Zefan menghentikan motornya di sebuah ruas jalan yang sunyi. Lampu-lampu jalan berjajar jarang, menerangi aspal yang kosong dan dingin. Ia memarkir motornya di pinggir jalan. Helm dilepas. Zefan menunduk, meletakkan kepalanya di atas helm yang ia taruh di motornya. Napasnya tertahan sesaat. Kepalanya terasa berat, berdenyut. Seluruh tubuhnya remuk, bukan hanya karena pukulan dan jatuh tadi, tapi juga karena luka-luka lama yang kembali terbuka.
Pengakuan Sena terngiang lagi di kepalanya, berulang, tanpa ampun. Ada rasa bersalah yang menusuk, namun bersamaan dengan itu, kekecewaan terhadap masa lalu tetap bertahan, menolak pergi begitu saja.
"Kenapa lo baru jujur sekarang sih, Na..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar di tengah sepinya malam.
Zefan mengangkat kepala, memutar spion motornya. Pantulan wajahnya membuatnya terdiam. Lebam keunguan menghiasi rahang dan pelipis, darah kering membentuk garis kasar di sudut bibirnya. Ia tampak asing, seperti orang lain yang tak ia kenali.
"Kalo gue balik ke rumah masih begini... ya gue mati," gumamnya getir. "Tapi kalo gue nggak balik... mati juga."
Pusing kembali menyerang. Zefan memejamkan mata, menyandarkan dahinya lagi ke helm. Pikiran tentang besok, sekolah, tatapan orang-orang, pertanyaan yang tak akan berhenti, membuat dadanya semakin sesak.
"Mana besok sekolah," desahnya pelan, seperti keluhan yang tak ditujukan pada siapa pun. Dalam diam itu, satu nama menyusup tanpa izin.
Gue kangen lo, Ra.
Ingatan tentang Zura datang begitu saja. Tentang caranya membersihkan luka dengan tangan gemetar tapi hati-hati. Tentang tatapannya yang khawatir namun tetap berusaha tenang. Zefan tersenyum kecil, senyum lelah yang cepat memudar.
Ia ingin berada di sana sekarang. Ingin mengetuk pintu itu. Ingin, untuk sekali saja, ditanya dengan tulus, "Sakit di mana?" Namun semua itu terasa mustahil setelah percakapan mereka di parkiran sekolah. Kata-katanya sendiri menghantam balik ingatannya. Penyesalan muncul, tapi gengsi berdiri lebih tinggi.
Zefan mengeluarkan ponselnya. Jarinya otomatis membuka ruang obrolan Zura. Layar itu kosong. Ia menatapnya lama, seolah menunggu keajaiban. Namun tak satu huruf pun ia ketik. Akhirnya, Zefan menghela napas dan mengunci layar.
"Pengecut," gumamnya pada diri sendiri, entah menujukan pada siapa.
Ia lalu mencari kontak Edgar dan menekan tombol panggil.
"Di mana lo?" suara Zefan terdengar datar.
"Rumah si Leo," jawab Edgar cepat. "Lo di mana, sialan? Ninggalin gitu aja."
"Gue butuh ketenangan dulu," ucap Zefan singkat. "Gue ke sana sekarang."
Ada jeda sejenak di seberang sana, sebelum Edgar berkata, lebih pelan, "Sena masih di sini. Dia masih nangis."
Zefan terdiam. Rahangnya mengeras, dadanya kembali terasa berat. Namun ia tak menjawab. Ia langsung mematikan panggilan itu. Helm kembali ia kenakan. Mesin motor dinyalakan, suaranya memecah kesunyian malam. Zefan menoleh sekilas ke jalan kosong di depannya lalu melaju, meninggalkan sepi, menuju rumah Leo.
Begitu tiba, Zefan memarkirkan motornya di garasi rumah Leo tanpa banyak gerakan. Mesin motor dimatikan, helm dilepas, lalu ia langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
Di ruang tengah, suasana terasa berat. Leo, Edgar, Oki, dan Sam tampak kelelahan. Sena masih duduk di sofa memeluk kedua lututnya. Tangisnya belum juga reda. Matanya membengkak dan merah, hidungnya memerah, rambutnya kusut tak terurus. Ia terlihat seperti seseorang yang telah runtuh berkeping-keping.
"Gue udah berusaha semaksimal mungkin," ucap Leo sambil menoleh ke arah Zefan. Nada suaranya terdengar putus asa, seperti anak kecil yang tak tahu harus berbuat apa lagi. "Tapi dia nggak mau berhenti nangis."
KAMU SEDANG MEMBACA
A&Z
Ficção Adolescente"Lo cantik, lo harus jadi cewek gue." "Cowok gila!" Ini kisah tentang si A dan si Z, yang penuh dengan tantangan dan rintangan, penuh air mata dan kebahagiaan
