Chandra © Fukuyama12 (2025)
.
.
Bayang 47
.
Selamat datang dan selamat membaca!
Jika aku tidak menahan tubuh, mungkin aku sudah terjungkal ke belakang berkat pelukan erat dari Ibunda. Belum sempat aku berkata-kata, Ibunda menangkup wajahku dengan kedua tangannya, membalikkanku ke kanan dan ke kiri, memeriksa apakah aku kembali dengan utuh.
Aku tertawa geli karena tangan Ibunda yang menyentuh perut, punggung, bahkan pinggangku. "Bunda, sudah, Chandra tidak apa-apa, tidak ada yang terluka, kok," ucapku sembari memegang tangan beliau.
Akan tetapi, beliau justru terdiam ketika aku memegang tangannya. Tatapan matanya pun berubah, lalu sedetik kemudian menjadi lebih khawatir.
"A-ada apa, Ibunda?"
Ibunda tidak menjawab dan justru menarik tanganku dengan sekuat tenaga. "Ayo kita temui Datuk Suma sekarang!" serunya dengan nada tajam. Namun, sekilas aku melihat matanya yang berkaca-kaca dengan semburat kepanikan.
Ekspresi Ibunda membuatku kebingungan, tetapi aku tidak menanyakan apa pun. Langkah Ibunda yang panjang dan terburu-buru membuatku semakin tidak enak.
***
"Datuk Suma! Datuk Suma!"
Brak! Brak! Brak!
Ibunda berteriak sembari memukul pintu kayu yang hampir roboh itu dengan keras. Aku berusaha menghentikannya sebelum pintu itu hancur.
"Tidak perlu berteriak begitu, Ibunda. Datuk Suma pasti bisa mendengar panggilan Ibunda," ucapku menenangkan.
"Kamu diam saja!" bentak Ibunda yang membuat mulutku terkatup rapat. Rasanya mata Ibunda semakin berkaca-kaca seolah ingin menangis. "Ini semua gara-gara dia yang memaksamu pergi!" Suaranya pun terdengar bergetar dan tajam seolah sedang menyalahkan Datuk Suma.
Di saat yang sama, akhirnya pintu itu terbuka dan menampilkan Datuk Suma dengan tongkatnya. Ibunda kembali menarik tanganku untuk mendekat.
"Lihat apa yang kamu lakukan pada anakku!" seru Ibunda dengan penuh amarah. Aku yang merasa baik-baik saja hanya bisa menganga. "Pegang tangan Chandra! Ini semua karenamu! Kembalikan dia seperti semula!"
Ibunda menjulurkan tanganku untuk dipegang oleh Datuk Suma. Namun, Datuk tidak menyentuhku sama sekali dan justru menyuruh kami untuk masuk. Aku dan Ibunda duduk di atas alas tikar, sementara Datuk berjalan ke belakang.
"Ibunda, aku tidak apa-apa," bisikku pada Ibunda yang terisak.
Ibunda menoleh dengan cepat. "Apanya yang baik-baik saja?" Tanganku kembali dipegang olehnya. Suaranya bergetar, begitu pula dengan jari-jemari Ibunda yang lemah. "Tanganmu ... tanganmu dingin."
Aku tersentak. Angin dingin tiba-tiba menyelimuti tubuhku. Ucapan Ibunda membuatku menyadari satu hal. Aku merasa kedinginan. Cahaya matahari terasa menyilaukan dan memanggilku untuk mendekat, tetapi ketika aku terus memandanginya, mataku terasa sakit.
"I-itu mungkin karena aku pergi ke hutan semalaman. Di hutan sangat dingin ketika malam, ibunda. Jadi ini normal, kan, Ibunda?" Aku menggenggam tangan Ibunda yang terasa hangat.
Ibunda diam. Tatapan Ibunda yang kosong membuatku semakin tidak nyaman. Mulut Ibunda bergerak terbuka dengan perlahan. "Kamu ... kamu pergi menyeberangi gerbang, ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Chandra [END]
Ficción histórica"Jangan main kalau matahari mulai terbenam, nanti kamu bisa hilang! Apalagi kalau sampai masuk ke Alas!" Bukan untuk menakut-nakuti anak kecil agar pulang sebelum senja, tetapi itu memang pantangan bagi seluruh penduduk Dusun Pedhukul tidak peduli u...
![Chandra [END]](https://img.wattpad.com/cover/330291480-64-k818360.jpg)