Azura dan Zefan masih berdiri saling berhadapan, membeku dalam diam yang menyesakkan. Tatapan mereka bertaut tanpa berkedip, seolah masing-masing menantang siapa yang akan lebih dulu runtuh. Tidak ada yang ingin mengalah kali ini.
"Zefan." Zura melangkah maju satu langkah. Dengan ujung telunjuknya, ia mendorong bahu Zefan pelan namun tegas. "Edsel," lanjutnya sambil mendorong lagi. "Alvaro." Setiap nama yang keluar dari bibir Zura seperti batas tak kasatmata yang ia bangun di antara mereka. Zefan tidak bergerak, hanya menatapnya, membiarkan setiap dorongan itu mendarat di dadanya.
"Stop tertarik sama gue," ucap Zura akhirnya, suaranya bergetar meski berusaha terdengar tegas. "Stop deketin gue. Dan stop care sama gue." Zura menelan ludah, dadanya naik turun.
"Jangan bikin gue ngerasa bersalah... atas perlakuan gue ke lo. Atas rasa hutang budi gue sama lo."
Zefan tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Lo gak perlu ngerasa punya hutang budi sama gue, Azura." Ia sedikit menunduk, menyamakan tinggi mereka, agar bisa menatap wajah Zura dengan lebih jelas. "Dan gue gak pernah, sekalipun, ngejadiin apa yang gue lakuin buat lo sebagai hutang."
Zefan kembali berdiri tegak. Ia menghembuskan napas panjang, seolah sedang mengumpulkan sisa keberanian yang masih ia miliki. "Oke," ucapnya. "Kalo selama gue kenal lo, semua yang gue lakuin malah bikin lo gak nyaman... gue mundur, Ra."
Kata itu. Mundur. Menggores sesuatu di dada Zura. Ia tidak tahu kenapa, tapi dadanya terasa nyeri. Rasa itu asing, namun menyakitkan. Rasa yang sudah lama tidak ia izinkan untuk muncul kembali.
"Mungkin," lanjut Zefan dengan suara lebih pelan, "di hati lo udah ada nama cowok lain."
Zura mengernyit. Cowok? Siapa yang dia maksud?
"Jadi gue bakal berhenti berusaha buat dapetin lo." Zefan tersenyum, senyum terakhir yang lembut dan penuh kepasrahan. "Sorry... and thanks."
Tanpa menunggu balasan, ia mengusap puncak kepala Zura singkat, seperti kebiasaan kecil yang seharusnya tidak ia lakukan lagi. Lalu ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan Zura yang masih mematung di tempatnya berdiri.
Zefan masuk ke dalam mobilnya. Tangannya mencengkeram setir, jemarinya memutih. Dadanya terasa sesak, napasnya tidak beraturan. Matanya memanas, air mata nyaris jatuh, namun ia menahannya dengan keras, bukan karena kuat, melainkan karena terbiasa. Ia menunduk sejenak, mencoba meredam amarah dan sakit yang bercampur jadi satu.
Ini bukan waktu yang tepat untuk hancur.
Mesin mobil dinyalakan. Zefan melajukan kendaraannya meninggalkan pekarangan sekolah. Di kaca spion, ia sempat melihat sosok Zura yang masih berdiri di sana, sendirian, tak bergerak, seperti patung yang ditinggalkan pemiliknya.
Rahang Zefan mengeras. "Gue harus cari tau," gumamnya dingin. "Cowok itu."
•••••
Jalanan sore itu padat bukan main. Deru klakson saling bersahutan, asap knalpot memenuhi udara, dan barisan kendaraan nyaris tak bergerak. Zefan terjebak di tengah kemacetan kota yang terasa semakin menyesakkan. Ia menghela napas panjang, lalu memijat pelipisnya pelan, berusaha meredakan pusing yang sejak tadi berdenyut di kepalanya.
"Ini manusia-manusia mau ke mana sih?" gumamnya kesal. Dua puluh menit berlalu, namun mobilnya belum juga maju lebih dari beberapa meter.
Ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Edgar muncul di layar. Zefan menggeser layar tanpa basa-basi.
"Apa?" tanyanya singkat.
"Gue rasa lo harus ke sini."
Zefan mengernyit. "Ke mana? Rumahn Leo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
A&Z
Teen Fiction"Lo cantik, lo harus jadi cewek gue." "Cowok gila!" Ini kisah tentang si A dan si Z, yang penuh dengan tantangan dan rintangan, penuh air mata dan kebahagiaan
