Chandra © Kyrans12 (2023)
Fantasi
.
Cerita ini hanya FIKSI dan karangan belaka, tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan di dunia nyata.
.
"Sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan harapan agar ke depannya terus diberikan keselamatan serta perlindungan, Datuk Suma bilang akan mengadakan sedekah panen lebih awal tahun ini."
"Apa itu sebabnya orang-orang banyak yang terlihat sumringah dan bersemangat?" tanya Mahesa mendengar penjelasan dari Kartika.
Pemuda itu memang terlalu sibuk di ladang, memberikan makanan untuk ternak tuannya atau mengurus Arsa ketika ada waktu senggang. Akhir-ahir ini ia juga jarang berkumpul—sebenarnya sejak lama suka sendiri daripada ramai, tetapi akhir-akhir ini Kartika menyadari jika Mahesa semakin tidak suka dengan perkumpulan.
Akan tetapi, gadis itu merasa senang karena Mahesa mengiyakan ajakannya untuk menemaninya pergi ke pasar. Hasil panen dari ladang kecil yang ada di pekarangan rumahnya biasa ia barter dengan bahan makanan lain di pasar kecil yang tak jauh dari desa.
"Hasil panenmu akhir-akhir ini lebih banyak dari biasanya, ya?" Mahesa menatap bawaan di tangannya.
"Iya. Bahkan masih ada di rumah, beberapa juga akan digunakan untuk sedekah bumi," jawab Kartika dengan riang. "Nanti aku juga harus membeli beberapa perlengkapan sedekah bumi. Ibu bersemangat sekali ingin membuat anyaman dan menata buah-buahan."
Mahesa menyadari jika senyuman Kartika berbeda dari biasanya. Sepertinya banyak hal baik yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Setidaknya itu membuat Mahesa lega karena beberapa hari yang lalu gadis itu terus bersedih karena kehilangan teman kesayangannya sampai menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Danastri yang dicintai semua orang.
Ketika sampai di keramaian pasar, Kartika mendatangi orang-orang dan menawarkan barang-barang yang ia bawa. Hanya dengan berbincang sejenak dan sedikit tawa-menawar, mereka setuju untuk menukarkannya dengan barang yang Kartika inginkan. Tanpa terasa dan tak butuh waktu yang lama, hampir semua barang yang dibutuhkan untuk sedekah bumi pun sudah ada di tangannya.
"Cah Ayu, kapan-kapan beli ke sini lagi, ya?" Ibu penjual mengelus tangan Kartika sembari menggodanya dengan khas.
Kartika hanya bisa tersenyum dan mengiyakan basa-basi itu, lalu beranjak pergi bersama dengan Mahesa. Sebelumnya, ia biasa pergi berdua dengan Danastri saja. Semua orang yang mereka lalui pasti menoleh ke arah Danastri dan menatapnya sampai Danastri menghilang dari pandangan mereka.
'Padahal saat itu tidak ada yang melirik ke arahku, bahkan satu orang pun.'
Tidak sekali saja Kartika mendapatkan pujian belakangan ini. Orang-orang juga terlihat lebih ramah kepadanya. Barang yang ia tawarkan habis dalam sekejap, orang-orang juga memberikan jumlah yang lebih banyak dan harga yang lebih murah daripada biasanya.
Kartika menyadari hal itu ketika ia sering pergi sendirian karena Danastri yang sudah tidak lagi menemaninya. Ketika gadis itu masih hidup, orang-orang hanya berfokus padanya, keberadaan Kartika rasanya hanya angin lalu bagi mereka.
Perasaan rumit menyelimuti Kartika. Namun, semua itu buyar ketika mendapatkan tepukan di bahunya.
"Hei, aku memanggil kalian sedari tadi, kenapa tidak ada yang menoleh?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Chandra [END]
Tarihi Kurgu"Jangan main kalau matahari mulai terbenam, nanti kamu bisa hilang! Apalagi kalau sampai masuk ke Alas!" Bukan untuk menakut-nakuti anak kecil agar pulang sebelum senja, tetapi itu memang pantangan bagi seluruh penduduk Dusun Pedhukul tidak peduli u...
![Chandra [END]](https://img.wattpad.com/cover/330291480-64-k818360.jpg)