Chandra © Fukuyama12 (2025)
Bayang 48
.
"Lalu, karena kami sudah mencari anakmu dengan bertaruh nyawa, kau akan memberikan imbalan sesuai dengan perjanjiannya, kan?"
Sepertinya itu adalah pertanyaan yang sudah dipendam oleh orang-orang yang selamat sejak mereka pergi mencari Danastri.
"Itu ... Ehem!" Kepala Dusun berdeham dan menggaruk tengkuknya. Matanya menatap istri dan anaknya, lalu kembali ke arah warga seolah tidak tahu apa-apa.
"Berikan kami imbalan emas yang kau janjikan!!" desak warga dusun yang ikut mencari semalaman.
"Ta-tapi, kalian kan tidak berhasil membawa anakku kembali! Perjanjiannya kan kalian harus membawa Danastri kembali!" ungkap Kepala Dusun seperti yang sudah diperkirakan oleh kami sebelumya.
Orang-orang mulai geram, beberapa bahkan berdiri dari duduknya dan ditahan oleh orang-orang yang ada di sebelah mereka.
"Anakmu sendiri yang memilih untuk tetap tinggal di sana! Dan kamu menyalahkan kita untuk itu?!"
"Jadi kau hanya memanfaatkan kami saja?"
"Kenapa kamu tidak pergi sendiri saja, dasar pengecut!"
"Bagaimana dengan kakakku yang jadi korban setelah pergi mencari Danastri?! Apa kami keluarganya juga tidak mendapatkan ganti rugi!?"
Kepala Dusun yang tersudut tidak bisa berbicara apa-apa. Apalagi melihat banyak orang yang berdiri dengan wajah mereka yang memerah penuh dengan kekesalan dan rasa murka. Tidak ada yang pernah melihat Kepala Dusun sepucat dan gemetar seperti itu.
"... hei! Bukankah aku sudah bilang untuk jangan biarkan Chan—"
"Cepat bangunk—"
Di saat orang-orang berisik dan saling berteriak menunjuk-nunjuk Kepala Dusun, aku terdiam. Rasa kantukku anehnya menghilang ketika melihat sosok yang berdiri tak jauh di depanku. Pemuda itu tertawa kecil melihat kekacauan yang ada di sini. Ia lalu geleng-geleng kepala dan menghela napas panjang. Ketenangan yang menyelimuti dirinya membuat keberadaan pemuda itu seperti tidak dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Orang asing yang datang ke dusun kami biasanya akan terlihat sangat mencolok. Orang-orang akan menoleh pada orang asing sampai sosoknya tak terlihat oleh mata mereka. Namun, sosok pemuda itu, meski ia berdiri di tengah-tengah warga dusun, rasanya seperti sama sekali tidak terlihat oleh orang-orang. Tidak ada yang menoleh ke arahnya barang sedetik saja.
"Manusia itu memang serakah sekali, ya? Hanya karena kepingan logam saja mereka sudah ramai seperti ini," ucap pemuda itu sambil menahan tawanya, seolah baru saja melihat lakon yang menggelitik perut.
"Kamu ... kenapa kamu ada di sini?" Tanpa sadar aku bertanya kepadanya.
Akhirnya, pemuda itu menatapku kembali. Kalingga memiringkan kepalanya. "Untuk menjemputmu. Sepertinya tugasmu belum selesai, ya?"
Aku merasakan tatapan Kalingga yang menusuk tubuh. Namun, aku mencoba untuk mengabaikannya. Itu bukan hal yang penting saat ini. "Maksudmu?"
"Ayo ikut denganku sebentar." Kalingga tiba-tiba mengulurkan tangannya, berniat membantuku untuk bangkit. Namun, aku hanya menatap tangannya yang mengambang di udara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chandra [END]
Fiksi Sejarah"Jangan main kalau matahari mulai terbenam, nanti kamu bisa hilang! Apalagi kalau sampai masuk ke Alas!" Bukan untuk menakut-nakuti anak kecil agar pulang sebelum senja, tetapi itu memang pantangan bagi seluruh penduduk Dusun Pedhukul tidak peduli u...
![Chandra [END]](https://img.wattpad.com/cover/330291480-64-k818360.jpg)