Bayang 56 Perpisahan (END)

576 74 37
                                        

Chandra © Fukuyama12 (2023)

.

.

Bayang 56 Perpisahan

.

Semua ini murni hanya karya FIKSI FANTASI belaka, tidak ada kaitannya dengan di duni nyata.



Semuanya terasa gelap, tetapi aku bisa melihat kedua tanganku sendiri. Kegelapan ini tidak menyeramkan, tidak juga menyesakkan, tetapi tetap terasa hampa.

'Ah, aku sedang bermimpi,' batinku sembari menatap kedua tangan dan kaki yang tidak menggunakan alas. Aku berjalan tanpa arah, mencoba mencari sesuatu dan—jika memungkinkan—jalan keluar.

Di tengah-tengah aku melangkah, suara tangisan yang begitu menyakitkan dan menusuk samar-samar terdengar di ujung telinga. Mengikuti naluri manusiawiku, aku berbalik alih, beralih untuk mencari asal suara tangisan yang tidak kunjung berhenti.

Langkahku berhenti pada wanita yang meringkuk. Seolah menyadari keberadaanku, ia langsung mengangkat wajahnya. Terlihat jelas bekas air mata yang tidak hilang.

"Chandra!"

Aku tersentak dan melangkah mundur ketika mendengar namaku disebut. Matanya menatap langsung seolah sudah mengenalku. Tangannya yang penuh dengan lebam mengulur. Ia merangkak untuk meraihku meski harus terseok-seok. Semakin ia mendekat, aku menyadari jika lebam itu memenuhi badannya, apalagi ia hanya menggunakan kemban yang tidak menutupi bahu.

"Tolong ... Tolong ... Tolong aku ...."

Wanita itu akhirnya berhasil meraih kain tenun yang melingkari pinggangku. Aku memang sengaja tidak bergerak menjauh. Ketika menyadari siapa wanita itu, aku memutuskan untuk diam dan melihat apa yang akan ia lakukan.

"Kenapa kamu diam saja dan tidak menolongku sama sekali!"

Aku terdiam dan memalingkan wajah. Meski aku berusaha untuk abai, sosoknya justru semakin jelas. Tidak ada kulit putih mulus yang bisa dibanggakan, justru keriput yang kini menggantikannya. Rambut yang lurus dan hitam legam mulai memutih dan kusut. Pantas sebelumnya aku merasa asing dengan sosok ini.

"Kenapa kamu tidak menolongku sama sekali?!" Ia kembali berteriak meski suaranya sudah parau karena menangis tak berhenti. Tangannya terus menarik kain yang kukenakan, meninggalkan bekas kotoran dan sedikit bercak darah karena tangan dan kukunya yang rusak.

"Kenapa kamu diam saja! Kamu selalu menolong orang-orang, tetapi kenapa kamu sekarang tidak menolongku?!"

"Tidak bisa, Danastri," ucapku getir. Seberapa menyakitkannya rintihan Danastri dan teriakan minta tolong yang selalu ia gaungkan, aku tidak akan bisa menolongnya. "Bukankah semua ini adalah pilihanmu sendiri?"

Teriakan Danastri semakin kencang. Ia seperti putus asa, tetapi terus memaksaku untuk menolongnya. Entah pertolongan apa yang ia inginkan. Jika bukan karena penglihatan yang diberikan oleh

Lagi pula, apa yang bisa kuperbuat? Tuanku sudah mengikat Danastri menjadi miliknya. Dan Danastri pula yang memilih Tuanku. Hubungan mereka tidak akan bisa dipisahkan lagi.

"Apa kamu tidak melihat wujudku sekarang?! Hanya karena aku sudah tidak cantik lagi, dia meninggalkanku dan beralih pada wanita lain! Dan sekarang aku harus menjadi budak mereka selamanya!"

"Padahal dia bilang kalau dia mencintaiku! Padahal dia yang selalu mengikuti selama aku berada di dusun! Padahal dia sudah membayar semua mahar pada si tua bangka itu! Apa semua itu tidak berharga baginya?!"

Chandra [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang