"BERANI SEKALI KAMU!" Suara Jodi menggema keras di seluruh ruangan BK, memantul di dinding-dinding sempit hingga membuat suasana semakin menyesakkan.
"BAPAK DIAM!" Zura berdiri mendadak dari kursinya. Tangannya terangkat, jarinya menunjuk lurus ke arah Jodi dengan gemetar yang dipenuhi amarah. Semua orang di ruangan itu terkejut, tak ada yang menyangka gadis yang sejak tadi menahan tangis kini berani membentak seorang pria dewasa. "Saya sudah berusaha sabar berbicara di sini, Pak!" suara Zura bergetar, namun tegas. "Tapi bapak dan anak bapak terus meremehkan apa yang saya alami!"
Bu Asih segera bangkit dan menghampiri Zura. "Zura... sabar, Nak. Duduk dulu," ucapnya lembut sambil mencoba menuntun bahu Zura. Namun Zura menepis pelan. Matanya masih terkunci pada Jodi.
"Saya sebagai korban sangat tidak terima dengan pengakuan anak bapak dan bapak sendiri," lanjut Zura dengan napas terengah. "Bapak tahu peribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya? Saya baru benar-benar melihat artinya hari ini."
Jodi ikut berdiri. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras. "Kamu masih kecil! Belum pantas menceramahi saya!"
Zura tertawa singkat, tawa getir yang penuh kelelahan dan frustasi. Bu Asih semakin panik, mencoba berdiri di antara mereka. "Pak Jodi, mohon jaga perkataan Bapak," ujar Bu Asih tegas. "Silakan duduk kembali."
Namun suasana sudah terlanjur panas. Deri berdiri, diikuti Zefan yang ikut bangkit dari kursinya. Udara di ruangan itu terasa semakin berat. "Saya tidak terima, Bu!" Jodi menunjuk Zefan dengan kasar. "Anak saya dipukul sampai masuk rumah sakit! Hampir kehilangan nyawa karena dia!"
Zefan tersenyum tipis, senyum dingin tanpa sedikit pun penyesalan.
"Masih untung," ucapnya datar, "saya nggak langsung kirim dia ke neraka."
"Kurang ajar!" Jodi mengangkat tangannya, berniat menampar Zefan.
Namun Deri bergerak lebih cepat. Tangannya mencengkeram pergelangan Jodi dengan kuat, menghentikannya di udara. "Jangan coba-coba sentuh anak saya," ujar Deri dengan suara rendah namun penuh ancaman, lalu menghempaskan tangan Jodi. "Saya justru bangga dengan perbuatan anak saya. Dia menyelamatkan masa depan seorang perempuan." Deri menatap Jodi tajam. "Yang seharusnya malu itu bapak. Saya bisa menuntut bapak dan anak bapak. Bukti ada. Saksi ada. Saya tidak takut."
Beberapa guru BK lain masuk dan berusaha menenangkan suasana. Namun Jodi masih meluap-luap. "Saya akan tuntut sekolah ini!" teriaknya. "Sekolah ini membiarkan preman seperti dia bersekolah di sini!"
Bu Asih terlihat sangat panik. "Pak Jodi, mohon tenang. Tolong, kita bicarakan baik-baik—"
"Tolong berhenti." Sebuah suara berat namun berwibawa memotong keributan itu. Seorang pria paruh baya masuk ke ruangan BK. Semua orang seketika terdiam. Pak Robi, kepala sekolah SMA Bunga Bangsa.
Ia melangkah masuk dengan tenang, lalu tersenyum ramah ke arah Deri dan menjabat tangannya. "Maaf, Der. Duduk dulu." Deri mengangguk dan kembali duduk, meski sorot matanya masih keras.
"Perkenalkan," ujar Pak Robi sambil menatap semua yang hadir, "nama saya Robi, kepala sekolah SMA Bunga Bangsa. Saya sudah mengetahui kronologis kejadian ini secara lengkap." Ia menarik napas dalam sebelum melanjutkan. "Dan pihak sekolah telah mengambil keputusan. Untuk saudara Zefan, sekolah sudah menjatuhkan hukuman skorsing selama satu minggu." Zura menunduk. Dadanya terasa sesak. "Sedangkan untuk saudara Rega," suara Pak Robi mengeras, "pihak sekolah sepakat, Rega dikeluarkan dari SMA Bunga Bangsa."
Wajah Rega seketika menegang. Jodi, ayahnya, menunjukkan ekspresi yang jelas-jelas tidak terima. Pikiran Jodi langsung dipenuhi satu hal, bagaimana masa depan anaknya jika dikeluarkan dari sekolah, terlebih Rega tinggal selangkah lagi menuju kelulusan. Dengan status seperti itu, hampir mustahil ada sekolah lain yang mau menerimanya. "Apa maksud Bapak?!" Jodi membentak. "Kenapa anak saya dikeluarkan?! Anak saya dipukul sampai hampir meninggal!"
KAMU SEDANG MEMBACA
A&Z
Teen Fiction"Lo cantik, lo harus jadi cewek gue." "Cowok gila!" Ini kisah tentang si A dan si Z, yang penuh dengan tantangan dan rintangan, penuh air mata dan kebahagiaan
