Bayang 45

797 98 28
                                        


Bayangan sederhana yang selalu melekat pada diri Danastri itu hilang seketika. Danastri biasanya selalu memakai pakaian biasa, tersenyum di antara anak-anak dusun yang lusuh. Biasanya tidak pernah ada suara gemerincing gelang emas yang melingkari tangannya, tidak ada pula kalung emas berkilauan yang menghiasi lehernya. Sosoknya yang sederhana itu selalu anggun dan membuat sejuk orang yang melihatnya.

Bagai siang dan malam, Danastri yang ada di depan kami berbeda. Rambutnya yang lurus itu terlihat semakin lembut, seperti pakaian sutra hijau yang ia kenakan. Entah berapa banyak perhiasan yang ia pasang di tangan, jari, leher, dan telinganya. Belum lagi ia kini dikelilingi oleh barang-barang mewah yang hampir tidak bisa dibeli dengan uang.

Namun, aku tidak bisa menampik kenyataan bahwa gadis itu terlihat semakin menawan. Kecantikan wajahnya semakin tajam, seolah-olah Danastri memang lahir untuk menikmati kekayaan dan kemewahan, bukan kehidupan biasa yang membuat tangannya menjadi kasar.

"Da-danastri?"

"Kalian! Kenapa kalian ada di sini?!" Alis Danastri mengernyit tajam. Ia berjalan keluar dan menoleh ke sana-kemari, seolah tengah memeriksa sesuatu. "Bagaimana cara kalian masuk?!"

"Itu ...." Kami saling bertatapan, bingung harus menjawab apa.

"Ah, itu tidak penting! Pokoknya kita di sini karena harus bicara denganmu!" potong Kartika yang berjalan mendekati Danastri dengan memegang tangannya. "Ayo kita kembali!"

Danastri menatap tangannya yang dipegang oleh Kartika. Ia lalu menepisnya dengan kasar sembari mengelus-ngelus bekas cengkeraman Kartika. "Aku kan sudah bilang tidak mau! Kalian kembali saja. Lagi pula, aku juga sudah melepaskan para warga dusun yang tertangkap, kan?"

Sudah kuduga jika sebenarnya Danastri tahu tentang apa yang terjadi dan kejadian di mana ia tidak mengenal kami hanyalah pura-pura belaka.

"Kenapa kamu tidak mau kembali, Danastri? Ibu mengkhawatirkamu! Ayah juga sibuk mencarimu!" bujuk Mas Giandra. "Apa kamu tidak kasihan pada mereka?"

Danastri diam dan menatap kakak laki-lakinya. Ia membuang muka. "Kasihan? Yah ... sebenarnya aku tidak tega dengan Ibu, tapi Ayah ... aku sudah lelah dengan dia! Dia selalu memaksaku untuk menikah dengan kenalan-kenalannya yang kaya itu!" protes Danastri. Matanya terlhat berkaca-kaca dan tangannya mengepal dengan sangat erat.

"Itu ... Emm ... jika kamu kembali, Ayah pasti akan berubah, Danastri!" ucap Mas Giandra.

Danastri mendengkus dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau sungguh percaya akan hal itu? Dengar, Mas! Akan kutanyakan satu hal yang akan membuatmu sadar!" Danastri maju dan menatap Mas Giandra dengan tajam. "Menurutmu, darimana semua emas yang Ayah terima itu?"

"Itu ... pasti dari kenalannya, kan?! Ayah punya banyak teman kaya! Ayah juga kenal dengan pejabat pemerintah dan keluarga bangsawan kraton!"

Danastri menggeleng dan tertawa sinis. "Mas Giandra yakin? Bagaimana kalau itu hanya bualan Ayah saja?"

Mas Giandra terdiam dengan kegelisahan menyelimuti wajahnya. "Me-memangnya kamu tahu apa?!"

"Tahu apa? Tentu saja aku tahu karena Ayah yang menjualku pada Paduka! Aku dengar Ayah menawarkan emas pada siapa pun yang berhasil membawaku pulang," Danastri mendengkus dan memutar bola mata, sungguh perilaku yang tidak kubayangkan akan Danastri lakukan, "Munafik! Dia sendiri yang meminta mahar emas satu kotak, lalu dia juga yang memintaku untuk kembali dan menyuruh orang-orang untuk membujukku pulang! Bahkan sampai ada dua orang yang berniat menculikku ketika aku sedang mandi! Menjijikkan! Kalian semua menjijikkan! Apa Ayah tidak malu menjilat ludahnya sendiri?!"

Chandra [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang