Chandra © Kyrans12 (2023)
Bayang 50
.
.
Napasku tercekat sepenuhnya. Rasanya jantungku berhenti berdegup selama beberapa detik. Perlahan, tanganku terangkat dan meraba dada, memeriksa apakah jantung ini memang masih berdetak atau tidak—seperti yang dikatakan oleh orang-orang di depanku.
Deg-deg-deg!
Ketenangan menyapa ketika aku bisa merasakannya. Dengan kata lain, perkataan ini hanyalah bualan.
Apa aku bisa menunjukkannya pada orang-orang jika jantungku ini masih berdetak? Apa dengan begitu mereka bisa yakin jika aku belum mati?
"Chandra?!"
Tarikan keras dan kencang di bahu membuatku berbalik sepenuhnya, seolah memaksaku untuk menatap dia yang memanggilku. Kulihat wajah pucat Mahesa dan matanya yang melebar menatapku dengan pandangan tidak percaya.
'Kenapa dia melihatku seperti baru saja melihat hantu?'
"Kamu ... kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan penuh tanda tanya.
"Yah ... seperti yang kamu li—" Belum selesai menjawab, Mahesa sudah menarik tanganku, meninggalkan orang-orang yang masih kebingungan dan tidak percaya. "Hei, ada apa? Kenapa terburu-buru, sih? Memangnya kita mau ke mana?"
"Tentu saja ke Datuk Suma!" jawab Mahesa tanpa pikir panjang dan terus menarikku meski aku bisa jalan sendiri di sebelahnya.
Begitu sampai di rumah Datuk Suma yang berantakan dan penuh dengan tumbuhan kering, tidak kusangka ternyata Datuk Suma sudah menunggu di depan pintu. Mahesa yang berjalan cepat itu berusaha untuk mengatur napasnya begitu ia sampai di hadapan pria sepuh itu.
"Benar apa yang Datuk Suma katakan, Chandra benar-benar bangun!" cerita Mahesa yang tidak percaya. Aku semakin menatapnya denga keheranan. Setelah bangun, orang-orang di sekitarku bersikap sangat aneh.
"Kenapa kalian seperti mengira aku sudah mati?" Mahesa dan Datuk Suma langsung menatapku dengan keheningan yang menyapa. Aku semakin tidak suka karena merasa seperti ditinggal sendirian. Jadi, kutatap mereka dengan kernyitan di dahi.
"Itu ...," Mahesa memalingkan wajah dan menatap tanah yang ia pijak, seolah ada beban ketika akan menjawab pertanyaanku.
Kualihkan pandangan pada Datuk Suma yang menghela napas panjang. "Kamu ingat apa yang terjadi sebelum kamu tidur?"
Aku memutar ingatan. Suasana berisik orang-orang yang saling sahut-menyahut memenuhi balai desa rasanya terasa sampai sekarang. Anehnya, meski begitu berisik dan kacau balau, aku tetap bisa tertidur setelah melihat Kalingga berjalan ke arahku.
"Orang-orang sangat berisik saat itu, lalu aku melihat temanku ... tiba-tiba aku jadi tidak kuat menahan kantuk dan tidur," jawabku.
"Apa kamu ingat pesan Datuk sebelumnya?"
'Pesan Datuk?' Aku berpikir sejenak. Memangnya apa yang beliau katakan sebelumnya. Tak lama setelah berusaha memutar otak, aku menemukan kalimat yang diteriakkan oleh orang-orang padaku saat itu. "Em ... jangan ... tidur?"
Datuk Suma mengangguk dan membuatku lega karena berhasil menjawabnya dengan tepat. Namun ... bukannya aku justru melakukan apa yang beliau larang?
"Meski begitu, kamu tetap tidur," ucap Datuk Suma dengan penuh penekanan, seperti mengancam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chandra [END]
Fiksi Sejarah"Jangan main kalau matahari mulai terbenam, nanti kamu bisa hilang! Apalagi kalau sampai masuk ke Alas!" Bukan untuk menakut-nakuti anak kecil agar pulang sebelum senja, tetapi itu memang pantangan bagi seluruh penduduk Dusun Pedhukul tidak peduli u...
![Chandra [END]](https://img.wattpad.com/cover/330291480-64-k818360.jpg)