8. Cinta di Laboratorium?

5 1 2
                                        

*AFTER YOU*

Selepas menerima panggilan telepon dari Arga siang tadi, Rasti memutuskan untuk menyiapkan persiapan keperluannya untuk praktek besok. Berhubung jadwal masuk laboratorium sekitar jam 9 pagi dia memutuskan untuk menginap malam ini bersama Andin.

"Males banget tau ketemu koas super jutek besok!" Ucapnya memasukkan buku panduan dalam ransel.

"Keknya dia benci amat sama lo, semester kemarin aja nilai lo di matkul lain koas dia dapet c" Andin memakan kripik singkong di tas nakasnya.

"Sebenarnya terserah mau nilai berapa yang penting gue lulus cepat, namanya juga salah jurusan" ucapnya Santai.

"Nenek gue suruh balik bentar ambil makanan, lo ikut ya biar ada alasan gitu gue tidur di kosan males bener ketemu anak-anak kesayangan di rumah.

Rasti hanya mengangguk saja, mereka pun langsung saja bersiap untuk pergi ke rumah Andin. Andin memang aneh memutuskan untuk tinggal sendiri di kos-kosan sedangkan orang tuanya memiliki rumah yang besar, ia hanya pergi hanya untuk sekedar mengambil makanan buatan neneknya ataupun acara keluarga yang mengharuskan ia hadir selepas itu dia memilih absen.

" Tumben banget garasi lo rame biasanya cuma mobil orang tua lo aja" ucap Rasti turun dari mobil milik Andin.

"Anak kesayangannya udah balik" Andin langsung saja masuk mengajak Rasti di sampingnya.

Andin memang tidak terlalu akrab dengan keluarganya, ia hanya melalukan komunikasi dengan bundanya saja, sedangkan ayah dan kedua saudaranya tidak terdapat komunikasi yang intensif. Andin pernah bercerita kalau dia punya saudara laki-laki, tapi selama Rasti ikut beberapa kali ke rumah Andin, ia tidak pernah melihat Kaka Andin.

"Mba Andin pulang juga" ucap perempuan cantik yang tengah duduk bersama seorang laki-laki di ruang tamu.

Andin hanya melewati mereka saja tanpa berniat membalas ucapan wanita cantik tadi.

"Eh gila, lo di sapa tau sama mba cantik tadi" ucap Rasti mencubit lengan Andi.

"Itu dia cari muka aja ke Abang gue di sebelah nya.

Wanita cantik tadi terlihat murung dan memeluk laki-laki di sebelahnya yang kata Andi adalah pacar Alice saudara tirinya.

Rasti dan Andi langsung saja berjalan menuju dapur, di sana terlihat ada nenek Desi yang sedang menata makanan di meja makan, seperti akan ada makanan malam keluarga sebentar lagi.

"Nenek!"
"Cucu cantik ku sudah datang" Andin memeluk neneknya raut wajahnya pun sudah kembali normal dan tidak sedingin tadi.

"Kalian berdua jangan dulu pulang ya makan malam bersama dulu"

"Aku datang ngambil makanan buatan nenek aja deh, mau pulang cepat" ucap Andin mengambil dua kotak bening yang ingin ia isikan.

"Ayolah Andin, Kaka mu baru saja pulang loh dia dari tadi nyariin kamu.

Andin tidak menjawab ucapan neneknya ia sibuk memasukkan makanan ke dalam wadah, sedangkan neneknya hanya menggeleng heran.

...
Setelah di bujuk oleh nenek nya Andin akhirnya duduk bersebelahan dengan Rasti di meja makan dan Rasti dapat melihat formasi lengkap keluarga Andin yang sebenarnya.

"Akhirnya papa bisa liat Andin pulang di depan mata, bukan di cctv rumah lagi" ucap senang papa Andin.

"Sepertinya Matthew belum pulang ya ?"Tanya mama tiri Andi yang sedari tadi terlihat diam.

"Kaka masih di jalan tadi udah adek Vidio call" ucap Alice. Mendengar ucapan Alice membuat Andi menatapnya jengah dan memiliki memakan makanannya.

Rasti kembali heran dengan tingkah Andin, dalam pikirannya ia menangkap bahwa Andin tidak suka dengan tingkah saudara tirinya itu.

Makan malam berlangsung, papa Andin sesekali mengajak Andin untuk berbicara dan di jawab oleh Andin namun tidak terlalu banyak hanya terkait kuliah nya saja, sedangkan ibu tiri Andi mencoba menceritakan kepada Andin terkait prestasi Alice yang dalam waktu dekat akan berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya dalam program beasiswa.

"Maaf aku telat"

Ucap seorang laki-laki dengan stelan kemeja hitam lengkap dengan masker yang menutupi wajahnya.

"Ayo duduk nak, kami belum lama memulainya"

Laki-laki yang sepertinya Kaka Andin tersebut mengangguk dan berjalan menuju kursi di sebelah Andin, ia membuka masker nya mencium adiknya itu.

"Abang nya Andi cakep ya, tapi kaya pernah ketemu deh mungkin aja salah inget kali ya" batin Rasti.

Makan malam berlangsung kembali, banyak obrolan yang terjadi di keluarga ini, terlihat Kaka Andin sangat care terkait kabar adiknya.

"Rasti titip Andin ya nak, ingetin dia kalo ada salahnya " ucap nenek Rasti memberikan paper bag yang berisikan makanan.

"Iya nek tenang, kalo dia aneh-aneh aku laporin ke nenek hehe".

"Huhuhu tukang ngadu" ucap Andin menyenggol tangan Rasti.

Andin dan Rasti berjalan keluar rumah berniat ingin pulang selepas acara makan malam tadi orang tua Andin langsung pergi bersama Alice dan pacarnya Alice, katanya ada pertemuan dengan mendadak dan sekaligus mengantarkan Alice ke salah satu tempat.

"Andin, kamu mau kemana?" Ucap Matthew menahan lengan adiknya.

"Mau pulang lah kak, kemana lagi" ucapnya Santai.

"Pulang? Kan ini rumah, kamu aneh deh" Matthew tertawa mendengar lelucon adiknya.

Sedangkan Andin hanya mengabaikan ucapan Matthew karena menurutnya ia memang mengatakan hal yg benar.

"Temannya Andin ya ? Perkenalkan saya kakanya Andin, Matthew " ucapnya mengulurkan tangan.

"Oh iya kak, nama saya Rasti bestinya Andin" Rasti menjawab uluran tangan Matthew.

" Kamu mirip sama perempuan yang di Gramedia beberapa hari yang lalu" ucapnya mencoba mengingat.

Rasti langsung saja teringat tentang kemiripan wajah laki-laki itu dengan wajah Kaka Andin, dan benar saja seperti memang Kaka Andin orang yang berada di Gramedia beberapa waktu lalu, tapi sebaiknya Rasti berbohong saja karena kemarin hal memalukan bagi Rasti.

"Sepertinya salah orang kak hehehe"
"Udah dulu ya kak, udah ngantuk kita mau pulang dulu lagi pulang aku udah ngekos nggak tidur di rumah" Andin mengajak Rasti.

"Kamu serius? "

"Dua Rius!" Ucap Andin menjalankan mobilnya dan meningkatkan Kakanya yang masih terlihat bingung.

...

"Belah objek nya jangan gitu, belepotan banget!"

"Iya kak nggak sengaja" Rasti mengambil objek baru untuk memulai ulang proses pembelahan ikan.

"Aduh baru 5 menit udah dua aja objek di pake sama satu anak, kapan kelarnya kamu pikir kelas kalian aja yang antri praktikum!" Ucap Anjani koas galak.

Rasti masa bodoh dengan omongan koasnya, ia memiliki fokus membelah objek agar cepat bisa melakukan pencatatan untuk mengejar ketertinggalannya dari teman-teman lain yang sudah masuk ke step lain.

Tanpa diduga Arga yang berdiri di depan Rasti langsung mengambil alih buku catatan Rasti dan menyalin catatan miliknya agar Rasti dapat fokus membuat objek saja.

"Agar-agar nanti ketauan!" Ucapnya berbisik.

"Tenang, biar kamu bisa ngejar yang lain". Ucapan Arga membuat Andi sedikit tidak enak perihal tugas yang seharusnya ia kerjakan sendiri. Arga menulis buku milik Rasti sambil sesekali mengajarkan Rasti terkait beberapa metode selanjutnya mulai dari tabung jentik yang sirkulasi airnya harus memiliki pH normal sampai pertumbuhan plankton.

"Makasih Arga"
"Tumben bukan agar-agar" ucap Arga heran. Sedangkan Rasti pura-pura tidak menghiraukan ucapan Arga.

"Di catat apa saja yang kalian lakukan metodenya jangan diam aja, pada lelet banget deh!" Ucap Anjani.

25 orang yang melakukan praktek hanya mendengarkan dan fokus dalam pekerjaannya terlepas dari ucapan Anjani.

*AFTER YOU*
SesiSafitriLiani

AFTER YOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang