Bayang 16 Tamak Tak Habis

962 119 48
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Chandra © Fukuyama12 (2023)

Genre: Fantasi Gelap Nusantara

.

Bayang 16 Tamak Tak Habis

Aku tercekat mendengar pertanyaan yang dilemparkan Mahesa padaku. Padahal aku bukan tabib atau orang-orang yang ahli mengenai penyakit, tentu saja aku tidak tahu apa-apa.  

Namun, aku tidak bisa menyangkal juga jika apa yang telah terjadi oleh Danastri sangat tidak masuk akal.

Gadis itu tiba-tiba saja jatuh sakit, demam tinggi hingga berhari-hari dan tak kunjung turun. Tak hanya itu, ia bahkan memuntahkan semua makanan yang masuk dalam mulutnya. 

Dalam hitungan hari, tubuhnya semakin mengurus hingga hanya tersisa tulang belulangnya saja. Kecantikan yang selalu dipuji-puji oleh orang itu menghilang dalam kejapan mata. 

Siapa pun yang melihatnya pasti akan tahu jika Danastri bukan terserang demam biasa.

Dengan menutup bibir rapat-rapat, aku menggeleng pasrah dan Mahesa semakin jatuh dalam kesedihan. Aku menoleh pada Kartika yang turut menunduk dalam, entah berapa kali ia mengulangkan bisikan kata maaf. Semua yang ada di ruangan ini hanyut dalam kedukaan yang tidak dapat dijelaskan.

"Ma ... hesa?"

Di tengah itu, suara Danastri yang lemah memanggil Mahesa membuat mata kami semua melebar dan mendongak menatap gadis yang terbaring lemah dan sontak memanggil namanya, "Danastri!"

"Mahesa ...?"

Pemuda yang dipanggil itu mengeratkan genggamannya pada tangan Danastri dan mengangguk mantap sebagai jawaban atas panggilannya. "Aku di sini, Danastri. Maaf membuatmu menunggu lama. Kamu pasti sangat tersiksa," ungkap Mahesa.

Senyum yang sangat kecil—benar-benar kecil hingga jika tidak diperhatikan dengan baik Danastri seperti tidak sedang tersenyum—terulas di wajah Danastri. Aku merasa senang melihat Danastri bisa bertemu dengan Mahesa lagi.

"Maaf tidak bisa datang menemuimu," lirih Danastri. Mahesa menggeleng cepat, tidak terima dengan apa yang Danastri katakan.

"Tidak. Seharusnya aku yang berusaha keras untuk menemuimu. Maaf karena hanya bisa menjadi pecundang saja." Mata Mahesa kembali berkaca-kaca. Ia membawa tangan Danastri perlahan menyentuh dahinya. Hanya dengan seperti itu, ketenangan terlihat muncul dari wajah Mahesa.

Entah mengapa aku jadi ingin segera pergi dari sini.

"Ekhem!" Aku berdeham. Maaf, tapi aku harus mengiterupsi kalian. "Ayo, makan dulu, Danastri! Yang lainnya juga boleh ikut makan. Hari ini Ibunda mebuatkan makanan yang banyak saat tahu Mahesa juga akan ikut." Aku mengangkat rantang yang sebelumnya aku letakkan.

Chandra [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang