Bayang 43 Nimas

789 82 11
                                        

Chandra © Fukuyama12

Genre: Fantasi-Nusantara

(Vote dulu, dong! Thx!)

.

Bayang 43 Nimas



"Danastri?!"

Aku menoleh pada Kartika yang bersama-sama meneriakkan nama Danastri denganku. Kami saling menatap selama beberapa detik, lalu kembali menoleh ke arah wanita yang ada di depan sana.

Siapa yang menyangka jika wanita yang dulunya hanya terbaring lemah itu ternyata bisa berdiri dan berlari dengan lincah. Badannya yang dulu kurus dan rasanya hanya tersisa tulang-belulangnya saja itu ternyata kini bisa terlihat lebih berisi dari sebelumnya. Pipinya yang pucat kini terlihat kemerahan dan tembem. Ketika dulu ia tidak bisa berbicara karena terlalu lemah, ternyata sekarang ia bisa mengeluarkan suara lembut seperti ombak yang tenang.

Tidak ada yang percaya jika itu adalah Danastri yang hilang itu. Semua warga Dusun Pedhukul yang ada di sini pun seperti melihat keajaiban, bukan! Ini seperti mukjizat!

"Danastri! Danastri!" Mahesa memanggil berkali-kali. Ia tidak lagi bersimpuh dan berusaha untuk bangkit menuju kekasihnya yang sudah hilang selama beberapa hari itu.

Aku tidak tahu perasaan apa yang tengah memenuhi dada Mahesa saat ini. Ia yang biasanya tampak tenang itu kini terlihat kacau dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tidak bisa membayangkan betapa remuknya hati Mahesa saat ini.

Bruk!

Kejadian itu begitu cepat. Mahesa tersungkur begitu pengawal mendorong badannya yang besar hanya dengan gerakan kecil. Dagunya menatap lantai kayu dan tanpa sengaja membuat lidahnya berdarah karena tergigit. Ia meringis kesakitan tanpa bisa menahannya.

"Beraninya kamu mengangkat kepala, berdiri, dan berbicara tanpa izin dari Raja!"

Tidak ada yang berani bergerak begitu pengawal berkata dan menghukum Mahesa, seolah ia menjadi contoh bagi siapa pun yang mau melawan. Aku meremas sarung tenun karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya, menolong mereka, berbicara dengan Danastri, dan mencari tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi.

"Apa kamu mengenalnya, Nimas?"

Jemari Baginda membelai lembut kulit wajah Danastri. Gadis itu membalas dengan menyentuh tangan pria itu. Ia layaknya kucing yang haus sentuhan pemiliknya. Mata Danastri sama sekali tidak lepas dari Baginda. Ia hanya mengerling sejenak untuk menatap kami satu persatu dengan sekilas. Namun, entah mengapa ada yang berbeda dari caranya menatap kami.

Danastri lalu kembali menatap Baginda dan menjawab, "Hanya pernah bertemu beberapa kali saja, Baginda. Bukan orang-orang penting, Baginda tidak perlu risau."

Jawaban Danastri membuat orang-orang yang mendengarnya tercengang. Baik Mas Giandra dan Mahesa, keduanya bahkan sampai membuka mulut. Kartika yang ada di sebelahku pun mengernyitkan alisnya tak percaya. Orang-orang dusun saling melempar pandangan.

"Dia ... apa dia melupakan kita?" tanya Kartika kepadaku.

Aku tidak menjawab dan hanya diam menatapnya, mengatakan bahwa aku juga tidak mengerti alasan Danastri berkata seperti itu.

"Danastri? Apa maksudmu berkata seperti itu? Bukankah kita itu saudara sedarah? Aku ini kakakmu!" Mas Giandra tampak tidak peduli dengan tatapan dan tombak tajam yang mengarah kepadanya. Di saat-saat seperti ini, aku iri dengan keberaniannya.

Chandra [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang