kemurahan hati Anda!"

Aku membungkuk lebih dalam, berusaha mencuri hatinya meski rasanya sia-sia. Aku melirik Mahesa. Ia langsung paham dengan tatapanku dan mulai menyikut Mas Giandra—menyuruhnya untuk ikut membungkuk.

"Kami mohon kemurahan hati Baginda!" teriak Mahesa yang diikuti oleh warga yang lain.

Aku melanjutkan, "Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kami tidak akan pernah menyentuh tanah ini lagi selanjutnya. Kami akan mencari anak dusun kami di luar wilayah Baginda."

"Apa anak itu sangat penting bagi kalian sampai rela melakukan segalanya?" Pertanyaan Baginda membuatku terperangah. Tidak kusangka jika Baginda akan bertanya seperti itu.

"Dia warga kami, keluarga kami, dan teman kami yang sangat kami sayangi. Sudah sepatutnya kami mencarinya sampai ketemu," jawabku tegas.

Baginda masih saja menatapku tanpa berkedip. "Bagaimana jika dia tidak ingin ditemukan?"

"Apa?" tanyaku tanpa berpikir. "Maksud saya ... saya tidak akan mengetahui hal itu sampai bertemu dan berbicara dengannya. Kami hanya orang-orang yang mengkhawatirkan anak itu. Ketika menghilang, dia sedang sakit parah. Membayangkan dia tersesat di hutan membuat kami tidak bisa tidur dengan nyenyak dan tanpa sadar sampai mengganggu ketenangan Baginda."

"Hmm ... sepertinya kalian sangat mem—"

"Baginda!!"

Tiba-tiba, suara yang cukup melengking dari seorang wanita terdengar dari arah lorong diikuti oleh derap langkah terburu-buru. Tanpa sadar, semua orang pun menoleh ke arah sana. Entah mereka merasakannya juga atau tidak, tetapi ketika melihat perempuan itu, napasku tertahan seketika. Kecantikannya mampu membuat orang lupa diri. Seluruh pria yang ada di ruangan itu terpana olehnya.

Seorang perempuan cantik yang baru saja masuk itu mengenakan setelan pakaian paling indah yang pernah aku lihat. Selendang yang ada di pinggangnya terlihat sangat lembut dengan kainnya yang seperti memantulkan cahaya bulan. Leher, pergelangan tangan, bahkan jemarinya dihiasi oleh emas dan perhiasan yang tidak ternilai harganya—yang menimbulkan bunyi gemerincing ketika ia menggerakkan badannya. Dua orang dayang berjalan tergopoh-gopoh dengan membawa pakaian milik perempuan itu.

"Tuanku! Tuanku!" Suaranya yang mendayu memanggil Baginda dengan terburu-buru, sama sekali tidak ada rasa takut dan segan. Apalagi ketika ia dengan manja duduk di dekat kaki Baginda dan menyentuh lutut pria itu dengan manja. "Sutra yang Tuanku berikan terlalu indah, hamba sampai tidak bisa memilih mana yang harus hamab kenakan malam ini! Apa Tuanku berkenan untuk memilihkannya untuk hamba?"

"Wanita cantik ...?"

Gumaman Kalingga membuatku sadar akan lamunanku. Aku menoleh kepadanya dan mendapati Kalingga sedang menatap wanita yang bermanja dengan Baginda itu dengan wajah datar, ia terlihat sama sekali tidak tertarik---berbeda dengan laki-laki lain yang sampai tertegun. Tiba-tiba, Kalingga menoleh dengan cepat ke arahku dan membuatku terkejut.

"... Apa dia wanita yang kamu cari, Chandra?"

Hah? Aku mengernyit seketika. Danastri memang wanita cantik yang kami cari, tapi wanita yang ada di depan sana bukan—

"Danastri!!"

Teriakan putus asa yang menyakitkan dari Mahesa membuatku sadar jika wanita itu adalah yang kami cari selama ini.


.

Bersambung

.


Hayooloh?! Beneran itu Danastri? Kok bisa?!!!

Wkwk, jawabannya di Bayang selanjutnya!!


Ps. Maaf yaw, bab ini dikit dulu jumlah katanya! See you next Friday!!

27 Desember 2024


Chandra [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang