Bab 46 Jalan Pulang

696 85 22
                                        

Chandra © Fukuyama12/Kyrans12 (2025)

.

.

Special thanks to @dvloniea21 dan @Nhadiyae dan kalian semua!!

Selamat datang!



"Apa yang harus kita katakan pada Kepala Dusun nanti?" Bahu Kartika bergetar. Meski sudah tidak ada air mata yang mengalir membasahi pipinya, tetapi mata Kartika terlihat membengkak. Ia pun masih sesenggukan akibat perpisahannya dengan Danastri.

"Aku harap Ayah tidak marah besar padaku," gumam Giandra yang terlihat kebingungan.

Sebelum pergi meninggalkan kamar Danastri, Danastri mendekati Kartika dan memeluknya sangat erat serta membisikkan beberapa kata yang hanya diketahui oleh dua sahabat sejati itu. Berbeda dengan Kartika yang menangis tanpa henti, Danastri justru tersenyum sembari mengelus bahu Kartika untuk yang terakhir kali—seakan ia tidak menyesali keputusannya untuk berpisah dengan Kartika yang sudah menjadi temannya sejak mereka lahir dari kandungan.

Sementara itu, Mahesa tampak diam. Tidak ada air mata yang mengalir atau raut wajah kesedihan yang tergambar dengan mudah. Ia hanya diam dan berjalan di sampingku sampai kami bertemu dengan para warga desa yang lainnya. Namun, tatapannya kosong. Sempat beberapa kali ia salah belok ketika berjalan di depanku sebelum akhirnya aku menarik bajunya untuk mengikutiku.

Bahkan, Mas Giandra pun masih menunjukkan wajah kesalnya karena tidak bisa membawa adiknya kembali pulang bersama dengannya.

Kalingga? Tentu saja dia tidak peduli. Ia masih saja tersenyum ketika aku mengajaknya bicara. Namun, aku berusaha memahaminya. Lagi pula, Kalingga dan Danastri juga tidak saling mengenal. Tidak mengherankan jika perpisahan ini tidak memberikan dampak apa pun baginya.

"Itu pilihannya, kenapa harus pusing?" komentar Kalingga dengan raut tidak peduli dengan mengangkat kedua bahunya. "Dia juga tampak bahagia di sini. Katakan saja jika perempuan itu sudah hidup bahagia sehingga tidak mau kembali."

"Andai semudah itu," jawab Mas Giandra.

"Jadi, Danastri benar-benar tidak akan ikut dengan kita?" tanya salah satu warga. Tanpa menjawab, mereka seharusnya sudah bisa menebaknya dari suasana yang tercipta di antara kami.

"Ah, kalau begitu, pencarian ini sia-sia!" kesal mereka yang langsung disetujui oleh yang lainnya.

Pada saat itulah aku baru ingat jika tujuan mereka mencari Danastri adalah untuk mendapatkan imbalan kepingan emas yang dijanjikan oleh Kepala Dusun.

Mereka lalu saling pandang sebelum akhirnya beralih menatap Mas Giandra. "Giandra! Menurutmu, ayahmu akan tetap memberikan emasnya pada kami, tidak?"

Giandra yang ditanya seperti itu langsung kelabakan. "I-itu ... aku ...."

"Ah, kalau mengingat sifatnya, tentu saja pria itu tidak akan memberikannya pada kita!"

Entah mengapa, sepertinya itu adalah jawaban yang tepat meski aku berusaha untuk menyanggahnya.

"Sial! Kita sudah sejauh ini, bahkan sampai mengorbankan nyawa, tapi dia tetap tidak akan memberi kita apa pun?!" protes mereka.

"Apa kita harus pergi membawa Danastri pulang dengan paksaan?"

"Itu ... itu ide yang bagus!"

Tiba-tiba, mereka berunding dan memutuskan sendiri apa yang harus mereka lakukan. Sementara itu, kami yang mendengarkan itu mulai kebingungan. Aku menoleh pada Kalingga, tetapi ia tentu saja tampak tidak peduli. Dengan begitu, aku maju untuk menengahi.

Chandra [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang