Chandra © Fukuyama12/Kyrans12 (2023)
.
.
Bab 49
.
Hiks ... Hiks ....
Aku terdiam saat mendengar suara isak tangis yang begitu samar. Entah mengapa aku mengenal suara tangisan yang begitu menyayat hati itu. Aku mencoba mencarinya sekaligus mengingat-ingat suara siapa itu.
'Itu bukan suara Danastri meski sama-sama lirih.'
"Kalingga, apa kamu mendengar ada orang yang menangis?" tanyaku pada Kalingga. Kami berdua sama-sama berjalan di lorong gelap tak berujung, entah ke mana dia menyeretku untuk pergi.
"Menangis? Tidak," jawab Kalingga tanpa pikir panjang, "mungkin hanya bayanganmu saja."
Aku ragu-ragu mendenganya meski memang suara tangisan itu semakin tidak terdengar. Rasanya semakin menjauh tiap aku mengambil langkah. "Tapi—"
"Jangan menoleh ke belakang, Chandra. Nanti kamu tidak tahu mana arah depan."
Ucapan Kalingga membuatku langsung menoleh kembali. Aku merasakan tangan dingin Kalingga yang semakin menggenggamku erat.
"Sebentar lagi sampai," sambung Kalingga seolah menunjuk titik putih yang ia maksud.
Grep!
Langkahku tertahan, bukan aku yang melakukannya dengan sengaja. Bulu kudukku berdiri ketika merasakan tanganku yang kosong itu kini digenggam oleh seseorang.
Tunggu, bukannya hanya ada kau dan Kalingga saja saat ini?
"Hei, sampai kapan kamu mau membuat Ibunda menangis?"
Suara itu tiba-tiba muncul dalam kepala. Tidak terlihat siapa sosok yang tengah menahan langkah dan berbicara padaku itu. Samar-samar kulihat Kalingga menutup mulutnya rapat-rapat—menunjukkan bahwa itu bukanlah dirinya yang mengatakan. Ketika berkedip aku mencoba untuk bertanya, tiba-tiba seluruh pandanganku memburam.
Rasanya seperti ada yang menarik jiwaku untuk menjauh dari Kalingga. Semuanya berlangsung sangat cepat, bahkan Kalingga pun tidak sempat mengangkat tangannya untuk menahanku menghilang.
Delete
"Chandra!"
Suara samar-samar memanggil namaku dengan sekuat tenaga. Ketika aku membuka mata, Mahesa tampak panik dan berteriak memanggil orang lain. Namun, kepalaku terlalu penuh dan telingaku berdengung dengan penuh kebisingan, mengekang suaraku untuk keluar.
"Dia membuka matanya! Dia sudah sadar!"
"Chandra! Chandra! Anakku, Ibunda mohon, jangan tinggalkan Ibunda!"
'Aku kan tidak kemana-mana, Ibunda ...'
Aku berharap aku punya tenaga untuk mengatakan hal itu. Tidak pernah kulihat Ibunda menangis begitu deras seperti itu. Matanya memerah dan bengkak, suaranya seraknya begitu menyayat hati seolah aku telah meninggalkannya sendirian.
'Kumohon berhentilah menangis,' bisikku. Entah beliau mendengarnya atau tidak, tetapi kuharap Ibunda tidak menatapku seperti itu. Ingin rasanya aku menghapus air mata itu, mengatakan jika aku akan selalu berada di sisinya dan tidak pergi ke mana-mana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chandra [END]
Historical Fiction"Jangan main kalau matahari mulai terbenam, nanti kamu bisa hilang! Apalagi kalau sampai masuk ke Alas!" Bukan untuk menakut-nakuti anak kecil agar pulang sebelum senja, tetapi itu memang pantangan bagi seluruh penduduk Dusun Pedhukul tidak peduli u...
![Chandra [END]](https://img.wattpad.com/cover/330291480-64-k818360.jpg)